Jumat, 12 September 2008

Al-Qur'an Dusturuna

Ketika slogan al-Qur'an dusturuna, terealisasi dari diri seseorang maka bersiap-siaplah kemenangan, kebahagian dan segala jenis kebaikan akan berdatangan menghampirinya.
Inti dari kemenangan para sahabat generasi pertama adalah al-qur'an teraplikasi dalam kehidupan setiap diri mereka. Mereka sudah mengimani al-qur'an sebelum turunnya. Sudah mempraktek- kannya sebelum menghafalkannya. Mereka menjadi sangat berkualitas melebihi tampak luarnya.
Mereka menjadi orang-orang yang kuat dengan tampilan yang tak terduga.
Maka tatkala Mesir jatuh ketangan kaum muslimin di bawah pimpinan Amr bin Ash, Orang-orang gagah dan tampan Roma bertekuk lutut dan pulang ke eropa, orang kopty penduduk pribumi yang tak peduli dengan pertempuran, geleng-geleng kepala melihat penampilan kaum muslimin dari Nejed yang berkuda kurus dan berbaju lusuh. Mereka seolah tak percaya, kok bisa masyarakat seperti itu menghentikan ratusan tahun immperialisme Roma di negerinya yang mereka sendiri tak pernah membayangkannya.
Generasi pertama Islam ini yang oleh Sayid Qutub dalam Ma'alim fithariq disebut 'generasi terbaik sepanjang zaman' adalah pribadi-pribadi memukai dengan karakteristik masing-masing yang khas yang tidak menjiplak satu sama lain yang acuannya adalah Rasulullah saw yang sempurna mengaplikasikan al-Qur'an. Sehingga mereka menempati semua posisi dengan akurat, mungkin kepada mereka sanjungan Mutanabi ditujukan" Fain yaku ba'dunnaasi sayfan lidaulati, fafii naasi buuqaatun lahaa watbuulu." Jika sebagian orang-orang itu menjadi pedang bagi negeri, maka diantara mereka itu ada yang menjadi terompet dan gendangnya."

Kamis, 11 September 2008

Hadits Arbain

Adani Blog review

Pendidikan Anak

Anak-anak adalah amanah dari Allah SWT dan Ia sebahagian dari ujian Allah SWT kepada kita hamba-hambaNYA. Firman Allah SWT : "Harta benda dan anak-anak kamu hanyalah menjadi ujian dan di sisi Allah ada pahala yang besar." (QS. At-Taghabun, 64 : 15)

Sebagai ujian, Ia akan dipertanggungjawabkan. Orang yang malang ialah orang yang mempunyai banyak anak tetapi anak-anaknya tidak membawa kebaikan kepadanya di akhirat.

Rasulullah SAW diberitakan telah bersabda : "Tahukah engkau siapakah orang yang mandul?

Berkata para sahabat : "Orang yang mandul ialah orang yang tidak mempunyai anak."

Lalu Rasulullah SAW berkata "Orang yang mandul itu ialah orang yang mempunyai banyak anak tetapi anak-anaknya itu tidak memberi manfaat kepadanya sesudah ia meninggal dunia."

Maksud Al-Hadits, ini mungkin disebabkan beberapa kelalaian dalam mendidik anak-anak.

Kelalaian pertama : Kurang berdoa

A. Kurang berdoa semasa mengandung.

Doa-doa yang digalakkan diamalkan semasa mengandung ialah :

- Saidul (penghulu) Istighfar

- Doa memohon rahmat (QS. Ali Imran, 3 : 8-9)

- Doa memohon zuriat yang baik (QS. Ali Imran, 3 : 38)

- Doa agar anak mengerjakan solat (QS. Ibrahim, 14 : 40-41)

B. Kurang berdoa semasa membesarkan anak.

Doa-doa yang digalakkan diamalkan semasa anak membesar ialah :

- Doa agar anak patuh kepada Allah SWT (QS. Al-Baqarah, 2 : 128)

- Doa diberi zuriat yang menyejukkan hati (QS. Al-Furqan, 25 : 74)

- Doa supaya nama anak membawa kebaikan kepadanya.

Kelalaian kedua : Banyak memberi ajaran tarhib (menakutkan) daripada targhib (dorongan atau motivasi) Ajaran tarhib antara lain seperti :

- menakutkan anak-anak dengan sekolah.

- menakutkan dengan tempat gelap.

- menakutkan dengan hutan rimba atau bukit bukau.

- menggunakan kekerasan dan paksaan waktu menyuruh anak tidur.

Kelalaian ketiga : Tidak tegas dalam mendidik anak-anak.

- tidak menjadualkan kegiatan harian anak-anak

- terlalu memfokuskan anak-anak kepada sesuatu aktiviti saja tanpa mengerti perasaan mereka.

