Tampilkan postingan dengan label rihlah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rihlah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 September 2008

Kendala Dakwah

lulu purwaningrum <aisyakamila@yahoo.co.id> menulis:

Menyambut dengan senang hati semua program2 dakwah Ust Anis , tapi tidak demikian di daerah saya di salah satu area di Solo, masyarakat jawa yang sangat menyukai cultur homogen. tidak menyukai kalo ada orang berbeda dari kebiasaan yang ada. Dakwah kami di daerah saya terutama di perumahan saya dianggap kelompok aliran baru yang mengancam kemapanan para tokoh yang sudah ada. Ada proteksi yang kuat terhadap dakwah kami dari para tokoh. ada ketidak percayaan diri bagi kami (aktivis dakwah), untuk bersilaturahmi karena stereotip yang ada pada mereka.
Meskipun begitu kami masih tetap memakmurkan masjid dengan sholat berjamaah, menghadiri pengajian2 mereka.
Tapi untuk menjadi pengisi, mereka masih memberi jarak.
ada masukan dari antum semua?

Jawaban

Assalamualaikum wr. Wb.
Ukhtinal Kiramah yang semoga Allah terus mengokohkan dakwah antum,
Allah menjadikan manusia dengan segala kelebihannya dan segala kekurangannya,
dakwah kadang masuk melalui kelebihan manusia seperti, fitrah yang bersih, menyukai kebaikan dll, kadang pula masuk melalui kekurangannya.
Ingin dihormati dan serakah, adalah kekurangan manusia yang juga bisa dijadikan gerbang masuk dakwah.
Contoh sirah Nabawiyah di Fathu Makkah saat menghormati
Abu Sufyan.
Pada umumnya manusia itu serakah, ingin mendapatkan sebanyak-banyak dengan memberikan yang sedikit-dikitnya, tanpa memberikan apapun kalau bisa. Menginginkan sebanyak-banyak penghormatan tanpa harus menghormati orang lain, menginginkan setinggi-tingginya kedudukan tanpa menghargai kedudukan orang lain.
Yang serakah sangat menutup diri dengan manusia yang sama-sama serakah. Karena mengenal betul buruknya keserakahan.
Yang serakah sangat mengenal kapan lawan bicaranya serakah sekecil apapun keserakahannya. Karena dia expertnya keserakahan.
Yang serakah sangat mudah ditaklukan, tatkala dia salah sangka, menganggap serakah orang yang tidak serakah.
Yang serakah sangaaaat memerlukan orang-orang yang tidak serakah. Karena orang-orang yang serakah tidak ditemani dan tidak tahan berteman dengan yang sama-sama serakah. Mudah indikasinya, partai yang mengaku islami, tapi kurang memperhatikan keikhlasan anggotanya, mudah berantakan dan susah islah.
Kita akan menjadi orang yang serakah pula ketika mengenalkan dakwah dengan harapan mereka harus mencoblos partai dakwah kita di Pemilu nanti. Atau bergabung dengan pengajian mereka biar kita menjadi nara sumber mereka.
Ketika kita mendapatkan kenikmatan keikhlasan bersama ikhwah dan akhwat fillah di lingkungan lembaga dakwah anti, maka interaksi kita yang intens dan sering dengan lingkungan masyarakat adalah mengenalkan nikmatnya keikhlasan yang pernah kita rasakan, karena sesungguhnya, kebaikan itu menular dengan lebih cepat dari pada penyebaran virus keburukan. Ini banyak yang tidak sadar. Juru kebaikan ditemani malaikat2 yang mulia dan perkasa yang tidak mati sampai hari kiamat, sedangkan juru keburukan dikelilingi syetan dari kalangan jin dan manusia yang banyak kekurangannya dan bisa mati!!.
Para juru dakwah cepat patah arang dangan mengatakan keburukan lebih cepat berpengaruh dari pada kebaikan sebelum menghitung seberapa intens dia berinteraksi dengan objek dakwahnya bahkan bisa jadi dia belum turun ke dunia dakwah.
. Mungkin itu yang bisa ana tangkap dari intruksi usatdz Anis, kebenaran itu datangnya dari Allah, apabila yang saya sampaikan tadi ada benarnya semoga ukhti diberikan kelembutan hati untuk menerima, dan kekhilafan dari pribadi ana, apabila yang ana tuliskan ada salahnya semoga Allah memberikan kekerasan hati ukhti untuk menolak apa yang saya sampaikan, Salam dakwah penuh ukhuwah semoga pertolongan Allah senantiasa menaungi dakwah para juru dakwah di bulan penuh berkah. Wallahu a’lam bissawab.

Sabtu, 30 Agustus 2008

Maaf, amar ma’ruf dan berpaling.

