Sabtu, 13 September 2008

Al-Qur'an Dusturuna revisi


Ketika slogan al-Qur'an dusturuna, terealisasi dari diri seseorang, maka bersiap-siaplah kemenangan, kebahagian dan segala jenis kebaikan akan berdatangan menghampirinya.
Inti dari kemenangan para sahabat generasi pertama adalah al-qur'an teraplikasi dalam kehidupan setiap diri mereka. Mereka sudah mengimani al-qur'an sebelum turunnya. Sudah mempraktekkannya sebelum menghafalkannya. Mereka menjadi sangat berkualitas melebihi tampak luarnya.
Mereka menjadi orang-orang yang luar biasa dengan tampilan yang tak terduga.
Maka tatkala Mesir jatuh ketangan kaum muslimin di bawah pimpinan Amr bin Ash, Orang-orang gagah dan tampan Roma bertekuk lutut dan pulang ke eropa dengan hina, orang Kopty penduduk pribumi yang tak peduli dengan pertempuran, geleng-geleng kepala melihat penampilan kaum muslimin dari Nejed yang berkuda kurus dan berbaju lusuh. Mereka seolah tak percaya, kepada kemampuan mereka menghentikan ratusan tahun immperialisme Roma di negerinya yang mereka sendiri tak pernah membayangkannya akan berakhir.
Generasi pertama Islam ini yang oleh Sayid Qutub dalam Ma'alim fithariq disebut 'generasi terbaik sepanjang zaman' adalah pribadi-pribadi memukai dengan karakteristik masing-masing yang khas yang tidak menjiplak satu sama lain yang acuannya adalah Rasulullah saw yang sempurna mengaplikasikan keseluruhan al-Qur'an. Sehingga mereka menempati semua posisi dengan akurat, kepada mereka sanjungan Mutanabi ditujukan" Fain yaku ba'dunnaasi sayfan lidaulati, fafii naasi buuqaatun lahaa watbuulu." Jika sebagian orang-orang itu menjadi pedang bagi negeri, maka diantara mereka itu ada yang menjadi terompet dan gendangnya.
Lalu kita, akankah menjadi debu beterbangan yang mengganggu penglihatan para pejuang, kemudian berkata " Ini seni berperang!!"

Tidak ada komentar: