Jumat, 26 September 2008

Untuk Para Pengunjung situs ini

Terimakasih atas kunjungannya, semoga blog ini bisa memberikan manfaat, mohon maaf lahir bathin semoga ramadhan 1429 ini bisa membuat kita lebih bermakna dan mencetak kita menjadi insan bertaqwa yang Allah janjikan sebagai insan pemenang, Taqaballahu mini wa minkum syiamana wa syiamakum taqabal minna ya Kariim.

Jumat, 19 September 2008

Tafsir “Khalifah” dengan MetodaTematik

Sumber : Media Isnet

Ada dua bentuk metode penafsiran tematik:

(1) Penafsiran satu surah dalam Al-Quran dengan menjelaskan tujuan-tujuannya secara umum dan khusus atau tema sentral surah tersebut, kemudian menghubungkan ayat-ayat yang beraneka ragam itu satu dengan lain dengan tema sentral tersebut.Metode ini diterapkan pertama kali oleh Al-Syathibi dan dan dikembangkan juga antara lain oleh Mahmud Syaltut.

(2) Menghimpun ayat-ayat Al-Quran yang membahas masalah tertentu dari berbagai surah Al-Quran (sedapat mungkin diurut sesuai dengan masa turunnya, apalagi jika yang dibahas adalah masalah hukum) sambil memperhatikan sebab nuzul, munasabah masing-masing ayat, kemudian menjelaskan pengertian ayat-ayat tersebut yang mempunyai kaitan dengan tema atau pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh penafsiran dalam satu kesatuan pembahasan sampai ditemukan jawaban-jawaban Al-Quran menyangkut tema (persoalan) yang dibahas.

Dalam hal menghimpun ayat-ayat yang berkaitan dengan satu tema, beberapa ulama menekankan bahwa tidak selalu keseluruhan ayat yang berbicara tentang tema tertentu harus dikumpulkan. Boleh saja –kata mereka– ayat-ayat yang diduga keras telah dapat diwakili oleh ayat-ayat lain, tidak lagi diangkat.

Tulisan ini akan mencoba melihat beberapa aspek dari ayat-ayat yang berbicara tentang khalifah dengan menggunakan metode tematik dalam bentuknya yang kedua di atas. Namun, tidak dengan mengangkat seluruh ayat-ayat yang berbicara tentang persoalan ini dalam berbagai redaksinya, karena hal tersebut memerlukan penelitian yang sangat rumit dan waktu yang cukup lama.

Arti Kata Khalifah

Kata khalifah dalam bentuk tunggal terulang dua kali dalam Al-Quran, yaitu dalam Al-Baqarah ayat 30 dan Shad ayat 26.

Ada dua bentuk plural yang digunakan oleh Al-Quran, yaitu:

(a) Khalaif yang terulang sebanyak empat kali, yakni pada surah Al-An’am 165, Yunus 14, 73, dan Fathir 39.(b) Khulafa’ terulang sebanyak tiga kali pada surah-surah. Al-A’raf 7:69, 74, dan Al-Naml 27:62.

Keseluruhan kata tersebut berakar dari kata khulafa’ yang pada mulanya berarti “di belakang”. Dari sini, kata khalifah seringkali diartikan sebagai “pengganti” (karena yang menggantikan selalu berada atau datang di belakang, sesudah yang digantikannya).

Al-Raghib Al-Isfahani, dalam Mufradat fi Gharib Al-Qur’an, menjelaskan bahwa menggantikan yang lain berarti melaksanakan sesuatu atas nama yang digantikan, baik bersama yang digantikannya maupun sesudahnya. Lebih lanjut, Al-Isfahani menjelaskan bahwa kekhalifahan tersebut dapat terlaksana akibat ketiadaan di tempat, kematian, atau ketidakmampuan orang yang digantikan, dan dapat juga akibat penghormatan yang diberikan kepada yang menggantikan.

Tidak dapat disangkal oleh para mufasir bahwa perbedaan bentuk-bentuk kata di atas (khalifah, khalaif, khulafa’) masing-masing mempunyai konteks makna tersendiri, yang sedikit atau banyak berbeda degan yang lain.

Kalau kita bermaksud merujuk kepada Al-Quran untuk mengetahui kandungan makna kata khalifah (karena ayat Al-Quran berfungsi pula sebagai penjelas terhadap ayat-ayat lainnya), maka dari kata khalifah yang hanya terulang dua kali itu serta konteks-konteks pembicaraannya, kita dapat menarik beberapa kesimpulan makna –khususnya dengan memperhatikan ayat-ayat surah Shad yang menguraikan sebagian dari sejarah kehidupan Nabi Daud.

Nabi Daud a.s. sebagaimana diceritakan oleh Al-Quran, berhasil membunuh jalut:

Dan Daud membunuh jalut. Allah memberinya kekuasaan/kerajaan dan hikmah serta mengajarkannya apa yang Dia kehendaki …

Jika demikian, kekhalifahan yang dianugerahkan kepada Daud a.s. bertalian dengan kekuasaan mengelola wilayah tertentu. Hal ini diperolehnya berkat anugerah Ilahi yang mengajarkan kepadanya al-hikmah dan ilmu pengetahuan.

Makna “pengelolaan wilayah tertentu”, atau katakanlah bahwa pengelolaan tersebut berkaitan dengan kekuasaan politik, dipahami pula pada ayat-ayat yang menggunakan bentuk khulafa : (Perhatikan ketiga ayat yang ditunjuk di atas). Ini, berbeda dengan kata khala’if, yang tidak mengesankan adanya kekuasaan semacam itu, sehingga pada akhirnya kita dapat berkata bahwa sejumlah orang yang tidak memiliki kekuasaan politik dinamai oleh Al-Quran khala’if; tanpa menggunakan bentuk mufrad (tunggal). Tidak digunakannya bentuk mufrad untuk makna tersebut agaknya mengisyaratkan bahwa kekhalifahan yang diemban oleh setiap orang tidak dapat terlaksana tanpa bantuan orang lain, berbeda dengan khalifah yang bermakna penguasa dalam bidang politik itu. Hal ini dapat mewujud dalam diri pribadi seseorang atau diwujudkannya dalam bentuk otoriter atau diktator.

Kalau kita kembali kepada ayat Al-Baqarah 30, yang menggunakan kata khalifah untuk Adam as., maka ditemukan persamaan-persamaan dengan ayat yang membicarakan Daud a.s., baik persamaan dalam redaksi maupun dalam makna dan konteks uraian.

Adam juga dinamai khalifah. Beliau, sebagaimana Daud, juga diberi pengetahuan –Wa ‘allama Adam al-asma’ kullaha– yang kekhalifahan keduanya berkaitan dengan Al-Ardha:

Inni ja’il fi al-ardhi khalifah (Adam) dan Ya Daud inna Ja’alnaka khalifatan fi al-ardh (Daud).

Adam dan Daud keduanya digambarkan oleh Al-Quran sebagai pernah tergelincir tetapi diampuni Tuhan. (Baca masing-masing QS 2: 36, 37, dan QS 38:22-25).

Sampai di sini, kita dapat mengambil kesimpulan sementara, yaitu:

(1) Kata khalifah digunakan oleh Al-Quran untuk siapa yang diberi kekuasaan mengelola wilayah, baik luas maupun terbatas. Dalam hal ini Daud (947-1000 S.M.) mengelola wilayah Palestina, sedangkan Adam secara potensial atau aktual diberi tugas mengelola bumi keseluruhannya pada awal masa sejarah kemanusiaan.(2) Bahwa seorang khalifah berpotensi, bahkan secara aktual, dapat melakukan kekeliruan dan kesalahan akibat mengikuti hawa nafsu. Karena itu, baik Adam maupun Daud diberi peringatan agar tidak mengikuti hawa nafsu. (Baca QS 20:16, dan QS 38:261.

Arti Kekhalifahan di Bumi

Muhammad Baqir Al-Shadr, dalam bukunya, Al-Sunan Al-Tarikhiyah fi Al-Qur’an, yang antara lain mengupas ayat 30 Surah Al-Baqarah dengan menggunakan metode tematik, mengemukakan bahwa kekhalifahan mempunyai tiga unsur yang saling kait-berkait. Kemudian, ditambahkannya unsur keempat yang berada di luar, namun amat menentukan arti kekhalifahan dalam pandangan Al-Quran.

Ketiga unsur pertama adalah:

  1. Manusia, yang dalam hal ini dinamai khalifah.
  2. Alam raya, yang ditunjuk oleh ayat Al-Baqarah sebagai ardh.
  3. Hubungan antara manusia dengan alam dan segala isinya, termasuk dengan manusia.

Hubungan ini, walaupun tidak disebutkan secara tersurat dalam ayat di atas, tersirat karena penunjukan sebagai khalifah tidak akan ada artinya jika tidak disertai dengan penugasan atau istikhlaf.

Itulah ketiga unsur yang saling kait-berkait, sedangkan unsur keempat yang berada di luar adalah yang digambarkan oleh ayat tersebut dengan kata inni jail/inna ja’alnaka khalifat yaitu yang memberi penugasan, yakni Allah SWT. Dialah yang memberi penugasan itu dan dengan demikian yang ditugasi harus memperhatikan kehendak yang menugasinya.

Menarik untuk diperbandingkan bahwa pengangkatan Adam sebagai khalifah dijelaskan oleh Allah dalam bentuk tunggal inni (sesungguhnya Aku) dan dengan kata ja’il yang berarti akan mengangkat. Sedangkan pengangkatan Daud dijelaskan dengan menggunakan kata inna (sesungguhnya Kami) dan dengan bentuk kata kerja masa lampau ja’alnaka (Kami telah menjadikan kamu).

Kalau kita dapat menerima kaidah yang menyatakan bahwa penggunaan bentuk plural untuk menunjuk kepada Allah mengandung makna keterlibatan pihak lain bersama Allah dalam pekerjaan yang ditunjuk-Nya, maka ini berarti bahwa dalam pengangkatan Daud sebagai khalifah terdapat keterlibatan pihak lain selain Allah, yakni masyarakat (pengikut-pengikutnya). Adapun Adam, maka di sini wajar apabila pengangkatannya dilukiskan dalam bentuk tunggal, bukan saja disebabkan karena ketika itu kekhalifahan yang dimaksud baru berupa rencana (Aku akan mengangkat) tetapi juga karena ketika peristiwa ini terjadi tidak ada pihak lain bersama Allah yang terlibat dalam pengangkatan tersebut.

Ini berarti bahwa Daud –dan semua khalifah– yang terlibat dengan masyarakat dalam pengangkatannya, dituntut untuk memperhatikan kehendak masyarakat tersebut, karena mereka ketika itu termasuk pula sebagai mustakhlif.

Tidak dikuatirkan adanya perlakuan sewenang-wenang dari khalifah yang diangkat Tuhan itu, selama ia benar-benar menyadari arti kekhalifahannya. Karena, Tuhan sendiri memerintahkan kepada para khalifah-Nya untuk selalu bermusyawarah serta berlaku adil.

Memang, dalam sejarah, terdapat khalifah-khalifah yang berlaku sewenang-wenang dengan alasan bahwa ia adalah wakil Tuhan di bumi. Namun, di sini ia sangat keliru dalam memahami dan mempraktekkan kekhalifahan itu.

Hubungan antara manusia dengan alam atau hubungan manusia dengan sesamanya, bukan merupakan hubungan antara Penakluk dan yang ditaklukkan, atau antara Tuan dengan hamba, tetapi hubungan kebersamaan dalam ketundukan kepada Allah SWT. Karena, kalaupun manusia mampu mengelola (menguasai), namun hal tersebut bukan akibat kekuatan yang dimilikinya, tetapi akibat Tuhan menundukkannya untuk manusia.

Ini tergambar antara lain dalam firman-Nya, pada surah Ibrahim ayat 32 dan Al-Zukhruf ayat 13.

Demikian itu, sehingga kekhalifahan menuntut adanya interaksi antara manusia dengan sesamanya dan manusia dengan alam sesuai dengan petunjuk-petunjuk Ilahi yang tertera dalam wahyu-wahyu-Nya. Semua itu harus ditemukan kandungannya oleh manusia sambil memperhatikan perkembangan dan situasi lingkungannya.

Dalam ayat 32 surah Al-Zukhruf ditegaskan bahwa,

Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhan? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia dan kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain (agar mereka dapat saling mempergunakan). Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.