Kelalaian keempat : Menegur anak secara negatif.

- mengeluarkan kata-kata kasar dan makian kepada anak-anak (terutama sewaktu marah).

- membandingkan anak-anak dengan anak-anak lain.

Kelalaian kelima : Memberi didikan yang tidak seimbang antara jasmani, rohani dan intelektual. Pendidikan intelektual lebih dipentingkan daripada pendidikan rohani. Apabila diberikan pendidikan rohani, pendidikan intelektual biasanya diberikan porsi yang lebih besar. Sehingga tidak terjadi keseimbangan.

Kelalaian keenam : Kurang memberi sentuhan kepada semua anak-anak. Rasulullah kerap dilihat mendukung cucu-cucunya dan mencium mereka. Diriwayatkan oleh Aisyah r.a. : 'Pada suatu hari Rasulullah SAW mencium Al-Hassan atau Al-Hussein bin Ali ra. Ketika itu Aqra bin Habis At-Tamimiy sedang berada di rumah baginda.

Berkata Aqra : "Ya Rasulullah! Aku mempunyai sepuluh orang anak, tetapi aku belum pernah mencium seorang pun dari mereka."

Rasulullah melihat kepada Aqra kemudian berkata : "Siapa yang tidak mengasihi tidak akan dikasihi."' (Al-Hadith Riwayat Bukhari dan Muslim)

Kelalaian ketujuh : Penampilan diri yang kurang anggun dan kurang baik.

Orang tua tidak menunjukkan cara berpakaian yang baik dan sesuai syara bila berada di rumah, iaitu berpakaian secara seenaknya atau berpakaian seksi di hadapan anak-anak.

Kelalaian kelapan : Susunan rumah tangga yang tidak baik.

Ini mengakibatkan anak-anak terikut-ikut dengan cara salah seorang dari ibu bapaknya.

Kelalaian kesembilan : Membolehkan orang yang tidak baik perilaku, kesopanan, dan ahlaknya masuk ke dalam rumah kita, baik dari kalangan sahabat sendiri ataupun sahabat anak-anak.

Apabila kelalaian ini terjadi, maka akan memberikan contoh yang tidak baik kepada anak-anak yang sedang dalam pertumbuhan.

Kelalaian kesepuluh : Kurang mengawasi rancangan-rancangan yang ditonton di TV ataupun video.

Pengawasan dalam hal ini adalah penting kerana kebanyakan rancangan dari media ini menonjolkan akhlak yang kurang baik seperti pergaulan bebas lelaki dan perempuan, pakaian yang tidak menepati syara' dan perbualan yang dapat merosak aqidah dan pemikiran anak-anak.

Kelalaian kesebelas : Terlalu bergantung kepada pembantu rumah untuk mendidik anak-anak.

Sebagai ibu bapa kitalah yang akan diminta pertanggungjawaban di akhirat kelak akan anak-anak ini. Oleh itu adalah menjadi satu kepentingan kita untuk berusaha memastikan anak-anak terdidik dengan didikan Islam.

Sumber: light of islam

Rabu, 10 September 2008

Al-Qur'an dusturuna

ketika al-Qur'an dijadikan dustur dalam kehidupan seseorang..

Al-Qur'an Dusturuna

Ketika kita berkomitmen bahwa al-Qur'an adalah dusturuna maka kita resmi menjadi warga negeri dunia dan akhirat. Karena Pemilik dunia dan akhirat ini yang menurunkan Al-Qur'anul Kariim secara Alqoo
.al Muzammil 5........ا. إنا سنلقي عليك قول ثقيلا
maupun Anzal تنزيل الكتاب من الله العزيز الحكي untuk dijadikan petunjuk total jalan kehidupan kita. Peresmian ini ditandai dengan syahadtain yang tulus ikhlas.

Menjadi warga resmi negeri dunia yang bersambung dengan akhirat adalah kemuliaan dan kemenangan. Ketertiban, kesantunan, kedisiplan dan amal yang terbaik menjadi ciri khas warga masyarakat ini. Penderitaan tidak membuat mereka terhina dan kemegahan tidak membuat mereka jumawa. 5

Fitnah Qubur Menurut Al-Qur’an, As-Sunnah, dan Mawqif Para Ulama As-Salafus-Shalih

Abi AbduLLAAH

Prolog

Beberapa waktu yang lalu saya diundang oleh para ikhwah wa akhwat ke Sulawesi Selatan untuk mengisi ceramah berkaitan dengan Azab Qubur, dalam salah satu kesempatan tanya-jawab, ada sesorang ikhwah yang bertanya demikian: “Ustadz, bukankah azab kubur tersebut tidak diindikasikan dalam KitabuLLAAH, ia disebutkan dalam hadits, tapi haditsnya pun ahad, sehingga kedudukan hukumnya dha’if dan tidak dapat dijadikan hujjah?”

