Rabu, 10 September 2008

Bulan Al Qur’an

Diantara sebab Ramadhan dijadikan sebagai sayyidus syuhur adalah karena di dalam bulan tersebut teradapat peristiwa yang sangat agung dan mulia; yaitu peristiwa turunnya Al-Qur’an yang membawa petunjuk dan al-Furqan. Allah SWT berfirman :

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

“(beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (Al-Baqoroh : 185)

Ramadhan disebut dengan syahrul Quran (bulan Al-Quran), karena awal diturunkannya Al-Quran adalah pada bulan Ramadhan. Dengan berpedoman pada Al-Quran, niscaya hidup manusia menjadi terarah dan memberi kebahagiaan, kedamaian, ketentraman dan kemakmuran serta keadilan. Bahkan juga dapat memberikan alat filterisasi sehingga mampu membedakan antara yang hak dan bathil, antara yang benar dan yang salah, antara ketaatan dan kemaksiatan, antara hidayah dan kesesatan, antara kebahagiaan dan kesengsaraan hakiki dan antara jalan menuju ridlo Allah dan murka Allah serta jalan menuju surga yang penuh dengan kenikmatan dan jalan menuju neraka yang penuh dengan azab dan kepedihan.

Allah menurunkan Al-Qur’an kepada Rasulullah saw untuk memberi petunjuk kepada manusia. Turunnya Al-Qur’an merupakan peristiwa besar sekaligus menyatakan kedudukannya bagi penghuni langit dan penghuni bumi. Turunnya Al-Qur’an yang pertama kali pada malam lailatul Qodar merupakan pemberitahuan kepada alam tingkat tinggi yang terdiri dari malaikat-malaikat akan kemuliaan umat Nabi Muhammad saw. Umat ini telah dimuliakan oleh Allah dengan risalah baru agar menjadi umat yang paling baik yang dikeluarkan bagi manusia.

Sedangkan turunnya Al-Qur’an yang kedua kali secara bertahap, berbeda dengan kitab-kitab yang turun sebelumnya; sebagai penguat akan risalah nabi dan penghibur jiwa beliau terhadap cobaan dan rintangan yang dihadapi serta selalu mengikuti peristiwa dan kejadian-kejadian sampai Allah menyempurnakan agama ini dan mencukupkan nikmat-Nya.

Karena itu dalam Al-Qur’an seringkali kita mendengar bulan ramadhan sebagai bulan barokah; karena Al-Qur’an diturunkan pada bulan tersebut yang memberikan keberkahan di malam keberkahan. Allah berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ. فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيم. أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَا إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ . رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan Sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah; (yaitu) urusan yang besar dari sisi kami. Sesungguhnya Kami adalah yang mengutus rasul-rasul, sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui”. (Ad-Dukhan:3-6)

Allah juga berfirman; bahwa Al-Qur’an diturunkan pada malam kemuliaan; lailatul Qodar, sehingga jika seorang hamba melakukan ibadah tepat pada malam tersebut mendapatkan ganjaran sebanding dengan ibadah selama seribu bulan (kurang lebih 83 tahun). [1]

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ. وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ . لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ. تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ . سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْر

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar”. (Al-Qadr:1-5)

Namun, seringkali kita, sebagai kaum muslimin tidak menyadari akan kemuliaan dan keutamaan Al-Quran, sehingga tidak sedikit mereka yang jauh dari Al-Qur’an, mulai dari jauh dalam bentuk tidak bisa membacanya, bisa membaca tapi tidak rajin membacanya, rajin membacanya tapi tidak memahaminya, memahaminya tapi tidak mengamalkannya, mengamalkannya tapi baru untuk dirinya sendiri namin belum mampu mengajak orang lain untuk mengamalkannya.

Begitupun dari sebagian umat ada yang hanya menjadikan dan menganggap Al-Qur’an sebagai kitab suci yang wajib dihormati sehingga diletakkan dari tempat yang jauh dari kotor dan najis, atau diletakkan di tempat yang tinggi sehingga jauh dari jamahan anak-anak dan tidak mudah dijadikan mainan, dan saking tingginya orang tuapun akhirnya malas mengambilnya untuk dibaca. Anggapan tersebut memang tidak keliru namun yang harus difahami lebih mendalam adalah, bagaimana selain menganggapnya sebagai kitab suci tapi juga berusaha menjadikannya sebagai sarana untuk mensucikan dirinya dari segala dosa dan maksiat. Bukankah dengan membaca Al-Quran berarti dia telah beribadah yang setiap kali dibaca ayat-ayatnya Allah SWT akan melimpahkan pahala dan ganjaran dari setiap huruf yang dikeluarkan oleh lisannya, lalu ganjaran dilipat gandakan menjadi sepuluh kali lipat? Dan Bukankah, dari ibadah yang dilakukan itu akan menghapus dosa-dosa yang pernah dilakukan selama itu bukan dosa besar?

Allah berfirman :

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ

“Sesungguhnya Kebaikan-kebaikan (ketaatan) itu akan menghapus dosa-dosa”. (Huud:114)

Rasulullah saw bersabda:

اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertaqwalah kepada Allah di mana saja kamu berada, dan iringilah perbuatan buruk itu dengan perbuatan yang baik karena ia bisa menghapusnya (HR. Turmudzi)

Jawabannya tentu memang demikian. Membaca Al-Quran adalah ibadah, dan oleh karena ibadah merupakan suatu kebaikan maka secara tidak langsung dapat menghapus dosa-dosa, selama dosa berasal dari dosa kecil.