Adalah keliru, menurut hemat penulis, memahami arti sukhriya sebagai menundukkan. Tetapi, hubungan satu sama lain adalah hubungan al-taskhir, dalam arti semua dalam kedudukan yang sama dan yang membedakan mereka hanyalah partisipasi dan kemampuan masing-masing. Adalah logis apabila yang “kuat” lebih mampu untuk memperoleh bagian yang melebihi perolehan yang lemah.

Ayat di atas mengisyaratkan bahwa keistimewaan tidak dimonopoli oleh suatu lapisan atau bahwa ada lapisan masyarakat yang ditundukkan oleh lapisan yang lain. Karena, jika demikian maknanya, maka ayat tersebut di atas tidak akan menyatakan agar mereka dapat saling mempergunakan.

Ayat di atas menggunakan kata sukhriya bukannya sikhriya, seperti antara lain dalam surah Al-Mu’minun yang menggambarkan ejekan dan tekanan yang dilakukan oleh satu kelompok kuat terhadap kelompok lain yang dinamai oleh Al-Quran mustadh’afin. Ayat yang menjelaskan hubungan interaksi yang diridhai Allah adalah ayat yang menggunakan kata sukhriya.

Al-Baydhawi menafsirkan ayat Al-Zukhruf di atas dengan menyatakan bahwa “Sebagian manusia menjadikan sebagian yang lain secara timbal-balik sebagai sarana guna memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka.”

Inilah prinsip pokok yang merupakan landasan interaksi antar sesama manusia dan keharmonisan hubungan itu pulalah yang menjadi tujuan dari segala etika agama. Keharmonisan hubungan inilah yang menghasilkan etika itsar, sehingga etika agama tidak mengenal prinsip “Anda boleh melakukan apa saja selama tidak melanggar hak orang lain”, tetapi memperkenalkan “Mereka mendahulukan pihak lain atas diri mereka walaupun mereka sendiri dalam kebutuhan.” (QS 59:9)

Di atas juga telah dikemukakan bahwa hanya kemampuan (kekuatan) yang dapat membedakan seseorang dari yang lain, dan dari keistimewaan inilah segala sifat terpuji dapat lahir.

Kesabaran dan ketabahan merupakan etika atau sikap terpuji, karena ia adalah kekuatan, yaitu kekuatan seseorang dalam menanggung beban atau menahan gejolak keinginan negatif. Keberanian merupakan kekuatan karena pemiliknya mampu melawan dan menundukkan kejahatan. Dan kasih sayang dan uluran tangan adalah juga kekuatan; bukankah ia ditujukan kepada orang-orang yang membutuhkan dan lemah?

Demikianlah segala macam sikap terpuji atau etika agama.

Benar bahwa semakin kokoh hubungan manusia dengan alam raya dan semakin dalam pengenalannya terhadapnya, akan semakin banyak yang dapat diperolehnya melalui alam itu. Namun, bila hubungan itu sampai disitu, pastilah hasil lain yang dicapai hanyalah penderitaan dan penindasan manusia atas manusia. Inilah antara lain kandungan pesan Tuhan yang diletakkan dalam rangkaian wahyu pertama.

Sebaliknya, semakin baik interaksi manusia dengan manusia, dan interaksi manusia dengan Tuhan, serta interaksinya dengan alam, pasti akan semakin banyak yang dapat diman faatkan dari alam raya ini. Karena, ketika itu mereka semua akan saling membantu dan bekerjasama dan Tuhan di atas mereka akan merestui. Hal ini terungkap antara lain melalui surah Al-Jin ayat 16:

Dan bahwasanya, jika mereka tetap berjalan lurus di jalan itu (petunjuk petunjuk Ilahi), niscaya pasti Kami akan memberi mereka air segar (rezeki yang melimpah).

Demikian itu dua dari hukum-hukum kemasyarakatan (kekhalifahan) dari sekian banyak hukum kemasyarakatan yang dikemukakan Al-Quran sebagai petunjuk pelaksanaan fungsi kekhalifahan, yang sekaligus menjadi etika pembangunan.

Keharmonisan hubungan melahirkan kemajuan dan perkembangan masyarakat, demikian kandungan ayat di atas. Perkembangan inilah yang merupakan arah yang dituju oleh masyarakat religius yang Islami sebagaimana digambarkan oleh Al-Quran pada akhir surah Al-Fath, yang mengibaratkan masyarakat Islam yang ideal:

… sebagai tanaman yang tumbuh berkembang sehingga mengeluarkan tunasnya dan tunas itu menjadikan tanaman tersebut kuat lalu menjadi besar dan tegak lurus di atas pokoknya . . . (QS 48:29)

Keharmonisan tidak mungkin tercipta kecuali jika dilandasi oleh rasa aman. Karena itu pula, setiap aktivitas istikhlaf (pembangunan) baru dapat dinilai sesuai dengan etika agama apabila rasa aman dan sejahtera menghiasi setiap anggota masyarakat. Dengan kata lain, pembangunan yang dihiasi oleh etika agama adalah “yang mengantar manusia menjadi lebih bebas dari penderitaan dan rasa takut”.

Kalau hal ini dikaitkan dengan kisah kejadian manusia, maka dapat pula dikatakan bahwa keberhasilan pembangunan dalam pandangan agama adalah pada saat manusia berhasil mewujudkan bayang-bayang surga di persada bumi ini.

Adam dan Hawa sebelum diperintahkan turun ke bumi, hidup dalam ketenteraman dan kesejahteraan. Tersedia bagi mereka sandang, pangan, dan papan; dan ketika itu mereka diperingatkan agar jangan sampai terusir dari surga karena akibatnya mereka akan bersusah payah memperolehnya (QS 20:117-119). Mereka juga diharapkan agar mengikuti petunjuk-petunjuk Ilahi, karena dengan demikian mereka tidak akan merasa takut atau merasa sedih.

Agama tidak mendefinisikan perkembangan masyarakat dan tujuan pembangunan sebagai pertambahan barang atau kecepatan pelayanan. Dalam hal ini Nabi saw. bersabda:

Barangsiapa yang tidak berpendapat bahwa Tuhan memiliki anugerah untuknya selain dari makanan, minuman dan kendaraan, maka sesungguhnya ia telah membatasi usahanya dan mempercepat kehadiran ajalnya.

Arah yang dituju oleh istikhlaf adalah kebebasan manusia dari rasa takut, baik dalam kehidupan dunia ini atau yang berkaitan dengan persoalan sandang, pangan dan papan, maupun ketakutan-ketakutan lainnya yang berkaitan dengan masa depannya yang dekat atau yang jauh di akhirat kelak. Ayat-ayat yang berbicara tentang la khawf ‘alayhim wa la hum yahzanun tidak harus selalu dikaitkan dengan ketakutan dan kesedihan di akhirat, tetapi dapat pula mencakup ketakutan dan kesedihan dalam kehidupan dunia ini.

Untuk mencapai rasa aman tersebut, ada sekian banyak sikap yang dituntut oleh agama dari para pemeluknya. Prof. Mubyarto mengemukakan lima hal pokok untuk mencapai hal tersebut:

  1. Kebutuhan dasar setiap masyarakat harus terpenuhi dan ia harus bebas dari ancaman dan bahaya pemerkosaan.
  2. Manusia terjamin dalam mencari nafkah, tanpa harus keterlaluan menghabiskan tenaganya.
  3. Manusia bebas untuk memilih bagaimana mewujudkan hidupnya sesuai dengan cita-citanya.
  4. Ada kemungkinan untuk mengembangkan bakat-bakat dan kemampuannya.
  5. Partisipasi dalam kehidupan sosial politik, sehingga seseorang tidak semata-mata menjadi objek penentuan orang lain.

Di sisi lain harus pula diingat bahwa kekhalifahan seperti telah dikemukakan di atas mengandung arti bimbingan agar setiap makhluk mencapai tujuan penciptaannya.

Lebih jauh dapat ditambahkan bahwa unsur keempat yang disebut di atas, digambarkan oleh Al-Quran dalam dua bentuk:

(1) Penganugerahan dari Allah (Inni jail fi al-ardh khalifah).

(2) Penawaran dari-Nya yang disambut dengan penerimaan dari manusia, sebagaimana yang tergambar dalam surah Al-Ahzab ayat 72:

Sesungguhnya kami menawarkan al-amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, namun mereka semua enggan dan kuatir, lalu (Kami tawarkan kepada manusia) maka mereka pun menerimanya, sesungguhnya mereka sangat aniaya lagi bodoh.

Tentu yang dimaksud dengan kecaman di atas adalah sebagian manusia, dan dengan demikian kita dapat menyimpulkan bahwa dalam tugas kekhalifahan ada yang berhasil dengan baik dan ada pula yang gagal. Kesimpulan ini diperkuat pula oleh isyarat yang tersirat dari jawaban Allah atas pertanyaan malaikat:

Apakah engkau akan menjadikan di sana (bumi) siapa yang merusak dan menumpahkan darah sedang kami bertasbih dan memuji engkau? Tuhan berfirman (menjawab): “Aku tahu apa yang kalian tidak ketahui.” (QS 2:30).

Dari sini kita dapat beralih untuk melihat lebih jauh apa saja sifat-sifat khalifah yang terpuji dan apa pula ruang lingkup tugas-tugas mereka.

Sifat-sifat Terpuji Seorang Khalifah

Al-Tabrasi, dalam tafsirnya, mengemukakan bahwa kata Imam mempunyai makna yang sama dengan khalifah. Hanya saja -katanya lebih lanjut– kata Imam digunakan untuk keteladanan, karena ia terambil dari kata yang mengandung arti “depan” yang berbeda dengan khalifah yang terambil dari kata “belakang”.

Ini berarti bahwa kita dapat memperoleh informasi tentang sifat-sifat terpuji dari seorang khalifah dengan menelusuri ayat-ayat yang menggunakan kata Imam.

Dalam Al-Quran, kata Imam terulang sebanyak tujuh kali dengan makna yang berbeda-beda. Namun, kesemuanya bertumpu pada arti “sesuatu yang dituju dan atau diteladani” Arti-arti tersebut adalah:

(a) Pemimpin dalam kebajikan, yaitu pada Al-Baqarah ayat 124 dan Al-Furqan ayat 74.(b) Kitab amalan manusia, yaitu pada Al-Isra’ ayat 71.

(c) Al-Lawh Al-Mafhuzh, yaitu pada Yasin ayat 12.

(d) Taurat, yaitu pada Hud ayat 17 dan Al-Ahqaf ayat 12.

(e) Jalan yang jelas, yaitu pada Al-Hijr ayat 79.

Dari makna-makna di atas terlihat bahwa hanya dua ayat yang dapat dijadikan rujukan dalam persoalan yang sedang dicari jawabannya ini, yaitu ayat Al-Baqarah 124 yang berbunyi: [tulisan Arab] dan ayat Al-Furqan 74, yang berbunyi: [tulisan Arab].

Ayat yang terakhir ini, sebagaimana terlihat, hanya mengandung permohonan untuk dijadikan Imam (teladan) bagi orang-orang yang bertakwa sehingga tinggal ayat Al-Baqarah yang diharapkan dapat memberikan informasi.

Pada ayat tersebut, Nabi Ibrahim a.s. dijanjikan Allah untuk dijadikan Imam (Inni ja’iluka li al-nas Imama), dan ketika beliau bermohon agar kehormatan ini diperoleh pula oleh anak cucunya, Allah SWT menggarisbawahi suatu syarat, yaitu la yanalu ‘ahdiya al-zhalimin (Janji-Ku ini tidak diperoleh oleh orang-orang yang berlaku aniaya).

Keadilan adalah lawan dari penganiayaan. Dengan demikian, dari ayat di atas dapat ditarik satu sifat, yaitu sifat adil, baik terhadap diri, keluarga, manusia dan lingkungan, maupun terhadap Allah.

Perlu sekali lagi diingatkan bahwa para khalifah yang disebut namanya dalam Al-Quran (Adam dan Daud a.s.) keduanya pernah melakukan penganiayaan, baik terhadap diri maupun terhadap orang lain. Namun, mereka berdua bertobat dan mendapat pengampunan.

Peristiwa Adam dan penyesalannya cukup populer (baca antara lain QS 7:23), sedangkan “penganiayaan” yang dilakukan oleh Daud dapat terlihat pada kisah dua orang yang bertikai dan datang kepadanya meminta putusan (QS 38:22, dan seterusnya).