Saya terdiam sesaat mendengar pertanyaan tersebut, berpendapat bahwa azab kubur tidak diindikasikan dalam al-Qur’an adalah sebuah masalah, lalu berpendapat hadits ahad tidak dapat dijadikan hujjah adalah masalah yang lebih besar, kemudian berpendapat bahwa hadits ahad adalah dha’if adalah masalah yang jauh lebih besar lagi.

Hal yang sama terjadi lagi saat saya mengisi di Bandung, maka kedua hal ini membuat saya mencoba meneliti berbagai sumber kitab-kitab tafsir yang mu’tabar, kitab-kitab hadits yang shahih dan hasan saja sehingga dapat dijadikan hujjah, serta pendapat para ulama salafus-shalih berkaitan dengan masalah ini, semoga bermanfaat bagi diri ana sendiri dan bagi ikhwah wa akhwat fiLLAAH anggota millist AL-IKHWAN..

Salaam,
Abi AbduLLAAH

Ayat-Ayat Al-Qur’an Yang Berkaitan dengan Adzab Qubur

1. Tafsir QS Ibrahim, XIV/27:

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآَخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُعن البراء بن عازب أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ” المسلم إذا سئل في القبر يشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله فذلك قوله ( يثبت الله الذين آمنوا بالقول الثابت في الحياة الدنيا وفي الآخرة ) وفي رواية عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ( يثبت الله الذين آمنوا بالقول الثابت ) نزلت في عذاب القبر يقال له : من ربك ؟ فيقول : ربي الله ونبيي محمد

Berkaitan dengan ayat: “Sesungguhnya ALLAH meneguhkan bagi orang-orang yang beriman kata-kata yang teguh di kehidupan dunia maupun di akhirat, dan menyesatkan orang yang zhalim, sesungguhnya ALLAH melakukan apa yang dikehendaki-NYA.” (QS Ibrahim, 14/27) [1]. Nabi SAW bersabda: Ketika ditanya di dalam kubur, maka mereka menjawab dengan mengucap syahadah, itulah makna ayat ini. Dalam matan hadits yang lain, Nabi SAW bersabda tentang ayat ini bahwa ia diturunkan tentang azab kubur, ditanya pada seseorang: Siapa RABB-mu? Maka ia menjawab: RABB-ku adalah ALLAH.

2. Tafsir QS At-Taubah, 9/101:

وَمِمَّنْ حَوْلَكُمْ مِنَ الْأَعْرَابِ مُنَافِقُونَ وَمِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ مَرَدُوا عَلَى النِّفَاقِ لَا تَعْلَمُهُمْ نَحْنُ نَعْلَمُهُمْ سَنُعَذِّبُهُمْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ يُرَدُّونَ إِلَى عَذَابٍ عَظِيمٍ

Dalam hadits shahih dikatakan bahwa makna “mereka diazab 2 kali” dalam ayat tersebut salah satunya adalah azab di kubur[2].

3. Tafsir QS Ghafir, 40/46:

النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آَلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ

Dalam hadits shahih dinyatakan bahwa makna api yang didekatkan kepada Fir’aun setiap pagi & sore hari sebelum datangnya Hari Kiamat adalah azab kubur[3].

Hadits-Hadits Shahih Tentang Fitnah Qubur

Hadits-hadits shahih dalam masalah ini amat sangat banyak, diantaranya seperti saat berceramah beliau SAW pernah menceritakan tentang azab kubur, sehingga gaduhlah mereka yang mendengarnya[4].

Demikian pula dari Aisyah ra berkata: “Tidak pernah kulihat Nabi SAW setelah selesai shalat melainkan meminta perlindungan dari azab kubur.[5]” Juga pada saat shalat Kusuf, beliau SAW memerintahkan untuk berlindung dari azab kubur[6]. Dan menurut Imam Nawawi - dalam syarah-nya atas Muslim - ada lebih dari 60 hadits shahih yang marfu’ berkaitan dengan masalah ini.

Hadits-hadits shahih & hasan tentang adzab qubur amatlah banyak, bahkan sebagian ulama muhadditsin menyatakan bahwa hadits-hadits tentang adzab qubur mencapai derajat Mutawattir Ma’nawi.[7] Dengan demikian terbantahlah orang yang mengatakan bahwa azab qubur tidak bisa diterima karena haditsnya adalah hadits ahad[8].