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلينَ

Jadilah engkau pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. (QS Al-A'raf: 199)

Kita di tuntut untuk pemaaf, dan menganjurkan perbuatan ma’ruf. Tapi kepada siapa? Yang perlu dimaafkan adalah orang-orang yang melakukan aniaya kepada kita ( jamaah kaum muslimin) lalu bertaubat bahkan bisa jadi bergabung erat dengan kita. Tapi kepada yang berbuat keji kepada kita tanpa ada itikad untuk bertaubat, mereka layak diberi peringatan bukan permaafan. Adalah sebuah kebodohan apabila menyerahkan pipi kita untuk ditampar berulang-ulang kepada orang yang hoby menampar yang tidak pernah berfikir bahwa perbuatannya itu tidak benar.

Adalah Umar bin Khatab yang pada mulanya keras menentang Islam, sampai adiknya sendiri dipukul, tapi kemudian masuk Islam, dimaafkan bahkan dicintai dan dibanggakan perjuangan, sepak terjang dan segala pengorbanannya membela kebenaran.

Kemudian Abu Sofyan yang bewindu sudah memerangi rasulullah dan kaum muslimin, menganiaya dan membunuh orang-orang yang beriman belasan tahun, setelah menerima Islam Rasulullah Saw memaafkannya. Dalam futuh Makkah ketika Abu Sufyan menghadap Rasul Saw menyatakan keislamannya dalam kondisi tertunduk segan, Rasulullah Saw memukulkan kepalan tangannya dengan lembut ke dada Abu Sufyan seraya berkata: ”Dulu engkau begitu memusuhiku” padahal beberapa hari sebelumnya pun masih sebagai musuh, tapi redaksi Rasulullah dengan kata ”Dulu!!” yang menunjukan kesan , ”ya sudah itu masa lalu”. Permaafan yang menjadikan exs musuh besar bisa menjadi bagian kesatuan utuh kaum muslimin tanpa proses screening ataupun perploncoan yang menciptakan gap senior junior yang eksesnya adalah dendam turunan tanpa daya kapan bisa mengakhirinya.

Lalu pemafaan yang betul-betul hanya nabi mungkin yang bisa melakukannya adalah tatkala Wahsy dan Hindun, yang menombak dan mencincang dada Paman beliau yang amat sangat besar cinta Beliau Saw kepadanya. Terbukti pemafaan Rasulullah Saw ini, orang-orang yang gigih menentang beliau semasa jahiliyah, gigih pula membela Islam setelah keislamannya.

Amar Ma’ruf kemudian mengiringi berikutnya kepada orang yang sejak awal beriman dan yang baru bertaubat. Yang benar-benar bertaubat akan ta’at dan yang berpura-pura, akan terbongkar kemunafikannya.

Lalu orang bodoh,orang yang menganggap kesalahannya adalah kebenaran, penyesatan adalah hidayah,kerusakan adalah perbaikan, yang berpuluh, mungkin beratus bahkan beribu peringatan tidak bermanfaat merubahnya, bukan untuk mereka pemafaan, karena yang layak untuk mereka adalah ditinggalkan. Berpalinglah dari mereka, karena mereka akan menganggap merekalah yang telah berpaling dari kita.