Menarik untuk dianalisis bahwa kedua orang yang bertikai itu berkata kepada Daud:

Berilah keputusan antara kami dengan hak/adil dan janganlah menyimpang dari kebenaran dan tunjukilah kami ke jalan lurus.

Dari ucapan kedua orang yang bertikai itu (yang pada hakikatnya tidak bertikai tetapi cara yang dilakukan Tuhan untuk memperingatkan Daud), terlihat betapa Tuhan menekankan pentingnya keadilan sampai-sampai permintaan untuk memberi putusan yang hak diikuti lagi dengan peringatan agar tidak menyimpang dari kebenaran yang pada dasarnya mengandung makna yang sama dengan permintaan pertama –bahkan walaupun Daud telah bertobat dan diterima tobatnya (QS 38:24-25). Namun, perintah untuk berlaku adil yang dikaitkan dengan tidak mengikuti hawa nafsu masih tetap ditekankan:

Wahai Daud, Kami telah menjadikan kamu khalifah di bumi, maka berilah putusan antara manusia dengan hak dan janganlah mengikuti hawa nafsu … (QS 38:26)

Memberi keputusan yang adil saja dan tidak mengikuti hawa nafsu, belum memadai bagi seorang khalifah. Tetapi, ia harus mampu pula untuk merealisasikan kandungan permintaan kedua orang yang berselisih itu, yakni Wa ihdina ila sawa’ al-shirath.

Memahami penggalan ayat ini, dalam kaitannya dengan sifat-sifat terpuji seorang khalifah, baru akan menjadi jelas bila dikaitkan dengan ayat-ayat yang berbicara tentang Imam/a’immah, dalam kaitannya dengan pemimpin-pemimpin yang menjadi teladan dalam kebaikan. Untuk maksud tersebut, terlebih dahulu, kita akan membuka lembaran-lembaran Al-Quran untuk melihat ayat-ayat yang dimaksud.

Kata a’immah terdapat dalam lima ayat Al-Quran. Dua di antaranya dalam konteks pembicaraan tentang pemimpin-pemimpin yang diteladani orang-orang kafir, yakni Al-Taubah ayat 9, dan Al-Qashash ayat 4. Sedangkan tiga lainnya berkaitan dengan pemimpin-pemimpin yang terpuji, yaitu Al-Anbiya’ ayat 73, Al-Qashash ayat 5, dan Al-Sajdah ayat 24.

Kalau ayat-ayat di atas diamati, nyatalah bahwa QS 28:5 tidak mengandung informasi tentang sifat-sifat pemimpin. Dan ini berbeda dengan kedua ayat lainnya yang saling melengkapi.

Ada lima sifat pemimpin terpuji yang diinformasikan oleh gabungan kedua ayat tersebut, yaitu:

  1. Yahduna bi amrina.
  2. Wa awhayna dayhim fi’la al-khayrat.
  3. ‘Abidin (termasuk Iqam Al-Shalat dan Ita’Al-Zakat).
  4. Yuqinun.
  5. Shabaru.

Dari kelima sifat tersebut al-shabr (ketekunan dan ketabahan), dijadikan Tuhan sebagai konsideran pengangkatan Wa jaalnahum aimmat lamma shabaru. Seakan-akan inilah sifat yang amat pokok bagi seorang khalifah, sedangkan sifat-sifat lainnya menggambarkan sifat mental yang melekat pada diri mereka dan sifat-sifat yang mereka peragakan dalam kenyataan.

Di atas telah dijanjikan untuk membicarakan arti wa ihdina ila sawa al-shirath (QS 38:26), yang merupakan salah satu sikap yang dituntut dari seorang khalifah, setelah memperhatikan kandungan ayat-ayat yang berbicara tentang a’immat. Dalam surah Shad tersebut, redaksinya berbunyi Wa ihdina ila …, sedang dalam ayat-ayat yang berbicara tentang a’immat yang dikutip di atas, redaksinya berbunyi Yahduna bi amrina. Salah satu perbedaan pokoknya adalah pada kata yahdi. Yang pertama menggunakan huruf ila, sedang yang kedua tanpa ila. Al-Raghib Al-Isfahani menjelaskan bahwa kata hidayat apabila menggunakan ila, maka ia berarti sekadar memberi petunjuk; sedang bila tanpa ila, maka maknanya lebih dalam lagi, yakni “memberi petunjuk dan mengantar sekuat kemampuan menuju apa yang dikehendaki oleh yang diberi petunjuk”. Ini berarti bahwa seorang khalifah minimal mampu menunjukkan jalan kebahagiaan kepada umatnya dan yang lebih terpuji adalah mereka yang dapat mengantarkan umatnya ke pintu gerbang kebahagiaan. Atau, dengan kata lain, seorang khalifah tidak sekadar menunjukkan tetapi mampu pula memberi contoh sosialisasinya.

Hal ini mereka capai karena kebajikan telah mendarah daging dalam diri mereka. Atau, dengan kata lain, mereka memiliki akhlak luhur sebagaimana yang dapat dipahami dari sifat kedua yang disebutkan di atas, yakni Wa awhayna ilayhim fi’la al-khayrat.

Jika seorang berkata, “Yu’jibuni an taqum”, maka ini berarti bahwa lawan bicaranya ketika itu belum berdiri dan ia akan senang melihatnya berdiri. Pengertian ini dipahami dari adanya huruf an pada susunan redaksi tersebut. Sedangkan bila dikatakan, “Yu’jibuni qiyamuka”, maka redaksi yang tidak menggunakan an ini mengandung arti bahwa lawan bicaranya sudah berdiri dan si pembicara menyampaikan kepadanya kekagumannya atas berdirinya itu. Demikian uraian Abdul-Qadir Al-Jurjani yang disederhanakan dari Dala’il Al-Ijaz.

Dari uraian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa seorang khalifah yang ideal haruslah memiliki sifat-sifat luhur yang telah membudaya pada dirinya.

Yuqinun dan ‘abidin merupakan dua sifat yang berbeda. Yang pertama menggambarkan tingkat keimanan yang bersemi di dalam dada mereka, sedangkan yang kedua menggambarkan keadaan nyata mereka. Kedua sifat ini sedemikian jelasnya sehingga tidak perlu untuk diuraikan lebih jauh.

Ruang Lingkup Tugas-tugas Khalifah

Di atas telah diuraikan bahwa seorang khalifah adalah siapa yang diberi kekuasaan mengelola suatu wilayah, baik besar atau kecil. Cukup banyak ayat yang menggambarkan tugas-tugas seorang khalifah. Namun, ada suatu ayat yang bersifat umum dan dianggap dapat mewakili sebagian besar ayat lain yang berbicara tentang hal di atas, yaitu:

Orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi ini, niscaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang munkar … (QS 22:41)

Mendirikan shalat merupakan gambaran dari hubungan yang baik dengan Allah, sedangkan menunaikan zakat merupakan gambaran dari keharmonisan hubungan dengan sesama manusia. Ma’ruf adalah suatu istilah yang berkaitan dengan segala sesuatu yang dianggap baik oleh agama, akal dan budaya, dan sebaliknya dari munkar.

Dari gabungan itu semua, seseorang yang diberi kedudukan oleh Allah untuk mengelola suatu wilayah, ia berkewajiban untuk menciptakan suatu masyarakat yang hubungannya dengan Allah baik, kehidupan masyarakatnya harmonis, dan agama, akal dan budayanya terpelihara.


Rabu, 17 September 2008

episode

Sakit, sehat, senang, gembira adalah eposide yang siapa pun

Selasa, 16 September 2008

Al-Qur'an Dusturuna 3

Dengan slogan"be your self"ada sekelompok orang yang memojokkan kaum muslimin sebagai kaum yang tidak punya identitas karena memaksakan diri menjiplak karakter orang lain dalam hal ini Rasulullah SAW?
Sekedar mereview sejarah, rasulullah adalah pribadi s

Senin, 15 September 2008

Kebenaran dan kebathilan


Ya Allah lembutkan hati kami untuk mencerna kebenaran. Jernihkan bashirah kami untuk melihatnya dan teguh hati kami untuk menggenggamnya, seperih apapun, seberat apapun. Satukan kaum muslimin ini dan persaudarakanlah. Jadikanlah jiwa kami ini jiwa yang saling mencintai. Jauhkan kedengkian, kesombongan dan perasaan benar sendiri.
Ya Allah keraskanlah hati kami untuk menolak kebathilan. Jernihkan bashirah kami untuk melihatnya dan teguhkan hati kami untuk mengingkarinya, senyaman apapun, semenggoda apapun dan semengagumkan apapun tipuannya. Amien Ya Allah Ya Mujibassailin.

Inspirasi Palestina


Kadang kita salah memandang! Kebahagiaan pemulung berbagi makan di gubug kardusnya di anggap bukan kebahagiaan. Kemiskinan memang, tapi tetap kebahagiaan.
Seringkali kita berfikir keberuntungan adalah keselamatan jiwa. Kemudian menganggap para mujahid tak beruntung karena kehilangan nyawa. Tragis memang, tapi mereka beruntung, terpilih menjadi manusia paling bahagia, beristirahat dan bercengkarama di surga , dengan bangga menghitung luka bekas jihad yang dia bawa.

Ya Rabb alirkan al-Qur'an pada setiap pembuluh darah kami.

Saat azan magrib berkumandang ,kita bercanda ria dengan anak-anak dimeja makan, merasakan segarnya minuman berbuka dan lezatnya hidangan, hangatnya suasana dan riangnya keluarga,....
dibelahan bumi yang lain saudara kita sedang berlari menggendong jasad anaknya, tanpa air mata karena memang sudah terkuras tak bersisa. Tanpa jeritan, karena jeritan sudah tak ada guna....Tanpa keluhan !! Bukan karena habis nurani kebapaannya.. Tapi karena kita saudaranya yang habis kepeduliannya. Ramadhan bulan berbagi. Berbagi kebahagiaan, berbagi penderitaan, karena ikhwan kal jasadil wahidan. Allahuma yarham, waj'alna mubarakan wasysyaahidan.

Lailatul Qadar dan Nuzulul Qur'an

Lailatul Qadar adalah nama julukan untuk suatu malam di mana di malam itu Al-Quran diturunkan sepenuhnya dari Lauhil Mahfudz ke langit dunia, secara sekaligus bukan sedikit-sedikit.

Ini adalah masa penurunan (nuzul) Al-Quran fase pertama. Sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Qadar.

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ لَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada lailatul qadar.Dan tahukah kamu apakahlailatul qadaritu? Lailatul qadaritu lebih baik dari seribu bulan.Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS Al-Qadr: 1-5)

Adapun yang seringkali diperingati tiap tanggal 17 Ramadhan itu bukan lailatul qadar, sebab kalau kita kaitkan dengan sabda nabi tentang lailatul qadar, beliau memerintahkan kita untuk menghadangnya di 10 malam terakhir di bulan Ramadhan.

Lalu yang tanggal 17 Ramadhan itu malam apa?

Menurut para ahli sejarah, pada tanggal 17 Ramadhan itulah pertama kali turunnya Al-Quran dari langit dunia ke muka bumi. Jumlahnya hanya 5 ayat saja, yaitu ujung ayat surat Al-'Alaq. Jadi tepatnya malam 17 Ramadhan itu adalah malam awal mula turunnya 5 ayat Quran pertama ke muka bumi dari langit dunia. Tapi bukan lailatul qadar yang nilainya sma dengan seribu bulan.

Syekh Shafiyur Rahman Al-Mubarakfuriy (penulis Sirah Nabawiyah) menyatakan bahwa para ahli sejarah banyak berbeda pendapat tentang kapan waktu pertama kali diturunkannya Al-Qur’an, pada bulan apa dan tanggal berapa, paling tidak ada tiga pendapat :

Pertama: Pendapat yang mengatakan bahwa Nuzulul Qur’an itu ada pada bulan Rabiul Awwal,

Kedua: Pendapat yang mengatakan bahwa Nuzulul Qur’an itu pada bulan Rajab,

Ketiga: Pendapat yang mengatakan bahwa Nuzulul Qur’an itu pada bulan Ramadhan.

Yang berpendapat pada bulan Rabiul Awwal pecah menjadi tiga, ada yang mengatakan awal Rabiul Awwal, ada yang mengatakan tanggal 8 Rabiul Awwal dan ada pula yang mengatakan tanggal 18 Rabiul Awwal (yang terakhir ini diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiallaahu anhu).