1. Menceritakan/berkhutbah tentang Fitnah Qubur[9]:

قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطِيبًا فَذَكَرَ فِتْنَةَ الْقَبْرِ الَّتِي يَفْتَتِنُ فِيهَا الْمَرْءُ فَلَمَّا ذَكَرَ ذَلِكَ ضَجَّ الْمُسْلِمُونَ ضَجَّةً

2. Berlindung dari Fitnah & Adzab Qubur[10]:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَعَوَّذُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ النَّارِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْقَبْرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْغِنَى وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْفَقْرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

3. Mendoakan orang lain agar selamat dari Adzab Qubur[11]:

سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصَلَّى عَلَى جَنَازَةٍ يَقُولُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَاعْفُ عَنْهُ وَعَافِهِ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِمَاءٍ وَثَلْجٍ وَبَرَدٍ وَنَقِّهِ مِنْ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَقِهِ فِتْنَةَ الْقَبْرِ وَعَذَابَ النَّارِقَالَ عَوْفٌ فَتَمَنَّيْتُ أَنْ لَوْ كُنْتُ أَنَا الْمَيِّتَ لِدُعَاءِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى ذَلِكَ الْمَيِّتِ

4. Memerintahkan Agar Saat Tasyahud Akhir Kita Berlindung dari Adzab Qubur[12]:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” إذا فرغ أحدكم من التشهد الآخر فليتعوذ بالله من أربع من عذاب جهنم ومن عذاب القبر ومن فتنة المحيا والممات ومن شر المسيح الدجال ” . رواه مسلم

5. Termasuk Anak Kecil yang Meninggal Boleh Didoakan Agar Selamat dari Azab Qubur[13]:

وعن سعيد بن المسيب قال : صليت وراء أبي هريرة على صبي لم يعمل خطيئة قط فسمعته يقول : اللهم أعذه من عذاب القبر . رواه مالك

4. Saat Shalat Kusuf Nabi SAW juga Berlindung dari Azab Qubur[14]

Beberapa Masalah Berkaitan dengan Adzab Qubur

1. Mungkinkah orang Mendengar Orang yang Diazab Dikuburnya?

a. Secara Zhahir-nya Semua manusia & Jin Tidak Bisa Mendengarnya, berdasarkan hadits:

إِنَّهُمْ يُعَذَّبُونَ عَذَابًا تَسْمَعُهُ الْبَهَائِمُ …

“Sesungguhnya mereka diazab dengan siksa yang hanya dapat didengar oleh seluruh binatang-binatang…”[15]

b. Tetapi Nabi SAW ternyata dalam beberapa kesempatan bisa mendengarnya dengan izin ALLAH SWT:

لولا أن لا تدافنوا لدعوت الله عز و جل أن يسمعكم ( من ) عذاب القبر

“Jika seandainya aku tidak khawatir kalian meninggal/hilang pendengaran kalian aku akan berdoa agar ALLAH ‘Azza wa Jalla membuat kalian bisa mendengar azab qubur.”[16]

c. Maka jika ALLAH SWT menghendaki maka orang lainpun bisa saja mendengarnya, berdasarkan hadits berikut:

دخل علي رسول الله صلى الله عليه وسلم و أنا في حائط من حوائط بني النجار فيه قبور منهم قد ماتوا في الجاهلية ، فسمعهم و هو يعذبون…

“Masuk kekamarku Nabi SAW dan aku sedang kampung Bani Najjar, disana ada kuburan mereka yang sudah meninggal dimasa jahiliyyah, lalu mereka mendengar suara orang-orang tersebut diazab di dalam kuburnya…”[17]

2. Surat Al-Mulk Bisa Menghindarkan Dari Azab Qubur[18]:

سورة تبارك هي المانعة من عذاب القبر

3. Pembacaan Surat Al-Mulk tersebut Afdhal Dilakukan Tiap Malam[19]:

من قرأ تبارك الذي بيده الملك كل ليلة منعه الله عز وجل بها من عذاب القبر وكنا في عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم نسميها المانعة وإنها في كتاب الله عز وجل سورة من قرأ بها في كل ليلة فقد أكثر وأطاب

4. Orang yang Mati Di Hari Jumat atau di Malam Jumat Diselamatkan dari Adzab Qubur[20]:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” ما من مسلم يموت يوم الجمعة أو ليلة الجمعة إلا وقاه الله فتنة القبر “

5. Orang yang Mati Syahid Diselamatkan dari Azab Qubur[21]:

عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ” كل ميت يختم على عمله إلا الذي مات مرابطا في سبيل الله فإنه ينمى له عمله إلى يوم القيامة ويأمن فتنة القبر “