Oleh karena itu sebagai bulan Al-Quran, Ramadhan mengingatkan dan mengetuk hati kita untuk memperkokoh komitmen kepadanya. Bila ramadhan tiba, kita tingkatkan interaksi kita dengan Al-Quran, membacanya dan berusaha memahami dan menelaah makna-makna yang terkandung dalam ayat-ayatnya; baik dengan membaca tafsirnya, terjemahannya atau mengikuti kajian-kajian Al-Quran yang marak diadakan di masjid-masjid atau di lembaga-lembaga yang memiliki perhatian terhadap ajaran keislaman.

Dan ketika bulan ramadhan berakhir indikasi keberhasilan ramadhan yang dilalui adalah dengan adanya komitmen kepada Al-Quran yang semakin kuat, karena Al-Quran berfungsi sebagai petunjuk dan al-furqon dalam menilai sesuatu; untuk dapat membedakan antara yang Hak (benar) dan yang bathil (salah), seperti firman Allah yang telah disebutkan diatas.

“Bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan Al Qur’an sebagai petunjuk (hudan) bagi manusia, penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu (bayyinat) dan pembeda / furqan (antara haq dengan bathil)” (QS. Al Baqarah [2] : 185).

Ayat diatas menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan oleh Allah Maha Pengasih sebagai petunjuk bagi manusia yang mengimaninya, merupakan argumentasi-argumentasi yang jelas dan gamblang bagi mereka yang memahaminya. Al-Qur’an juga merupakan pembeda antara haq dengan bathil, halal dengan haram. [2]

Allah SWT telah menurunkan kepada kita Al-Qur’an di bulan Ramadhan. Allah memberi petunjuk melalui Al-Qur’an tersebut siapa saja yang mengikutinya dan menyesatkan siapa saja yang menyimpang darinya. Di dalam Al-Qur’an itu terdapat petunjuk, dan penjelas dari petunjuk (berisi keterangan-keterangan tentang hukum), dan pembeda (antara yang haq dan yang batil).

Allah telah mensyariatkan Islam kepada Muhammad SAW. sebagai satu-satunya agama yang benar. Islam adalah agama yang mengatur hubungan manusia dengan Rabb-nya, yang mengatur hubungan dengan dirinya sendiri, dan juga yang mengatur hubungannya dengan sesama makhluk baik manusia maupun lingkungan lainnya. Aktivitas menerapkan wahyu yang diturunkan, termasuk penerapan hukum-hukum syariat (Islam) secara total dalam berbagai aspek kehidupan manusia (individu, kelompok, maupun negara) merupakan penyebab hakiki terwujudnya kemuliaan Islam dan kaum Muslimin. Di dalam penerapan syariat Islam itulah terdapat keagungan dan kewibawaan mereka di depan musuh-musuhnya. Allah berfirman yang artinya:

وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُون

“Padahal kekuatan (kemuliaan) itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang Mukmin. Akan tetapi, orang-orang munafik itu tiada mengetahui”. (Al-Munafiqun:8).

disadari atau tidak, orang-orang kafir sudah mengetahui bahwa sumber kekuatan umat Islam adalah Al-Qur’an; selama Al-Qur’an masih dipegang kuat oleh umat Islam maka akan sulit dan mustahil dikalahkan. Karena itulah Allah menceritakan bahwa orang-orang kafir berkata:

لَا تَسْمَعُوا لِهَذَا الْقُرْآَنِ وَالْغَوْا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُونَ

“Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al Quran ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan mereka”. (Fushilat:26)

Sebaliknya, jauhnya kaum Muslimin dari Islam dan hukum-hukumnya merupakan penyebab hakiki akan kelemahan, ketertinggalan, dan kenestapaan mereka. Allah SWT berfirman :

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

“Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku, sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta. (Thaha : 124).

Berbagai krisis yang menimpa dan mengepung berbagai negeri dan di berbagai belahan dunia; sejak beberapa tahun lalu hingga sekarang merupakan sebaik-baik argumen tentang hal itu.

Seharusnya umat Islam sadar bahwa Islam bukanlah semata-mata sebagai syiar-syiar dan ibadah ritual belaka, namun merupakan agama sempurna yang meliputi akidah, syariat, hukum, politik, dan risalah ke seluruh dunia. Dan di dalam penerapan syariat Islam terdapat keagungan dan kewibawaan mereka di depan musuh-musuhnya. Dan kaum Muslimin juga seharusnya sadar akan kewajiban dirinya untuk menegakkan Khilafah Islam secara total, mulai dari individu, keluarga, masyarakat hingga daulah (negara).


Abu Ahmad
___________________________________

[1]. Lihat: Studi ilmu-ilmu Al-Qru’an, hal.144]

[2]. Tafsirul Quranil ‘Azhim, I, hal. 269

1 komentar:

faisol mengatakan...

terima kasih sharing info/ilmunya...
saya membuat tulisan tentang "Benarkah Kita Hamba Allah?"
silakan berkunjung ke:

http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/09/benarkah-kita-hamba-allah-1-of-2.html
(link di atas adalah tulisan ke-1 dr 2 buah link benarkah kita hamba Allah?)

Apakah Allah juga mengakui bahwa kita adalah hamba-Nya?

semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...

salam,
achmad faisol
http://achmadfaisol.blogspot.com/