Kemudian yang berpendapat pada bulan Rajab terpecah menjadi dua. Ada yang mengatakan tanggal 17 dan ada yang mengatakan tanggal 27 Rajab (hal ini diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallaahu anhu -lihat Mukhtashar Siratir Rasul, Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab An-Najdy, hal.75 -).

Al Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani di dalam Fathul Bari berkata bahwa: Imam Al-Baihaqi telah mengisahkan bahwa masa wahyu mimpi adalah 6(enam) bulan.

Maka berdasarkan kisah ini permulaan kenabian dimulai dengan mimpi shalihah (yang benar) yang terjadi pada bulan kelahirannya yaitu bulan Rabiul Awwal ketika usia beliau genap 40 tahun. Kemudian permulaan wahyu yaqzhah (dalam keadaan terjaga) dimulai pada bulan Ramadhan.

Sesungguhnya kita menguatkan pendapat yang mengatakan bahwa Nuzulul Qur’an ada pada bulan Ramadhan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, artinya,“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an” (Al-Baqarah:185 ). Dan Allah berfirman, artinya, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan” (Al-Qadr :1).

Seperti yang telah kita maklumi bahwa Lailatul Qadr itu ada pada bulan Ramadhan yaitu malam yang dimaksudkan dalam firman Allah yang artinya: “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan” (Ad-Dukhaan:3 ).

Dan karena menyepinya Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam di gua Hira’ adalah pada bulan Ramadhan, dan kejadian turunnya Jibril as adalah di dalam gua Hira’. Jadi Nuzulul Qur’an ada pada bulan Ramadhan, pada hari Senin, sebab semua ahli sejarah atau sebagian besar mereka sepakat bahwa diutusnya beliau menjadi Nabi adalah pada hari Senin. Hal ini sangat kuat karena Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam ketika ditanya tentang puasa Senin beliau menjawab: “Di dalamya aku dilahirkan dan di dalamnya diturunkan (wahyu) atasku” (HR. Muslim).

Dalam sebuah lafadz dikatakan “Itu adalah hari dimana aku dilahirkan dan hari dimana aku diutus atau diturunkan (wahyu) atasku”(HR. Muslim, Ahmad, Baihaqi dan Al-Hakim).

Akan tetapi pendapat ketiga inipun pecah menjadi lima, ada yang mengatakan tanggal 7 (hari Senin), ada yang mengatakan tanggal 14 (hari Senin), ada yang mengatakan tanggal 17 (hari Kamis), ada yang mengatakan tanggal 21 (hari Senin) dan ada yang mengatakan tanggal24 (hari Kamis).

Pendapat ” 17Ramadhan” diriwayatkan dari sahabat Al-Bara’ bin Azib dan dipilih oleh Ibnu Ishaq, kemudian oleh Ustadz Muhammad Huzhari Bik.

Pendapat ” 21Ramadhan” dipilih oleh Syekh Al-Mubarakfuriy, karena Lailatul Qadr ada pada malam ganjil, sedangkan hari Senin pada tahun itu adalah tanggal7 ,14 , 21 dan28 .

Sedangkan pendapat ” 24Ramadhan” diriwayatkan dari Aisyah, Jabir dan Watsilah bin Asqo’ , dan dipilih oleh Ibnu Hajar Al-Haitamiy, ia mengatakan: “Ini sangat kuat dari segi riwayat”.


Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,


Minggu, 14 September 2008

Kapan Al-Quran menjadi Dustur

Sudahkah para lelaki siap berlaku sebagai lelaki sebagaimana para sahabat menantang maut tatkala memperlakukan al-Qur'an sebagai dustur dalam kehidupannya. Sudahkan para ibu merelakan keluarganya, suaminya, anaknya dan kehidupannya bergerak sebagaimana sahabiyah bergerak mengikuti alur al-Qur'an. Sudahkah setiap pribadi bertekad untuk mengaplikasikan al-Qur'an sebagai sesuatu yang realita dalam hidupnya. Bukan sekedar tulisan, naskah kuno atau artikel yang diperbincangkan dibalik meja atau di depan layar televisi untuk sekedar komoditi otak dan kefasihan bicara para tukang debat. Para lelaki masih ketakutan sekedar lecet jari kaki atau merah kulit terbakar sinar hangat matahari untuk melangkah melalui perjalanan dakwah. Para ibu masih lebih khawatir suami kehilangan penghasilannya daripada kehilangan semangat dakwahnya. Lalu kita? Mengkhawatirkan kehilangan segala sesuatu kecuali dakwah. Dakwah yang merupakan sikap nyata mendusturkan al-Qur'an, menjadi begitu murah nilainya. Maka tak heran kitapun menjadi murahan. Tak bernilai dan dilecehkan orang. Relakah kita terus seperti itu,

جهاد فلسطين آمال عظيمة رغم الآلام الجسيمة Jihad of Palestine despite the great hopes of serious pain 2

حصار متواصل(pengepungan yang berkelanjutan) يُشارك فيه القاصي والداني، وتآمر جديد يتحالف فيه القريب مع البعيد، وأعداء جُدد في الداخل لا يقلون شراسة عن أعداء الخارج، وأعباء حياتية إلى جانب التحديات السياسية والأمنية والاقتصادية، وتلاعب ومكر ونفاق على أعلى مستوياته الرسمية، وابتزاز وانتهازية من الفرق البدعية.. قتل وأسر، هرج ومرج، ونار وتضييق ودمار، دون قدرة على نصرة من قريب أو بعيد! ولم يعد هناك مخرج إلا الهروب.. نعم.. الهروب إلى الله، بل الفرار إليه، فهذا هو المخرج أيها المجاهدون والمرابطون: {فَفِرُّوا إلَى اللَّهِ} [الذاريات: 50]ان تواصل

Jihad of Palestine despite the great hopes of serious pain جهاد فلسطين آمال عظيمة رغم الآلام الجسيمة


مقدمة
عد أربعين عاماً على ضياع القدس وأسر الأقصى، وما يقرب من ستين عاماً على اغتصاب اليهود لفلسطين، ونحو تسعين عاماً من احتلال الإنجليز لها، وما يزيد عن قرنٍ ونصف من بداية التآمر عليها، بالتخطيط لما صار يسمى بـ (أزمة الشرق الأوسط)[1]، وبعد تضحيات ضخمة في حروب كبرى فاشلة، وتنازلات فادحة في عمليات (سلام) خاسرة..، بعد كل ذلك؛ هانحن نرى تلك الأزمة تقـف بأطـرافها عنـد طـريـق مغلق وأفـق مسدود، وأمـل لا رجاء به إلا في رحمة الله اللطيف بعباده


[1] Krisis Timur Tengah

Sabtu, 13 September 2008

Al-Qur'an Dusturuna 2

Atap yang Terpelihara



Gambar ini memperlihatkan sejumlah meteor yang hendak menumbuk bumi. Benda-benda langit yang berlalu lalang di ruang angkasa dapat menjadi ancaman serius bagi Bumi. Tapi Allah, Pencipta Maha Sempurna, telah menjadikan atmosfir sebagai atap yang melindungi bumi. Berkat pelindung istimewa ini, kebanyakan meteorid tidak mampu menghantam bumi karena terlanjur hancur berkeping-keping ketika masih berada di atmosfir.

Dalam Al Qur’an, Allah mengarahkan perhatian kita kepada sifat yang sangat menarik tentang langit:

“Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang ada padanya.” (Al Qur’an, 21:32)

Sifat langit ini telah dibuktikan oleh penelitian ilmiah abad ke-20.

Atmosfir yang melingkupi bumi berperan sangat penting bagi berlangsungnya kehidupan. Dengan menghancurkan sejumlah meteor, besar ataupun kecil ketika mereka mendekati bumi, atmosfir mencegah mereka jatuh ke bumi dan membahayakan makhluk hidup.

Atmosfir juga menyaring sinar-sinar dari ruang angkasa yang membahayakan kehidupan. Menariknya, atmosfir hanya membiarkan agar ditembus oleh sinar-sinar tak berbahaya dan berguna, - seperti cahaya tampak, sinar ultraviolet tepi, dan gelombang radio. Semua radiasi ini sangat diperlukan bagi kehidupan. Sinar ultraviolet tepi, yang hanya sebagiannya menembus atmosfir, sangat penting bagi fotosintesis tanaman dan bagi kelangsungan seluruh makhluk hidup. Sebagian besar sinar ultraviolet kuat yang dipancarkan matahari ditahan oleh lapisan ozon atmosfir dan hanya sebagian kecil dan penting saja dari spektrum ultraviolet yang mencapai bumi.


Kebanyakan manusia yang memandang ke arah langit tidak pernah berpikir tentang fungsi atmosfir sebagai pelindung. Hampir tak pernah terlintas dalam benak mereka tentang apa jadinya bumi ini jika atmosfir tidak ada. Foto di atas adalah kawah raksasa yang terbentuk akibat hantaman sebuah meteor yang jatuh di Arizona, Amerika Serikat. Jika atmosfir tidak ada, jutaan meteorid akan jatuh ke Bumi, sehingga menjadikannya tempat yang tak dapat dihuni. Namun, fungsi pelindung dari atmosfir memungkinkan makhluk hidup untuk melangsungkan kehidupannya dengan aman. Ini sudah pasti perlindungan yang Allah berikan bagi manusia, dan sebuah keajaiban yang dinyatakan dalam Al Qur’an.

Fungsi pelindung dari atmosfir tidak berhenti sampai di sini. Atmosfir juga melindungi bumi dari suhu dingin membeku ruang angkasa, yang mencapai sekitar 270 derajat celcius di bawah nol.

Tidak hanya atmosfir yang melindungi bumi dari pengaruh berbahaya. Selain atmosfir, Sabuk Van Allen, suatu lapisan yang tercipta akibat keberadaan medan magnet bumi, juga berperan sebagai perisai melawan radiasi berbahaya yang mengancam planet kita. Radiasi ini, yang terus- menerus dipancarkan oleh matahari dan bintang-bintang lainnya, sangat mematikan bagi makhuk hidup. Jika saja sabuk Van Allen tidak ada, semburan energi raksasa yang disebut jilatan api matahari yang terjadi berkali-berkali pada matahari akan menghancurkan seluruh kehidupan di muka bumi.

Dr. Hugh Ross berkata tentang perang penting Sabuk Van Allen bagi kehidupan kita:

Bumi ternyata memiliki kerapatan terbesar di antara planet-planet lain di tata surya kita. Inti bumi yang terdiri atas unsur nikel dan besi inilah yang menyebabkan keberadaan medan magnetnya yang besar. Medan magnet ini membentuk lapisan pelindung berupa radiasi Van-Allen, yang melindungi Bumi dari pancaran radiasi dari luar angkasa. Jika lapisan pelindung ini tidak ada, maka kehidupan takkan mungkin dapat berlangsung di Bumi. Satu-satunya planet berbatu lain yang berkemungkinan memiliki medan magnet adalah Merkurius - tapi kekuatan medan magnet planet ini 100 kali lebih kecil dari Bumi. Bahkan Venus, planet kembar kita, tidak memiliki medan magnet. Lapisan pelindung Van-Allen ini merupakan sebuah rancangan istimewa yang hanya ada pada Bumi. (http://www.jps.net/bygrace/index. html Taken from Big Bang Refined by Fire by Dr. Hugh Ross, 1998. Reasons To Believe, Pasadena, CA.)

Tafrith dan ,Ifrath

Kesesatan selain penyembahan kepada selain Allah yang akhirnya menjadi melakukan penyembahan kepada selain Allah adalah karena perbuatan Tafrith dan Ifrath.

Kita simak sejarah,

عَنْ عَدِيّ بْن حَاتِم قَالَ : قَالَ لِي رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” إِنَّ الْمَغْضُوب عَلَيْهِمْ :” الْيَهُود”

Dari Ady bin Hatim r.a. berkata : Nabi shalallahu’alaihi wasallam membaca Sesungguhnya Orang-orang yang dimurkai adalah ., “Alyahud (Yahudi)”. [1]

عَنْ عَدِيّ بْن أَبِي حَاتِم , قَالَ : قَالَ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : { وَلَا الضَّالِّينَ } قَالَ : ” النَّصَارَى “

Dari Ady bin Hatim r.a. berkata : Nabi shalallahu’alaihi wasallam membaca ” Dan bukan jalann orang-orang yang sesat”, ia bersabda Nashrani [2]

Kekafiran Yahudi adalah karena mereka mengetahui kebenaran tapi tidak mengamalkannya, baik dengan ucapan maupun perbuatan. Sedangkan kekafiran Nashrani adalah dari sisi amal mereka tanpa ilmu. Mereka berusaha mengamalkan berbagai macam ibadah tanpa syari’at dari Allah. Dan mereka berbicara tentang Allah apa-apa yang tidak mereka ketahui.” [3]

Mereka di sebut pelaku Ifrath dan Tafrith, yakni Ifrath adalah melampaui batas dalam beribadah dan beramal tanpa ilmu. Sedangkan tafrith adalah kebalikannya, yaitu melalaikan dan meremehkan ibadah bahkan menentang Kebenaran yang telah diketahui.