6. Orang yang Shalih, Dikuburnya Tidak Merasa Takut Terhadap Fitnah Qubur[22]:

أما فتنة الدجال فإنه لم يكن نبي إلا قد حذر أمته و سأحذركموه بحديث لم يحذره نبي أمته إنه أعور و إن الله ليس بأعور مكتوب بين عينيه كافر يقرأه كل مؤمن ; و أما فتنة القبر فبي تفتنون و عني تسألون فإذا كان الرجل الصالح أجلس في قبره غير فزع ثم يقال له : ما هذا الرجل الذي كان فيكم ؟ فيقول : محمد رسول الله جاءنا بالبينات من عند الله فصدقناه فيفرج له فرجة قبل النار فينظر إليها يحطم بعضها بعضا فيقال له : انظر إلى ما وقاك الله ثم يفرج له فرجة إلى الجنة فينظر إلى زهرتها و ما فيها فيقال له : هذا مقعدك منها و يقال له : على اليقين كنت و عليه مت و عليه تبعث إن شاء الله و إذا كان الرجل السوء أجلس في قبره فزعا فيقال له : ما كنت تقول ؟ فيقول : لا أدري فيقال : ما هذا الرجل الذي كان فيكم ؟ فيقول : سمعت الناس يقولون قولا فقلت كما قالوا فيفرج له فرجة من قبل الجنة فينظر إلى زهرتها و ما فيها فيقال له : انظر إلى ما صرف الله عنك ثم يفرج له فرجة قبل النار فينظر إليها يحطم بعضها بعضا و يقال : هذا مقعدك منها على الشك كنت و عليه مت و عليه تبعث إن شاء الله ثم يعذب .

7. Azab Qubur Sebagian Besar Disebabkan Najis yang Tidak Bersih Saat Buang Air Kecil & Ghibah[23]:

أكثر عذاب القبر من البول

Pendapat Para Ulama Salafuna Ash-Shalih Tentang Azab Qubur
1. Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali berkata[24]: “Yang dinamakan fitnah kematian adalah termasuk di dalamnya su’ul-khatimah & fitnah kedua Malaikat saat di dalam kubur, bahwa sesungguhnya manusia diberi cobaan di dalam kuburnya.”

2. Imam As-Suyuthi berkata[25]: “Telah ditakhrij oleh Tirmidzi & di-hasan-kannya, juga oleh Ibnu Abid Dunya, Al-Ajuri dalam Asy-Syari’ah & Al-Baihaqi dalam kitab Azab Al-Qabri dari Abu Hurairah berkata bersabda Nabi SAW : Jika mayit telah dikubur maka datang 2 orang malaikat yang hitam legam, yang satu bernama Munkar & yang satu lagi dinamai Nakir.”

3. Imam Al-Ghazali berkata[26]: “Adapun mengenai azab qubur, maka telah ditunjukkan oleh dalil syariatyang sebagiannya mencapai mutawatir dari Nabi SAW & para sahabat, bahwa mereka berdoa berlindung darinya dan telah masyhur hadits Nabi SAW melewati 2 kuburan yang sedang diazab dan juga telah ditunjukkan oleh dalil Al-Qur’an : Dan telah tetap bagi keluarga Fir’aun azab yang seburuk-buruknya, yaitu api yang dihadapkan padanya tiap pagi & petang hari.”

4. Imam Ibnul Qayyim berkata[27]: “Dan adapun azab kubur adalah benar dan orang-orang yang beriman diberikan cobaan di kubur mereka dan mereka ditanyai (oleh malaikat), tetapi ALLAH SWT meneguhkan lisan siapa yang dikehendaki-NYA mereka untuk bisa menjawab.”

5. Imam Al-Baqilani berkata[28]: “Dalil akan pastinya azab kubur adalah firman ALLAH SWT: Dan barangsiapa yang berpaling dari Al-Qur’an ini maka baginya kehidupan yang sempit. Berkata Abu Hurairah bahwa maksudnya azab kubur, demikian pula sabda Nabi SAW : Kubur itu adalah satu taman dari taman-taman surga atau satu lubang dari lubang-lubang neraka. Demikian pula ayat tentang siksaan bagi Fir’aun, serta hadits doa Nabi SAW untuk dilindungi dari azab kubur.”

6. Imam Al-Baihaqi bahkan menulis satu kitab tersendiri berjudul “Itsbat ‘Azabil Qabr” (Pastinya Azab Kubur).

7. Imam Al-Bukhari-pun menulis dalam kitabnya bab khusus[29] menjelaskan tentang azab kubur, demikian pula Imam Muslim[30], demikian para Imam Ash-habus Sunan sebagaimana dapat dilihat dalam seluruh kitab-kitab hadits mereka.


Catatan Kaki:

[1] HR Bukhari, V/160 & Muslim, XIV/33-34

[2] HR Bukhari, V/159, Bab Ma Ja’a Fi ‘Adzabil Qabri

[3] HR Bukhari, V/159, Bab Ma Ja’a Fi ‘Adzabil Qabri

[4] HR Bukhari, no. 1373

[5] HR Bukhari, no. 1372 dan Muslim, Kitabul Masajid, no. 125-126

[6] HR Bukhari no. 1050 dan Muslim, Kitabul Kusuf, no. 8

[7] Lih. Al-Ayat Al-Bayyinat Fi ‘Adami Sima’il Amwat ‘ala Madzhabil Hanafiyyatis Sadat, I/81, Imam Al-Alusi

[8] Faham seperti ini adalah mazhab Mu’tazilah & telah dibantah oleh Jumhur Ulama, diantaranya dalam tulisan Imam Ibnu Rajab, 1/81 & Ibnul Qayyim, hal. 50

[9] HR Bukhari, V/164, bab Maa Ja’a fi Adzabil Qabri

[10] HR Bukhari, IV/200-202; Muslim, VIII/75; Ibnu Majah, no. 3838; Ahmad, VI/57; Nasa’i, II/315; Tirmidzi, II/263

[11] HR Muslim; III/59; Nasa’I, I/21; Ibnu Majah, no. 1200; Ahmad, VI/23

[12] HR Muslim, III/248

[13] HR Malik, II/192; di-shahih-kan Albani dalam Al-Misykah, I/380

[14] HR Bukhari, IV/168; Muslim, IV/449

[15] HR Bukhari, XIX/455; Muslim, III/243

[16] HR Muslim, VIII/161; Ahmad, III/201; Ibnu Hibban, no. 786; Nasa’i, I/201

[17] HR Ahmad, VI/362; berkata Albani : Shahih berdasarkan syarat Muslim, lih. Ash-Shahihah, III/429

[18] HR Hakim, III/214; Tirmidzi, II/146; Abu Na’im, III/81; Di-shahih-kan oleh Albani, dalam Ash-Shahihah, III/131

[19] HR Nasa’i & Hakim, Di-hasan-kan oleh Albani dalam At-Targhib, II/91

[20] HR Ahmad, no. 6582 & Tirmidzi, dan di-hasan-kan oleh Albani dalam Misykah Al-Mashabih, I/305

[21] HR Tirmidzi, II/3; Abu Daud, I/391; Al-Hakim, II/144 dan Ahmad, VI/20; dan di-shahih-kan oleh Albani dalam Shahih At-Targhib wa Tarhib, II/31

[22] HR As-Suyuthi, no. 2241 & Di-hasan-kan oleh Albani dalam Shahih wa Dha’if Al-Jami’, VI/188

[23] HR Bukhari, V/170, bab Adzabil Qabri minal Ghibati wal Bauli; Ibnu Abi Syaibah, I/24; Ibnu Majah, no. 348; Hakim, I/183; Ahmad, II/326

[24] Ikhtiyar Al-Awla fi Syarhil Haditsi Ikhtisham Al-Mala’il A’la, I/21

[25] Al-Haba’ik fi Akhbaril Mala’ik, I/26

[26] Al-Iqtishad fil I’tiqad, I/68

[27] Ijtima’ al-Juyusy Al-Islamiyyah ‘ala Ghazwil Mu’athilah wal Jahmiyyah, I/27

[28] Al-Inshaf, I/15

[29] Al-Jami’us Shahih, Kitab Al-Jana’iz, Bab Ma Ja’a fi Azab Al-Qabri; lih. Juga syarah-nya dalam Al-Fath, III/232

[30] Shahih Muslim, Bab Istihbab At-Ta’awwudz min ‘Adzabil Qabri, juz III/240


Bulan Al Qur’an

Diantara sebab Ramadhan dijadikan sebagai sayyidus syuhur adalah karena di dalam bulan tersebut teradapat peristiwa yang sangat agung dan mulia; yaitu peristiwa turunnya Al-Qur’an yang membawa petunjuk dan al-Furqan. Allah SWT berfirman :

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

“(beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (Al-Baqoroh : 185)

Ramadhan disebut dengan syahrul Quran (bulan Al-Quran), karena awal diturunkannya Al-Quran adalah pada bulan Ramadhan. Dengan berpedoman pada Al-Quran, niscaya hidup manusia menjadi terarah dan memberi kebahagiaan, kedamaian, ketentraman dan kemakmuran serta keadilan. Bahkan juga dapat memberikan alat filterisasi sehingga mampu membedakan antara yang hak dan bathil, antara yang benar dan yang salah, antara ketaatan dan kemaksiatan, antara hidayah dan kesesatan, antara kebahagiaan dan kesengsaraan hakiki dan antara jalan menuju ridlo Allah dan murka Allah serta jalan menuju surga yang penuh dengan kenikmatan dan jalan menuju neraka yang penuh dengan azab dan kepedihan.