Godaan syaithan melalu dua jalur ini. Pertama, dia mengajak manusia kepada kekufuran dan pengingkaran terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui ilmu dan keilmiahannya, (tafrith). Kemudian jika tidak berhasil maka dia menjerumuskan mereka untuk beramal dan beribadah dengan melampaui batas (ifrath) tanpa ilmu yang menyeretnya kepada perbuatan bid’ah sehingga menyimpang dari jalan yang lurus dan akhirnya membawa mereka kepada kesesatan dan kekufuran. (Lihat Makaidus Syaithan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah)

Gambaran mereka yang tersesat dalam sikap tafrith adalah seperti Yahudi, sedangkan yang tersesat dalam sikap ifrath adalah seperti Nashara.

Yahudi terjerumus dalam sikap tafrith sampai membunuh para Nabi dan mencela Isa bin Maryam ‘alaihis salam hanya karena nafsu dan kedengkian mereka. Sejarah menyebutkan mereka tahu dan sangat mengenal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti mengenal anak mereka sendiri. Mereka mengenal namanya, sifat-sifatnya, dan lain-lain tentangnya, tapi mereka mengingkari dan menentang beliau. Dan bercokolnya mereka di Madinah karena menunggu nubuwah akan kedatangan seorang Rasul di negeri itu.

Allah berfirman : “Padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapatkan kemenangan atas orang-orang kafir. Maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah atas orang-orang yang ingkar.” (QS. Al Baqarah : 89 )

Allah murka dan melaknat Yahudi karena sikap tafrith, mengetahui Al Haq tapi mengingkarinya. Maka Allah mengatakan tentang mereka : Katakanlah : “Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasiq) itu di sisi Allah? Yaitu orang-orang yang dilaknat dan dimurkai oleh Allah dan di antara mereka ada yang dijadikan kera-kera dan babi-babi dan penyembah thaghut.” (QS. Al Maidah : 60 )

Sedangkan Nashrani tersesat dalam sikap ifrath dengan menuhankan Isa dan menyembah pendeta-pendeta. Allah berfirman tentang mereka : “Wahai Ahli Kitab, janganlah kalian melampaui batas (ghuluw) dalam agamamu dan janganlah kalian mengatakan atas (nama) Allah kecuali yang haq. Sesungguhnya Al Masih Isa putra Maryam adalah Rasulullah … .” (QS. An Nisa’ : 171 )

Itulah sikap ifrath (berlebih-lebihan dalam agama) mereka, berbicara tentang Allah dan atas nama Allah tanpa ilmu. Sehingga terucap dari mereka kalimat kufur yang sangat besar yaitu mengatakan bahwa Isa adalah jelmaan Allah atau Isa adalah anak Allah atau Isa, Maryam, dan Allah adalah satu yang tiga, tiga yang satu. Subhanallah, Maha Suci Allah dari apa yang mereka ucapkan!! Allah adalah satu, tidak beranak dan tidak diperanakkan! Maka kafirlah mereka dengan ucapan itu dan gugurlah amalan mereka dan ibadah mereka. Walaupun mereka beribadah kepada Allah dengan khusyu’ dan menangis, berdzikir menyebut nama Allah, dan memujinya dengan ikhlas. Demikianlah orang-orang yang berusaha untuk beribadah kepada Allah tetapi tanpa ilmu akhirnya mereka tersesat dan amalannya sia-sia.

Allah berfirman setelah mengatakan kekafiran orang-orang yang mengatakan bahwa Allah adalah satu dari yang tiga : “Wahai ahli kitab, janganlah kalian berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara yang tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat terdahulu (sebelum kedatangan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam). Mereka menyesatkan kebanyakan (manusia) dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” (QS. Al Maidah : 77 )

Dari beberapa uraian tersebut diatas jelaslah mengapa mereka dimurkai dan dinyatakan sesat. Kenapa juga kita sebagai orang mu’min selalu berdo’a dalam shalatnya “Ihdinash shiraatal Mustaqiim, Shirathal ladzina an’amta ‘alaihiim”, yakni tiada lain untuk terhindar dari dua kelompok yang dmurkai dan yang sesat.


Ibnu Katsir berkata tentang ayat ini : “Al Maghdhub Alaihim adalah orang-orang yang rusak niatnya. Mereka mengetahui Al Haq tapi menyeleweng darinya. Sedang Adh Dhaallin adalah orang-orang yang tidak memiliki ilmu sehingga mereka bingung dalam kesesatan, tidak mendapatkan petunjuk kepada Al Haq, … dan seterusnya.” (Tafsir Ibnu Katsir 1/31-32 )

Tafrih dan ifrath di kalangan kaum muslimin.

Rasulullah mensinyalir kondisi ini dalam suatu hadits dari Ibnu Mas’ud ra, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggaris satu garis dengan tangannya kemudian berkata : “Ini adalah jalan yang lurus.” Kemudian menggaris beberapa garis di kanan dan kirinya, kemudian berkata : “Ini jalan-jalan, tidak ada satu jalan pun daripadanya kecuali ada syaithan yang mengajak kepadanya.” Kemudian membacakan ayat : “Ini jalanku yang lurus maka ikutilah dia dan janganlah mengikuti jalan-jalan (lain) … .” (QS. Al An’am : 153 ) [HR. Ahmad, Ad Darimi, Al Hakim]

Riwayat-riwayat di atas menunjukkan bahwa umat beliau akan berpecah dalam berbagai macam jalan dan yang selamat hanya satu kelompok, tentu saja bukan satu organisasi. Hadits di atas juga menunjukkan bahwa yang selamat adalah mereka yang tetap berada dalam shirathal mustaqim (jalan yang lurus) sedangkan jalan-jalan yang lain adalah jalan-jalan syaithan. Dengan demikian hanya ada dua kemungkinan yaitu mengikuti jalan keselamatan atau jalan kesesatan, mengikuti jalan Allah atau jalan syaithan.

Dalam riwayat dari Abi Said Al Khudri, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa sebagian umat ini akan mengikuti model yahudi dan nashrani. “Pasti kalian akan mengikuti sunnah-sunnah (jalan/kebiasaan) orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal sehasta demi sehasta.” (Muttafaqun Alaihi)

Kita lihat bahwa perpecahan umat ini kita pahami bahwa dalam umat ini pun terdapat dua kesesatan model yahudi dan nashrani sebagai kaum yang dilaknat dan kaum yang sesat. Sufyan bin Uyainah dan para ulama Terdahulu yang Sholeh berkata : “Sesungguhnya orang yang rusak dari ulama kita, maka padanya ada penyerupaan terhadap yahudi. Dan orang yang rusak dari kalangan ahli ibadah kita maka padanya ada penyerupaan dengan nashrani.” [4]

Hadanallahu wa iyyakum ajma’in, wallahu a’lam bishowab

Footnote


[1] lihat : Jami’ul Bayan Imam Ath Thabary Hadist 163

[2] lihat : Jami’ul Bayan Imam Ath Thabary Hadist 173

[3] Iqtidha Shiratil Mustaqim oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah 1/67

[4] Kitab Iqtidha Shirathil Mustaqim oleh Syaikh Islam 1/68

Da'i adalah pekerjaan setiap kita


Dakwah adalah serangkaian aktivitas metodologis (manhaji) untuk mengubah dari satu tahapan kondisi ke tahapan kondisi berikutnya. Dengan demikian, aktivitas dakwah Islamiyah adalah :
  • Merubah kondisi kebodohan maknawi kepada pengertian yang jelas dan terang tentang Islam
  • Merubah pengertian kepada pola pikir (fikrah)
  • Merubah pola pikir menjadi aktivitas (harakah)
  • Merubah aktivitas menjadi keberhasilan (natîjah)
  • Merubah keberhasilan menjadi tujuan (ghâyah)
  • Merubah tujuan menjadi ridha Allah (mardhâtillâh)
Betul, pekerjaan dakwah bukan melulu khutbah dan tabligh, tapi ia menjadi bagian yang terpenting dari perjalanan dakwah ini.
Seorang khatib, atau muballigh harus mampu menampilkan ajaran Islam dengan cara yang mengesankan. Bukankah telah dipahami bersama bahwa kita harus berbicara (berkhutbah) kepada orang sesuai dengan keadaan orang itu, baik situasi, kondisi, pendidikan, latar belakang dan pola pikirnya?

خَاطِبُ النَّاسَ عَلَى قَدْرِ عُقُوْلِهِمْ

Serulah (bicaralah kepada) manusia sesuai dengan akal (kapasitas atau kemampuan) mereka.


Oleh karena itu khatib harus mengetahui dan menguasai aneka gaya dan langgam pidato. Berikut ini macam-macam langgam pidato yang banyak dipelajari dan dipraktekkan oleh para orator :

  • Langgam Agama
    Suara kadang menaik, kemudian menurun dengan ucapan lambat. Nada naik untuk penekanan sebuah materi, sedangkan nada turun dengan tempo agak lambat bertujuan supaya pendengar merenungkan apa yang sedang disampaikan.
  • Langgam Agitasi
    Materi disampaikan secara agresif dan eksplosif. Nada yang digunakan adalah nada-nada tinggi. Jiwa massa dikuasai dan digiring ke arah tujuan tertentu. Biasanya untuk membangkitkan semangat dan mengobarkan nasionalisme atau keagamaan.
  • Langgam Konservatif
    Langgam ini paling tenang dan bebas, seperti orang bicara. Biasanya digunakan ketika menceritakan sebuah peristiwa dan terjadi dialog antar pelaku di dalam cerita.
  • Langgam Didaktik
    Langgam ini bersifat mendidik pendengar, seperti orang tua menasihati anak, guru mengajar murid atau dosen membimbing mahasiswa. Penggunaan langgam ini mensyaratkan khatib lebih tua dari pendengar atau lebih berpengalaman sehingga benar-benar dihormati dan didengar nasihatnya. Nada bicara tenang (cool, calm dan confident). Bila orator kurang disegani, penggunaan langgam ini akan membosankan.
  • Langgam Sentimentil
    Mengemukakan persolan dengan memakai bahan-bahan yang dapat mencetuskan sentimen (membakar hati setiap pendengarnya). Digunakan untuk sebuah sindiran keras, bila sindiran halus ternyata tidak berhasil. Sindiran bisa menggunakan sebuah tokoh dari kisah yang pernah terjadi atau penokohan sebuah watak/karakter.
  • Langgam Teater
    Langgam berpidato yang penuh dengan gaya dan mimik. Intonasi, tempo dan nada bicara seperti pemain teater. Biasanya digunakan untuk menggambarkan sesuatu secara hiperbolik.
  • Langgam Statistik
    Digunakan bila mengemukakan sesuatu yang mengandung angka-angka atau statistik hasil penelitian. Langgam ini sangat cocok bila para pendengar adalah cerdik cendekia, yang lebih mengutamakan isi daripada bungkus. Biasanya para pendengar berusia agak lanjut.

Langgam-langgam di atas umumnya digunakan secara berkelompok (gabungan), tergantung situasi dan kondisi. Khatib harus meramu dan memasak dengan baik, sehingga ciri khas ditemukan dan pidato menjadi menarik, tidak membosankan. Dengan demikian, tujuan dakwah bisa dicapai lebih cepat dan lebih baik. Bahkan diharapkan tercipta langgam-langgam baru hasil kreatifitas para khatib atau da'i.