Allah menurunkan Al-Qur’an kepada Rasulullah saw untuk memberi petunjuk kepada manusia. Turunnya Al-Qur’an merupakan peristiwa besar sekaligus menyatakan kedudukannya bagi penghuni langit dan penghuni bumi. Turunnya Al-Qur’an yang pertama kali pada malam lailatul Qodar merupakan pemberitahuan kepada alam tingkat tinggi yang terdiri dari malaikat-malaikat akan kemuliaan umat Nabi Muhammad saw. Umat ini telah dimuliakan oleh Allah dengan risalah baru agar menjadi umat yang paling baik yang dikeluarkan bagi manusia.

Sedangkan turunnya Al-Qur’an yang kedua kali secara bertahap, berbeda dengan kitab-kitab yang turun sebelumnya; sebagai penguat akan risalah nabi dan penghibur jiwa beliau terhadap cobaan dan rintangan yang dihadapi serta selalu mengikuti peristiwa dan kejadian-kejadian sampai Allah menyempurnakan agama ini dan mencukupkan nikmat-Nya.

Karena itu dalam Al-Qur’an seringkali kita mendengar bulan ramadhan sebagai bulan barokah; karena Al-Qur’an diturunkan pada bulan tersebut yang memberikan keberkahan di malam keberkahan. Allah berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ. فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيم. أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَا إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ . رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan Sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah; (yaitu) urusan yang besar dari sisi kami. Sesungguhnya Kami adalah yang mengutus rasul-rasul, sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui”. (Ad-Dukhan:3-6)

Allah juga berfirman; bahwa Al-Qur’an diturunkan pada malam kemuliaan; lailatul Qodar, sehingga jika seorang hamba melakukan ibadah tepat pada malam tersebut mendapatkan ganjaran sebanding dengan ibadah selama seribu bulan (kurang lebih 83 tahun). [1]

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ. وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ . لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ. تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ . سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْر

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar”. (Al-Qadr:1-5)

Namun, seringkali kita, sebagai kaum muslimin tidak menyadari akan kemuliaan dan keutamaan Al-Quran, sehingga tidak sedikit mereka yang jauh dari Al-Qur’an, mulai dari jauh dalam bentuk tidak bisa membacanya, bisa membaca tapi tidak rajin membacanya, rajin membacanya tapi tidak memahaminya, memahaminya tapi tidak mengamalkannya, mengamalkannya tapi baru untuk dirinya sendiri namin belum mampu mengajak orang lain untuk mengamalkannya.

Begitupun dari sebagian umat ada yang hanya menjadikan dan menganggap Al-Qur’an sebagai kitab suci yang wajib dihormati sehingga diletakkan dari tempat yang jauh dari kotor dan najis, atau diletakkan di tempat yang tinggi sehingga jauh dari jamahan anak-anak dan tidak mudah dijadikan mainan, dan saking tingginya orang tuapun akhirnya malas mengambilnya untuk dibaca. Anggapan tersebut memang tidak keliru namun yang harus difahami lebih mendalam adalah, bagaimana selain menganggapnya sebagai kitab suci tapi juga berusaha menjadikannya sebagai sarana untuk mensucikan dirinya dari segala dosa dan maksiat. Bukankah dengan membaca Al-Quran berarti dia telah beribadah yang setiap kali dibaca ayat-ayatnya Allah SWT akan melimpahkan pahala dan ganjaran dari setiap huruf yang dikeluarkan oleh lisannya, lalu ganjaran dilipat gandakan menjadi sepuluh kali lipat? Dan Bukankah, dari ibadah yang dilakukan itu akan menghapus dosa-dosa yang pernah dilakukan selama itu bukan dosa besar?

Allah berfirman :

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ

“Sesungguhnya Kebaikan-kebaikan (ketaatan) itu akan menghapus dosa-dosa”. (Huud:114)

Rasulullah saw bersabda:

اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertaqwalah kepada Allah di mana saja kamu berada, dan iringilah perbuatan buruk itu dengan perbuatan yang baik karena ia bisa menghapusnya (HR. Turmudzi)

Jawabannya tentu memang demikian. Membaca Al-Quran adalah ibadah, dan oleh karena ibadah merupakan suatu kebaikan maka secara tidak langsung dapat menghapus dosa-dosa, selama dosa berasal dari dosa kecil.