Ketika penulis mengikuti Training Khuthaba' yang diselenggarakan oleh Yayasan Koordinasi Masjid Surabaya pada tanggal 15 Juni 2008, salah seorang nara sumber, Prof. H. Moh. Ali Aziz—Guru Besar Ilmu Dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya; beliau juga salah seorang ustadz yang mengasuh penulis ketika mengaji di pesantren—memberikan tips-tips praktis dalam berkhutbah, yaitu :

  • Tetapkan waktu khutbah dan tepati, misalnya 15-20 menit.
  • Pada saat khutbah I, setelah pembukaan dengan bahasa Arab selesai, tidak perlu lagi mengulang puji syukur ke hadirat Allah SWT serta shalawat kepada Nabi saw. dalam bahasa Indonesia. Ketika memulai penyampaian dalam bahasa Indonesia, langsung saja membahas materi khutbah.
  • Jangan mengulang-ulang materi khutbah yang sedang trend. Misal sedang saatnya penerimaan siswa/mahasiswa baru. Jangan sampai semua khatib membahas tentang bagaimana memilih sekolah yang baik untuk anak. Hal ini membuat jamaah jenuh karena dalam beberapa Jum'at, setiap khatib mengulas hal yang sama.
  • Pada khutbah II tidak perlu membahas apa pun termasuk menyimpulkan isi khutbah I karena jamaah sudah bisa menyimpulkan sendiri materi khutbah yang telah disampaikan. Selain itu, juga agar waktu khutbah tidak terlalu lama mengingat bervariasinya pekerjaan atau kesibukan jamaah. Khutbah II cukup dalam bahasa Arab sampai dengan doa.

Selain mengetahui teknik berpidato yang baik, kaidah dakwah juga harus dimengerti, yaitu :

  • Al-Qudwah qabla da'wah (memberikan teladan yang baik sebelum berdakwah)
  • Ta'lîf qabla ta'rîf (memikat hati dan menumbuhkan rasa simpati sebelum mengenalkan misi)
  • Ta'rîf qabla taklîf (memberikan pengertian sebelum memberi beban)
  • Tadarruj fî taklîf (bertahap dalam memberikan beban atau amal)
  • Al-ushûl qabla furû' (mendahulukan yang pokok/prinsip, baru kemudian disampaikan cabang atau perbedaan-perbedaan)
  • At-targhîb qabla tarhîb (memberi kabar gembira sebelum ancaman)
  • At-taysir lâ ta'sîr (mempermudah, tidak mempersulit)
  • Al-awwaliyyât (ada skala prioritas)


Dengan semakin majunya pendidikan masyarakat, maka proses dakwah tidak sekadar menawarkan suatu metode klasik melalui pahala dan ancaman atau surga dan neraka; tetapi lebih dari itu, membutuhkan metodologi perencanaan komunikasi dan jaringan misi dakwah, dengan melihat atau menimbang semua indikator sosiokultural sasaran dakwah. Pesan-pesan dakwah tidak hanya ditujukan agar dapat disampaikan dan diterima oleh khalayak, tetapi hendaknya pesan tersebut mampu dimengerti, dihayati dan diamalkan. Bukankah ilmu yang tidak diamalkan ibarat pohon yang tidak berbuah?

Timbul sebuah pertanyaan, "Apakah sudah cukup bila sebagai khatib, kita menguasai teknik retorika dan dakwah? Bagaimana supaya pesan/nasihat agama yang kita sampaikan tidak hanya menjadi ilmu bagi para jamaah? Bagaimana caranya agar nasihat tersebut tidak sekadar masuk telinga yang satu dan keluar dari telinga pasangannya?"

Syaikh Ibnu Athaillah mengingatkan, "Setiap kalimat yang keluar dari lisan menunjukkan isi hati orang yang menuturkannya." Pesan yang keluar dari bibir seorang khatib harus bersumber dari lubuk hati.

Lisan adalah penerjemah kata hati. Setiap kalimat yang diucapkan oleh seorang khatib atau da'i harus keluar dari hatinya sendiri dengan hidayah Allah. Dengannya, maka yang mendengar akan menerima dengan hati nuraninya. Manusia ketika mendengar nasihat dan tutur kata seseorang, tidak semata-mata menginginkan ilmu yang akan disampaikan, akan tetapi lebih dari sekadar ilmu, yaitu sentuhan dan getaran ruhani yang mampu menggerakkan dan menyadarkan jiwa, perilaku dan pikiran.

Tutur kata yang dikeluarkan oleh hati akan masuk dan diterima oleh hati pula. Sebaliknya, ucapan yang disampaikan bukan dari cahaya hati, maka ucapan seperti itu akan sampai di telinga belaka, tidak mengendap masuk ke dalam hati.

Seseorang bertanya kepada Muhammad bin Wasi', "Mengapa ucapan muballigh, banyak yang tidak dirasakan oleh kalbu umat?" Ia menjawab, "Mungkin ucapan yang keluar hanya dari kerongkongan dan mulut, tidak keluar dari nurani serta tidak tulus."

Jika tutur kata hanya sekadar daya pikir dan imajinasi belaka, maka itu tetap menjadi susunan kata, tidak memberi makna bagi jiwa dan tidak menyentuh hati. Kalimat yang keluar adalah kalimat gersang.

"Tutur kata itu ibarat hidangan bagi pendengar. Kalian tidak mendapatkan sesuatu pun kecuali apa yang kalian makan," nasihat Ibnu Athaillah lebih lanjut.

Berkenaan dengan upaya menjadi khatib yang baik, bagaimana Rasulullah mencontohkan cara berkhutbah? Dalam kitab "Bulûghul Marâm – Min Adillatil Ahkâm" terdapat sebuah hadits ke-475 yang diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir bin Abdulllah. Jabir berkata, "Adalah Rasulullah saw. apabila berkhutbah, merah kedua matanya dan tinggi suaranya dan sangat marahnya, hingga seolah-olah ia sebagai pengancam tentara yang berseru, '(Musuh) akan mendatangi kamu pagi-pagi dan petang-petang'."

Daftar Pustaka :

  • Djamal'uddin Ahmad Al Buny, "Mutu Manikam dari Kitab Al-Hikam (karya Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim Ibnu Athaillah)", Mutiara Ilmu Surabaya, Cetakan ketiga : 2000
  • Ibnu Hajar al-'Asqalani, al-Hâfizh, "Bulûghul Marâm – Min Adillatil Ahkâm"
  • Muhammad bin Ibrahim Ibnu 'Ibad, asy-Syaikh, "Syarah al-Hikam"
  • Syaiful Ulum Nawawi, "Retorika", Makalah, 1990
  • Syaiful Ulum Nawawi, "Retorika dan Pengembangan Dakwah Islam", Makalah, September 1997

Si Singamangaraja XII; Gugur sebagai Pahlawan Islam

Sekedar penyambung tulisan Sdr. Muhammad Jamzuri
Semoga bermanfaat

Rabu, 10 September 2008 20:06:26 - oleh : admin

Opini publik dewasa ini kurang menyadari bahwa Si
Singamangaraja XII adalah seorang muslim, yang di angkat sebagai
Maharaja di negri Toba di kota Bakara pada 1304 Hijri. Sebagai seorang
pejuang yang bertempur terus hingga akhir hayatnya ketika ditangkap dan
di tembak oleh Belanda pada 17 Juni 1907.
Untuk menghargai dan menghormati jasa yang telah di
korbankan bedasarkan keputusan Presiden Republik Indonesia No. 217 tahun
1957, pemerintah telah mengangkat Si Singamangaraja XII sebagai pahlawan
kemerdekaan nasional. Adapun yang di maksud dengan batasan Pahlawan
Kemerdekaan Nasional adalah seorang yang masa hidupnya terdorong oleh
rasa cinta tanah airnya dan sangat berjasa dalam memimpin suatu kegiatan
yang teratur menentang penjajah di Indonesia melawan musuh dari luar
negri, ataupun sangant berjasa baik dalam lapangan politik,
ketatanegaraan, sosial ekonomi, kebudayaan maupun dalam lapangan ilmu
pengetahuan yang erat hubunganya dengan perjuangan kemerdekaan dan
perkembangan Indonesia.
Mungkin dasar kriteria semacam di atas, di tambah dengan
adanya sistem penyusunan cerita Sejarah Nasional yang tidak menonjolkan
tentang agama yang di peluknya, menyebabkan kita tidak menyadari bahwa
Si Singamangaraja adalah pejuang Islam yang gugur sebagai syuhada pada
tanggal 17 juni 1907.

Silsilah
Perlu pula kita ketahui bahwa nama Si Singamangaraja
adalah nama dinasti dari keluarga "Sinambela". Yang kita bicarakan di
sini adalah keturunan yang ke-12. Adapun silsilahnya sebagai berikut:
1. Raja Munghuntal -Si
Singamangaraja I
2. Ompu Raja Tianaruan -Si Singamangaraja
II
3. Raja Itubungna -Si
Singamangaraja III
4. Sori Mangaraja -Si
Singamangaraja IV
5. Pallongos -Si
Singamangaraja V
6. Pangulbuk -Si
Singamangaraja VI
7. Ompu Tuan Lumbut -Si Singamangaraja
VII
8. Ompu Sotaronggal -Si
Singamangaraja VIII
9. Ompu Sohalompoan -Si Singamangaraja
IX
10. Ompu Tuan Nabolon -Si Singamangaraja X
11. Ompu Sohahunon -Si Singamangaraja
XI
12. Patuan Besar Ompu Pulo Baru -Si Singamangaraja XII

Kristenisasi

Perlu saya jelaskan telebih dahulu tentang
kristenisasidi sini tidak bertujuan menggoyahkan kerukunan beragama,
tetapi sekedar mengisahkan kembali tentang cara Belanda menguasai daerah
Tapanuli melalui Kristenisasi. Jadi sebagai fakta sejarah yang
benar-benar telah terjadi dan memang masalah Kristenisasi inilah yang
nantinya menjadi sumber pangkal permasalahan mengapa Si Singamangaraja
XII mengadakan perlawanan bersenjata terhadap Belanda. Tampaknya
penyebaran agama Kristen di Tapanuli saat itu mempunyai tujuan politik
untuk menguasai wilayah tersebut. Dan tujuan politis inilah yang
mengubah sikap rakyat Tapanuli terhadap agama Kristen. Penyebaran agama
itu sendiri tidaklah mendapat perlawanan. Tetapi tujuan politik penjajah
membangkitkan rakyat untuk mengangkat senjata.
Adapun tujuan politik yang menyertai penyebaran agama
Kristen saat itu adalah seperti yang diyatakan oleh J.P.G Westhoff:
"menurut pendapat kami untuk tetap memiliki jajahan-jajahan kita untuk
sebagian besar adalah tergantung dari pengkristenan rakyat yang sebagian
besar belum beragama atau yang telah beragama Islam.
Gerakan agresi agama ini besar kemingkinan mulai di
lancarkan ke daerah Tapanuli pada 1824. Hal ini terbukti dengan adanya
pembunuhan terhadap Baptis Amerika yakni Munson dan Lyman di Sinaksak.
Kemudian gerakan ini di perhebat pada 1861 yang di lakukan oleh Rijnsche
Zending yang memusatkan gerakanya di Padang Sindempuan.
Dari sini gerakan akan diarahkan memasuki daerah Toba.
Untuk keperluan ini pemerintah kolonial Belanda menunjuk misionaris
Nommensen dan Simoniet. Daerah-daerah serta rakyatnya yang telah di
pengaruhi oleh penyebaran agama ini kemudian secara administratif di
serahkan kepada kolonial Belanda. Atas jasa yang demikian besar ini
pemerintah Belanda merasa berhutang budi terhadap Nommensen, dan pada
1911 Nommensen di beri bintang Officer van Oranje-Nassau.
Penyebaran agama semacam di atas mempunyai efek politik
dan ekonomi sosial yang sangat merugikan rakyat Tapanuli. Penyerahan
daerah kepada pemerintah kolonial Belanda, membawa akibat timbulnya
sistem monopoli di bidang perdagangan. Termasud ke dalam masalah
pertanian, penjualan hasil bumi di monopoli oleh Belanda. Di bidang
politik tindakan tersebut berarti mempersempit daerah kekuasaan Si
singamangaraja, di bawah kondisi yang demikian mendorong pandangan
politik dan ekonomi rakyat Tapanuli untuk lebih bersahabat dengan Aceh
dan Sumatra Barat.