Oleh karena itu sebagai bulan Al-Quran, Ramadhan mengingatkan dan mengetuk hati kita untuk memperkokoh komitmen kepadanya. Bila ramadhan tiba, kita tingkatkan interaksi kita dengan Al-Quran, membacanya dan berusaha memahami dan menelaah makna-makna yang terkandung dalam ayat-ayatnya; baik dengan membaca tafsirnya, terjemahannya atau mengikuti kajian-kajian Al-Quran yang marak diadakan di masjid-masjid atau di lembaga-lembaga yang memiliki perhatian terhadap ajaran keislaman.

Dan ketika bulan ramadhan berakhir indikasi keberhasilan ramadhan yang dilalui adalah dengan adanya komitmen kepada Al-Quran yang semakin kuat, karena Al-Quran berfungsi sebagai petunjuk dan al-furqon dalam menilai sesuatu; untuk dapat membedakan antara yang Hak (benar) dan yang bathil (salah), seperti firman Allah yang telah disebutkan diatas.

“Bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan Al Qur’an sebagai petunjuk (hudan) bagi manusia, penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu (bayyinat) dan pembeda / furqan (antara haq dengan bathil)” (QS. Al Baqarah [2] : 185).

Ayat diatas menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan oleh Allah Maha Pengasih sebagai petunjuk bagi manusia yang mengimaninya, merupakan argumentasi-argumentasi yang jelas dan gamblang bagi mereka yang memahaminya. Al-Qur’an juga merupakan pembeda antara haq dengan bathil, halal dengan haram. [2]

Allah SWT telah menurunkan kepada kita Al-Qur’an di bulan Ramadhan. Allah memberi petunjuk melalui Al-Qur’an tersebut siapa saja yang mengikutinya dan menyesatkan siapa saja yang menyimpang darinya. Di dalam Al-Qur’an itu terdapat petunjuk, dan penjelas dari petunjuk (berisi keterangan-keterangan tentang hukum), dan pembeda (antara yang haq dan yang batil).

Allah telah mensyariatkan Islam kepada Muhammad SAW. sebagai satu-satunya agama yang benar. Islam adalah agama yang mengatur hubungan manusia dengan Rabb-nya, yang mengatur hubungan dengan dirinya sendiri, dan juga yang mengatur hubungannya dengan sesama makhluk baik manusia maupun lingkungan lainnya. Aktivitas menerapkan wahyu yang diturunkan, termasuk penerapan hukum-hukum syariat (Islam) secara total dalam berbagai aspek kehidupan manusia (individu, kelompok, maupun negara) merupakan penyebab hakiki terwujudnya kemuliaan Islam dan kaum Muslimin. Di dalam penerapan syariat Islam itulah terdapat keagungan dan kewibawaan mereka di depan musuh-musuhnya. Allah berfirman yang artinya:

وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُون

“Padahal kekuatan (kemuliaan) itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang Mukmin. Akan tetapi, orang-orang munafik itu tiada mengetahui”. (Al-Munafiqun:8).

disadari atau tidak, orang-orang kafir sudah mengetahui bahwa sumber kekuatan umat Islam adalah Al-Qur’an; selama Al-Qur’an masih dipegang kuat oleh umat Islam maka akan sulit dan mustahil dikalahkan. Karena itulah Allah menceritakan bahwa orang-orang kafir berkata:

لَا تَسْمَعُوا لِهَذَا الْقُرْآَنِ وَالْغَوْا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُونَ

“Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al Quran ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan mereka”. (Fushilat:26)

Sebaliknya, jauhnya kaum Muslimin dari Islam dan hukum-hukumnya merupakan penyebab hakiki akan kelemahan, ketertinggalan, dan kenestapaan mereka. Allah SWT berfirman :

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

“Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku, sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta. (Thaha : 124).

Berbagai krisis yang menimpa dan mengepung berbagai negeri dan di berbagai belahan dunia; sejak beberapa tahun lalu hingga sekarang merupakan sebaik-baik argumen tentang hal itu.

Seharusnya umat Islam sadar bahwa Islam bukanlah semata-mata sebagai syiar-syiar dan ibadah ritual belaka, namun merupakan agama sempurna yang meliputi akidah, syariat, hukum, politik, dan risalah ke seluruh dunia. Dan di dalam penerapan syariat Islam terdapat keagungan dan kewibawaan mereka di depan musuh-musuhnya. Dan kaum Muslimin juga seharusnya sadar akan kewajiban dirinya untuk menegakkan Khilafah Islam secara total, mulai dari individu, keluarga, masyarakat hingga daulah (negara).


Abu Ahmad
___________________________________

[1]. Lihat: Studi ilmu-ilmu Al-Qru’an, hal.144]

[2]. Tafsirul Quranil ‘Azhim, I, hal. 269