Si Singamangaraja XII
Penobatan Si Singamangaraja XII sebagai Maharaja di
negri Toba bersamaan dengan dimulainya open door policy (politik pintu
terbuka). Belanda merasa perlu mengamankan modal asing yang beroperasi
di Indonesia yang tidak mau menandatangani Korte Verkaring ( perjanjian
pendek) di Sumatra terutama Aceh dan Tapanuli. Kedua konsultan ini
membuka hubungan dagang dengan negara-negara Eropa lainya. Belanda
sendiri berusaha menanamkan monopilinya di kedua kesultanan tersebu.
Politik yang berbeda ini mendorong situasi selanjutnya untuk melahirkan
peperangan yang berkepanjangan hingga puluhan tahun.
Daya tempur yang sangat lama ini karena di tunjang oleh
ajaran agama islam. Hal ini jarang jarang di kemukakan oleh para
sejarawan, karena merasa kurang relevan dengan predikat Pahlawan
Nasional. Atau karena alasan-alasan lain merasa kurang perlu
membicarakanya. Kalau toh mau membicarakan tentang agama yang di anut
oleh Si Singamangaraja XII, mereka lebih cenderung untuk mengakui Si
Singamangaraja XII beragama Pelbagu.
Pelbagu semacam agama animisme yang mengenal pula
pemujaan dewa. Debata Mulajadi sebagai mahadewa. Juga mengaenal ajaran
Trimurti: Batara Guru (dewa kejayaan), Debata Ser
Satu hal yang sukar diterima adalah bila Si
Singamangaraja XII beragama animisme, karena kalu kita perhatikan Cap Si
Singamangaraja XII yang bertuliskan huruf arab berbunyi; Inilah Cap
Maharaja di negri Toba kampung Bakara kotanya. Hijrah Nabi 1304.
Pada cap tersebut terlihat jelas penggunaan tahun
hijriah Nabi. Hal ini memberikan gambaran tentang besarnya pengaruh
ajaran Islam yang menjiwai diri Si Singamangaraja XII. Adapun huruf
batak yang masih pula di abadikan, adalah sama dengan tindakan Pangeran
Diponegoro yang masih mengguakan huruf jawa dalam menulis surat.
Begitu pula kalau kita perhatikan bendera perangnya.
Terlihat pengaruh Islam dalam gambar kelewang, matahari dan bulan. Akan
lebih jelas bila kita ikuti keterangan beberapa majalah atau koran
Belanda yang memberitakan tentang agama yang di anut oleh Si
Singamangaraja XII, antara lain;
Volgens berichten van de bevolking moet de togen, woordige titularis
een 5 tak jaren geleden tot den Islam jizn bekeerd, doch hij werd geen
fanatiek Islamiet en oefende geen druk op jizn ongeving uit om zich te
bekeeren. ( Sukatulis, 1907, hlm, 1)
Menurut kabar-kabar dari penduduk, raja yang sekarang (maksud Titularis
adalah Si Singamangaraja XII) semenjak lima tahun yang lalu memeluk
agama Islam yang fanatik, demikian pula dia meneka supaya orang-orang
sekelilingnya menukar agamanya.
Berita di atas ini memberikan data kepada kita bahwa Si
Singamangaraja XII beragama Islam. Selain itu, di tambahkan pula tentang
rakyat yang tidak beragama Islam, dan Si Singamangaraja XII tidak
mengadakan paksaan atau penekanan lainnya. Hal ini sekaligus memberikan
gambaran pula tentang penguasaan Si Singamangaraja XII terhadap ajaran
agama itu sendiri.
Sebaliknya tindakan penyebaran agama yang dilakukan
Rijnsche Zending di Toba di sertai dengan serbua militer Belanda.
Serangan yang semacam ini baik yang di lancarkan pada 1861 ataupun 1877
pada masa pemerintahan Si Singamangaraja XII, mempunyai motif penguasaan
daerah Toba yang subur.
Tidaklah mengherankan kalau Si Singamangaraja XII
memimpin rakyatnya membendung usaha perluasan wilayah tersebut. Dalam
pelawanan bersenjata ini beliau di bantu oleh Panglima nali yang berasal
dari Minangkabau dan Panglima Teuku Muhammad yang berasal dari Aceh.
Letak geografis Tapanuli yang berada di tengah-tengah
antara Aceh dan Sumatra Barat memungkinkan kedua daerah atau kesultanan
tersebut saling kerjasama. Selain adanya kesamaan keyakinan agama,
ditunjang oleh kondisi politik yang sama menghadapi ekspedisi wilayah
dari Belanda. Itulah sebabnya memungkinkan kedua panglimanya berasal
dari kedua kesultanan di atas.
Belanda sendiri ketika melihat situasi geografis yang
demikian itu, mempunyai kepentingan lain. Dengan di lancarkanya operasi
militer ke Toba, mempunyai motif melaksanakan tujuan wig pilitic
(politik bayinya) "O. Hashem, 1968, hlm. 31" yang untuk memisahkan
daerah Tapanili dati pengaruh Aceh dan Sumatra Barat.
Sekalipun Belanda memiliki persenjataan yang lebih
unggul, namun usaha penguasaan wilayah Tapanuli tidaklah semudah
yangdiperkirakan semula. Secara fisik memang sepintas dapat menguasai
Bahal Batu, Butar, dan Lobu Siregar. Tetapi apa artinya kalau penguasaan
wilayah ini tidak mampu menundukan kemauan rakyat. Faktor terkhir inilah
yang menjadi problem dalam setiap peperangan. Karena tidak ada rumus
bagaimana caranya menguasai kemauan dari bangsa yang telah di kuasai
negaranya. Dan tampaknya sedah menjadi kodrat alam tidak ada suatu
bangsa pun yang mau di jajah. Apalagi bangsa tersebut memiliki daya
tempur yang tinggi. Dan hal ini kebanyakan hanya di miliki oleh bangsa
yang telah mempunyai ajaran agama yang di dalamnya mengajarkan pembelaan
diri apabila di serang.
Di sini Si Singamangaraja XII telah memeluk agama yang
demikian itu, yaitu islam. Keyakinanya telah menunjangnya untuk mampu
bertahan dan berjuang selama tiga puluh tahun lamanya. Suatu kenyataan
sejarah yang tidak dapat di sangkal lagibahwa ajaran agama islam
mempunyai pengaruh besar tehadap perkembangan dan sikap jiwa bangsa
Indonesia.
Seseorang yang memeluk agama akan merasa dirinya kuat
dam lagi peperangan tidak dapat di kerjakan oleh seorang pemimpin,
melainkan merupakan hasil dari kerjasama. Hasil ini akan mudah dicapai
apabila masyarakatnya tersebutt terbina dalam ajaran agama. Karena dasar
ajaran agama tidak mengajarkan hidup secara individual sifatnya,
melainkan lebih menekankan kepada kegotongroyongan. Apabila masyarakat
tersebut telah meletakan kepercayaan sepenuhnya kepada kepemimpinan di
atasnya. Ini adalah sebagai faktor yang memudahkan untuk menumbuhkan
kesatuan gerak perjuangan.
Persyaratan yang demikian itu telah tumbuh dalam
masyarakat Tapanuli. Si Singamangaraja XII tidak hanya di anggap sebagai
seorang Maharaja tapi juga sebagai Imam di bidang agama. Faktor
kepercayaan yang telah di berikan rakyatnya ketangan Si Singamangaraja
XII merupakan faktoryang dominan yang memungkinkan dirinya di angkat
sebagai seorang keramat, sehingga Si Singamangaraja XII menjadi seorang
pemimpin yang kharimasnya besar.
Sekalipun demikian besar kekuasaan Si Singamangaraja
XII, tidak menjadikan dirinya sebagai seoarang sultan absolut. Malahan
rakyatnya memberikan gelar sebagai juru damai, yang selalu berpihak
kepada kepentingan rakyat.
Menghadapi seorang pemimpin rakyat yang demikian besar
pengaruhnya, Belanda harus menggunakan cara lain. Ibu, permaisuru, dan
kedua putranya di tangkap. Dengan cara ini belanda berharap dapat
membawa Si Singamangaraja XII kemeja perundingan.
Kompromi ini tidak mingkin tercapai. Karena kebencian Si
Singamangaraja XII terhadap Belanda telah ditanamkan sejak lama oleh
ayahnya. Juga di lakukan oleh bukti sejarah Si Singamangaraja X (Ompu
Tuan Nabolon) dan Raja Lambung putranya, dibunuh oleh Belanda.
Sejalan dengan situasi di Tapanuli tersebut, Belanda
melancarkan yang membabi butapula terhadap ulama di Aceh. Vetter
melanjutkan operasi militer seperti yang pernah di kerjakan oleh Van der
Heijden. Tindakan mereka ini merupakan realisasi nasehat Snouck Hurgroje
yang mengadakan pengejaran tanpa henti terhadap para ulama yang memimpin
gerilya. Operasi yang demikian kejam dengan mengadakan pembunuhan
semena-mena terhadap pemuka-pemuka Islam mendapat restu pula dari mentri
Bergsman.
Gerakan operasi militer yang demikian ini terdorong oleh
usaha ingin mematahkan saingan Inggris yang menjadikan Pulau Penang
sebagai pelabuhan yang mengekspor rempah-rempah dari Aceh. Saingan ini
ingin dipatahkan dengan menguasai daratan Aceh dan Tapanuli. Pulau
Sabang dijadikan pelabuhan batu bara yang mensuplai kapal-kapal yang
memblokade Aceh. Tentu saja untuk mendapatkan batu bara ini di perlukan
penguasa Ombilin dan Sawah Lunto di Sumatra Barat. Kedua daerah terakhir
ini telah berhasil di kuasainya. Hanya Tapanuli sebagai daerah subur
yang terletak di kedua wilayah tersebut yang masih belum mau
menandatangani "Korte Verklring".
Dengan latar belakang berbagai kepentingan di atas,
Belanda berusaha keras melancarkan operasi mematahkan kekuasaan Si
Singamangaraja hal ini akan menjadi mungkun karena gerilya ulama Aceh
mulai satu persatu terpatahkan.
Selain sekutu Si Singamangaraja XII mulai lemah, juga di
sebabkan persenjataan yang di milikinya tidak seimbang dengan yang
dimiliki Belanda. Politik PIntu Terbuka dengan adanya tuntunan pengamana
modal asing, melibatkan negara-negara imprealis lainya menunjang usaha
Belanda untuk mengakhiri perlawanan bersenjata Umat Islam Indonesia.
Termaksud Si Singamangaraja XII.
pada 17 juni 1907 di bawah pimpinan Kapten Christoffel,
Belanda menggempur pusat pertahanan Si Singamangaraja XII. Sampai saat
pertempuran terakhir ini, Si Singamangaraja XII bersama putrinya,
Lopian, memilih jalan gugur sebagai syuhada dari pada menyerahkan
Tapanuli di atas Korte Verklaring kepada Belanda.
Seluruh bangsa Indonesia merasa kehilangan jasad seorang
pahlawan Si Singamangaraja XII, tetapi tidak kehilangan jiwa dan
cita-citanya. Si Singamangaraja XII gugur sebagai syuhada, tetapi tidak
mati melainkan hidup abadi di hati bangsa di sisi Allah SWT.
Catatan:

Artikel ini disadur oleh teman seapartemen saya sendiri ( Aulia Rahman
Nursyahid )dari sebuah buku usang diantara tumpukan buku asing dengan
kondisi yang menghawatirkan denga judul "MENEMUKAN SEJARAH WACANA
PERGERAKAN ISLAM INDONESIA" Oleh: Prof. Drs. Ahmad Mansur Surya Negara
dan di Pubilkasikan oleh Penerbit Mizan, Cetakan I: Muharram 1416/Juni
1995. Dikarenakan buku ini termasuk langka, maka kami menyarankan kepada
siapapun yang memilkinya untuk menjaganya sebaik mungkin sehingga
nantinya bisa dinikmati oleh generasi setelah kita. Dan jika saudara/i
mempunyai versi PDF nya tolong dikirim ke mj.institute@yahoo.com atau
admin@mjinstitute.com.

Al-Qur'an Dusturuna revisi


Ketika slogan al-Qur'an dusturuna, terealisasi dari diri seseorang, maka bersiap-siaplah kemenangan, kebahagian dan segala jenis kebaikan akan berdatangan menghampirinya.
Inti dari kemenangan para sahabat generasi pertama adalah al-qur'an teraplikasi dalam kehidupan setiap diri mereka. Mereka sudah mengimani al-qur'an sebelum turunnya. Sudah mempraktekkannya sebelum menghafalkannya. Mereka menjadi sangat berkualitas melebihi tampak luarnya.
Mereka menjadi orang-orang yang luar biasa dengan tampilan yang tak terduga.
Maka tatkala Mesir jatuh ketangan kaum muslimin di bawah pimpinan Amr bin Ash, Orang-orang gagah dan tampan Roma bertekuk lutut dan pulang ke eropa dengan hina, orang Kopty penduduk pribumi yang tak peduli dengan pertempuran, geleng-geleng kepala melihat penampilan kaum muslimin dari Nejed yang berkuda kurus dan berbaju lusuh. Mereka seolah tak percaya, kepada kemampuan mereka menghentikan ratusan tahun immperialisme Roma di negerinya yang mereka sendiri tak pernah membayangkannya akan berakhir.
Generasi pertama Islam ini yang oleh Sayid Qutub dalam Ma'alim fithariq disebut 'generasi terbaik sepanjang zaman' adalah pribadi-pribadi memukai dengan karakteristik masing-masing yang khas yang tidak menjiplak satu sama lain yang acuannya adalah Rasulullah saw yang sempurna mengaplikasikan keseluruhan al-Qur'an. Sehingga mereka menempati semua posisi dengan akurat, kepada mereka sanjungan Mutanabi ditujukan" Fain yaku ba'dunnaasi sayfan lidaulati, fafii naasi buuqaatun lahaa watbuulu." Jika sebagian orang-orang itu menjadi pedang bagi negeri, maka diantara mereka itu ada yang menjadi terompet dan gendangnya.
Lalu kita, akankah menjadi debu beterbangan yang mengganggu penglihatan para pejuang, kemudian berkata " Ini seni berperang!!"

RINDU

Kematian hanyalah ketika jasad dan ruh berpisah. Ia pergi kepada yang dirinduinya atau yang ditakutinya sedangkan jasad tak bisa mengikutinya.

Tulisan dibawah oleh : Mochamad Bugi
Sumber : Dakwatuna


U
badah bin Shamid r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Allah berfirman: Apabila hamba-Ku senang untuk bertemu dengan-Ku, Aku juga senang untuk bertemu dengannya. Dan jika dia tidak suka untuk bertemu dengan-Ku, Aku juga tidak suka untuk bertemu dengannya.” (HR. Bukhari, hadits shahih)

Ubadah bin Shamid r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa senang untuk bertemu dengan Allah, maka Allah juga senang untuk bertemu dengannya. Dan barangsiapa tidak senang untuk bertemu dengan Allah, maka Allah juga tidak senang untuk bertemu dengannya.”

Aisyah –salah seorang istri Nabi saw.—bertanya, “Kita membenci kematian.” Nabi saw. bersabda, “Bukan itu yang aku maksud, melainkan orang mukmin ketika dijemput oleh kematian, ia mendapatkan kabar gembira bahwa ia memperoleh ridha dan karamah Allah, maka tidak ada sesuatu yang lebih ia sukai daripada apa yang ada di hadapannya sehingga ia amat senang untuk bertemu dengan Allah. Allah pun senang untuk bertemu dengannya. Adapun orang kafir ketika dijemput oleh kematian, maka ia mendapatkan kabar gembira bahwa ia akan mendapatkan azab dan siksa Allah, maka tidak sesuatu yang paling ia benci daripada apa yang ada di hadapannya sehingga ia tidak senang untuk bertemu dengan Allah. Allah pun tidak senang untuk bertemu dengannya.” (HR. Bukhari, hadits shahih)

Abu Musa al-Asy’ari r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa senang untuk bertemu dengan Allah, maka Allah juga senang untuk bertemu dengannya. Dan barangsiapa tidak senang untuk bertemu dengan Allah, maka Allah juga tidak senang untuk bertemu dengannya.” (HR. Bukhari, hadits shahih)

Aisyah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa senang untuk bertemu dengan Allah, niscaya Allah juga senang untuk bertemu dengannya. Dan barangsiapa tidak senang untuk bertemu dengan Allah, niscaya Allah juga tidak senang untuk bertemu dengannya. Kematian itu datang sebelum (seseorang) bertemu Allah.” (HR. Muslim, hadits shahih)

Aisyah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa senang untuk bertemu dengan Allah, maka Allah juga senang untuk bertemu dengannya. Dan barangsiapa benci untuk bertemu dengan Allah, maka Allah juga benci untuk bertemu dengannya.” Aku bertanya, “Wahai Nabi Allah, apakah –yang dimaksud dengan benci untuk bertemu dengan Allah adalah—membenci kematian? Setiap kita membenci kematian.”

Nabi menjawab, “Bukan seperti itu, melainkan orang mukmin ketika mendapatkan kabar gembira bahwa ia memperoleh rahmat, ridha, dan surga Allah, maka ia senang untuk bertemu dengan Allah. Alah pun senang untuk bertemu dengannya. Adapun orang kafir ketika mendapatkan kabar gembira bahwa ia akan mendapatkan azab dan murka Allah, maka ia benci untuk bertemu dengan Allah. Allah pun benci untuk bertemu dengannya.” (HR. Muslim, hadits shahih)

Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Allah swt. berfirman: Apabila hamba-Ku senang untuk bertemu dengan-Ku, Aku pun senang untuk bertemu dengannya. Dan jika dia tidak suka untuk bertemu dengan-Ku, Aku pun tidak suka untuk bertemu dengannya.” (HR. Imam Malik, hadits shahih)

Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Malaikat Maut diutus untuk mencabut nyawa Nabi Musa a.s. Ketika Malaikat Maut tiba di hadapan Nabi Musa, Nabi Musa langsung memukul mata Malaikat Maut. Kemudian Malaikat Maut kembali menghadap Tuhannya seraya berkata, ‘Engkau mengutusku kepada seorang hamba yang tidak mau mati.’ Allah berkata, ‘Kembalilah dan katakan kepadanya agar ia meletakkan tangannya pada bulu sapi jantan. Maka setiap helai bulu yang ditutupi oleh tangannya berarti satu tahun.’ Musa berkata, ‘Wahai Tuhan, setelah itu?’ Allah menjawab, ‘Kematian.’ Musa berkata, ‘Saat iniah waktu kematian itu.’ Kemudian Musa memohon kepada Allah agar ia dimakamkan di dekat Baitul Maqdis, sejauh lemparan batu.’” Abu Hurairah berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Seandainya aku berada di sana, aku pasti akan memperlihatkan kepada kalian kuburannya yang terletak di samping jalan di kaki bukit berpasir merah.’” (HR. Bukhari, hadits shahih)

Cinta

Allah Ghayatuna, Al-Qur'an Dusturuna.....
Seorang yang baik akan mencintai yang baik. Cinta yang terbaik adalah mencintai yang terbaik. Kelas seseorang terlihat dari pilihan cintanya.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Ketahuilah, sesungguhnya kecintaan yang paling
berguna secara mutlak, cinta yang paling wajib, cinta paling tinggi dan paling mulia
adalah mencintai sesuatu yang menjadikan hati tunduk mencintai-Nya; yaitu sesuatu
yang menciptakan seluruh makhluk demi beribadah kepada-Nya. Dengan dasar cinta
inilah langit dan bumi tegak. Di atas tujuan inilah seluruh makhluk diciptakan. Inilah
rahasia kalimat syahadat la ilaha illallah. Karena makna ilah adalah sesuatu yang menjadi
dipuja oleh hati dengan rasa cinta, pemuliaan, pengagungan, perendahan diri dan
ketundukan. Sedangkan ketundukan dan peribadatan tidak boleh ditujukan kecuali
kepada-Nya semata. Hakikat ibadah itu adalah kesempurnaan rasa cinta yang diiringi
dengan ketundukan serta perendahan diri yang sempurna. Kesyirikan dalam hal ibadah
jenis ini merupakan tindakan zalim yang paling zalim yang tidak akan diberikan ampun
oleh Allah. Allah ta’ala dicintai karena kemuliaan diri-Nya sendiri yang sempurna dari
seluruh sisi. Adapun selain Allah, maka ia dicintai apabila bersesuaian dengan
kecintaan kepada-Nya.”

Beliau melanjutkan, “Kewajiban untuk mencintai Allah Yang Maha Suci ditunjukkan oleh
seluruh kitab yang diturunkan, dibuktikan pula oleh dakwah semua Rasul-Nya dan juga
fitrah yang telah dikaruniakan Allah kepada diri hamba-hamba-Nya, selaras dengan
akal sehat yang diberikan kepada mereka, sesuai dengan hikmah penganugerahan
nikmat kepada mereka. Karena sesungguhnya hati-hati manusia tercipta dalam keadaan mencintai sosok yang telah menganugerahkan kenikmatan dan berbuat baik kepadanya. Lantas bagaimana lagi rasa cinta terhadap sosok yang menjadi sumber segala kebaikan yang ada ? Segala macam nikmat yang ada pada makhluk-Nya maka itu semua berasal dari Allah ta’ala yang tidak ada sekutu bagi-Nya, sebagaimana ditegaskan oleh Allah ta’ala dalam firman-Nya,

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ

“Dan nikmat apapun yang ada pada kalian maka semuanya berasal dari Allah. Kemudian apabila kalian tertimpa musibah maka kepada-Nya lah kalian memulangkan urusan.” (QS. An-Nahl: 53)

Nama-nama yang paling indah dan sifat-sifat maha tinggi yang diperkenalkan kepada hamba-hamba-Nya untuk menyingkap jati diri-Nya serta pengaruh-pengaruh yang timbul dari berbagai ciptaan-Nya maka itu semua merupakan bagian dari kesempurnaan, puncak kemuliaan dan keagungan-Nya.” (Ad-Daa’ wad Dawaa’, hal. 256)

Syaikhul Islam berkata, “…sesungguhnya apabila hati seseorang telah bisa merasakan manisnya penghambaan diri kepada Allah dan lezatnya mencintai-Nya maka tidak akan ada sesuatu yang lebih disukainya daripada hal itu sampai-sampai dia pun lebih mengedepankan cintanya kepada Allah di atas apa saja. Dengan sebab itulah orang-orang yang benar-benar ikhlas beramal karena Allah bisa terbebas dari perbuatan jelek dan keji, sebagaimana difirmankan Allah ta’ala,

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ

“Demikianlah, Kami palingkan darinya (Nabi Yusuf) perbuatan yang jelek dan keji. Sesungguhnya dia adalah termasuk hamba Kami yang terpilih (ikhlas).” (QS. Yusuf: 24)

Kemudian beliau melanjutkan, “Karena sesungguhnya orang yang mukhlis lillaah bisa merasakan manisnya penghambaan dirinya kepada Allah sehingga bisa membentengi dirinya dari penghambaan kepada selain Allah. Demikian pula, dia telah merasakan manisnya cinta kepada Allah sehingga mampu membentenginya dari kecintaan kepada selain-Nya. Hal itu dikarenakan hati yang sehat dan selamat tidak akan bisa merasakan sesuatu yang lebih lezat, lebih menyenangkan, lebih menggembirakan dan lebih nikmat daripada manisnya iman yang menyimpan sikap penghambaan diri, kecintaan dan ketaatan menjalankan agama hanya kepada Allah. Dan itu semua menuntut ketertarikan hati yang begitu dalam kepada Allah. Sehingga hatinya akan menjadi senantiasa kembali taat dan mengingat Allah, merasa takut hukuman-Nya, berharap dan cemas karena-Nya. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah ta’ala dalam firman-Nya,

مَنْ خَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُنِيبٍ

“Yaitu barang siapa yang merasa takut kepada Ar-Rahman dalam keadaan dia tidak melihat-Nya dan menghadap Allah dengan hati yang kembali taat.” (QS. Qaaf: 33)

Karena seorang pencinta tentu akan merasa khawatir apa yang dicarinya menjadi sirna atau apa yang ditakutkannya benar-benar terjadi. Oleh sebab itu tidaklah seseorang menjadi hamba Allah yang sejati kecuali dirinya berada dalam keadaan takut serta berharap-harap. Hal itu sebagaimana yang difirmankan Allah ta’ala,

أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا

“Sesembahan-sesembahan yang diseru selain Allah itu adalah justru beramal demi mencari kedekatan diri kepada Allah siapakah diantara mereka yang bisa menjadi paling dekat kepada-Nya, mereka mengharap rahmat-Nya dan khawatir tertimpa azab-Nya. Sesungguhnya azab Rabbmu harus ditakuti dan diwaspadai.” (QS. Al-Israa’: 57) …” (Al-’Ubudiyah, hal. 108).


Raih cintaNya, kenali keinginanNya. Al-Qur'an sebagian rahasiaNya yang terbuka untuk merebut perhatianNya. Serukan " Al-qur'an Dusturuna". Selamat menikmati indahnya cinta.