Jumat, 29 Agustus 2008

Syeikh Ibnu Hajar al-AtsqolaniPeranan Isteri dibalik kesuksesan suami

Ibnu Hajar Al-Atsqolani adalah , seorang ulama besar di abad sembilan, pakar hadits dan fikih. Kitab Fathul Bari adalah kitab yang menunjukkan tingkat keilmuwannya yang luar biasa. Imam Suyithi menyebutnya sebagai, “Syaikhul Islam, pemimpin para penghafal di jamannya, ulama hebat di Mesir dan bahkan di seluruh dunia.Tetapi jarang yang tahu dan bahkan buku sejarah pun jarang mengungkap, siapakah istri yang setia mendampingi ulama besar itu. Yang telah dengan begitu sabar mendampinginya mengarang kitab Fathul Bari dalam kurun waktu seperempat abad. Wanita ini bukan termasuk orang yang dikenal. Tidak tercatat sebagai orang-orang tenar. Tetapi dia hidup di dalam lingkungan ulama terkenal di jamannya.Ya, dia adalah Uns binti Abdul Karim. Putri bangsawan Mesir. Putri keluarga terpandang di Mesir. Ayahnya adalah orang sangat terpandang di seluruh Mesir. Ibunya yang bernama Sarah binti Nasruddin juga orang yang sangat terpandang. Sebagian keluarganya juga merupakan ulama terpandang. Lengkaplah sudah bahwa Uns hidup di kalangan para pejabat yang dikawal dan penuh dengan kesenangan.Mesir menjadi tempat kelahirannya. Tahun 780 H tepatnya. Kehidupannya sejak kecil layaknya kehidupan para putri bangsawan. Pendidikan yang diraihnya cukup tinggi. Dengan etika kebangsawanan yang tinggi. Hingga Uns di usianya yang baru menginjak dewasa sudah menjadi rujukan bagi para wanita bangsawan lain untuk bertanya. Hal ini dikarenakan dia mempunyai ketajaman pandangan dan kepandaian otak.Taqdirlah yang menjodohkannya dengan Ibnu Hajar. Melalui perantara guru Ibnu Hajar, Ibnu Qotton. Pada bulan Syaban tahun 798 H, Mesir menjadi saksi kebahagiaan Ibnu Hajar dan Uns yang melangsungkan pernikahan mereka. Ibnu Hajar ketika itu berusia 25 tahun sedangkan Uns berusia 18 tahun.Uns telah memasuki dunia baru. Di hadapannya kini adalah suami yang sekaligus ulama terkenal di jamannya. Ahli hadits yang tiada bandingnya. Dan Ibnu Hajar mendapati istri sholihah yang sangat mencitai ilmu. Allah telah menjodohkan pasangan yang sangat serasi ini.Dengan penuh kesabaran, Uns belajar hadits di rumah kepada suaminya yang mengajarnya juga dengan segala kesabaran dan kasih sayang. Seiring dengan perjalanan waktu, Uns mulai menjadi wanita yang memiliki ilmu hadits. Hingga suatu saat, Uns menjadi salah satu dari ahli hadits wanita yang sangat jarang didapati ketika itu. Uns mulai memasuki dunia keilmuwan dan namanya dikenal oleh para pecinta ilmu.Uns pun mulai disibukkan dengan mengajarkan ilmu hadits yang dipelajarinya dari sang suami. Seperti juga suaminya, Uns mempunyai murid-murid yang banyak. Ada yang membaca shohih Bukhari dari awal hingga akhir.Uns tetap seperti wanita lain. Yang senang memasak dan membuat kue istimewa. Setelah murid-muridnya menamatkan shohih Bukhari, Uns membuat kue dan makanan serta buah-buahan. Uns mengundang penduduk daerah tersebut. undangan terbuka untuk umum. Semua murid dan penduduk kampung dari yang besar hingga yang kecil semua berduyun-duyun menghadiri tasyakuran besar itu. Apalagi hari itu, adalah hari menjelang bulan Ramadhan. Pesta itu ikut dihadiri oleh suami tercinta Ibnu Hajar.Bahkan Imam Sakhowi yang juga murid Ibnu Hajar, pernah meminta agar belajar hadits dari Uns. Dengan begitu sabar Ibnu Hajar duduk di samping istrinya yang sedang menyimak bacaan Sakhowi. Kebersamaan yang sangat indah.Kebahagiaan keluarga berkah ini dilengkapi dengan hadirnya anak-anak buah cinta mereka. Uns memang luar biasa. Bukan saja sebagai pecinta ilmu, tetapi juga wanita yang memiliki kecintaan dan kasih sayang yang besar kepada suaminya dan memberikan keturunan untuk Ibnu Hajar.Setelah empat tahun mereka menanti, Allah berkenan memberikan keturunan pertama, perempuan. Yang diberi nama Zein Khotun. Sebuah keluarga yang tertata rapi, karena istri yang terdidik di keluarga bangsawan yang penuh dengan kedisiplinan. Jarak dari satu anak ke anak yang lain hampir rata. Sekitar tiga tahun. Allah memberikan putri kedua yang diberi nama Farhah. Berikutnya yang ketiga juga putri yang diberi nama Gholiyah. Jarak tiga tahun berikut lahir putri keempat yang diberi nama Robiah. Dan akhirnya yang kelima pun putri dengan nama Fatimah.Pasangan dengan lima putri yang cantik dan lucu-lucu. Suasana keluarga semakin terasa indah. Uns yang telah mengabdikan hidupnya untuk suaminya membuat Ibnu Hajar selalu merindukannya. Ketika Ibnu Hajar harus pergi meninggalkannya menuju Mekah dalam rangka melanjutkan menuntut ilmu, jarak Mesir Mekah mengukir kerinduan yang mendalam di hati Ibnu Hajar. Kerinduan terhadap kelima putrinya dan ibu dari putri-putrinya. Ibnu Hajar sempat menguntai bait-bait syair untuk mengungkapkan kerinduannya yang sangat dalam. Begitu romantis.Perpisahan itu, semakin menambah kebersamaan mereka semakin indah. Saat-saat Allah mempertemukan mereka kembali. Pada suatu hari Uns meminta untuk ditemani pergi haji. Ibnu Hajar pun pergi dengan istri tercintanya itu untuk membangun kebersamaan itu di atas ibadah.Setelah haji yang pertama ini, Uns kembali merindukan Mekah setelah kira-kira lima belas tahun berikutnya. Uns meminta ijin kepada suaminya untuk bisa pergi haji. Ibnu Hajar mengijinkannya. Kali ini Uns ditemani oleh cucunya Yusuf Syahin yang masih kecil.Bersama kebahagiaan ini, Allah mempunyai kehendak lain. Kebahagiaan Uns bersama suami tercinta dan putri-putrinya serta cucunya, harus menghadapi taqdir Allah. Satu persatu putrinya meninggal di pangkuannya. Putrinya yang ketiga dan keempat meninggal terlebih dahulu setelah tertimpa penyakit yang mewabah waktu itu. selang beberapa tahun berikutnya, putrinya pertama menyusul kedua adiknya. Untuk kemudian giliran Allah memanggil putrinya yang kedua dan terakhir.Dengan segala kebesaran hati, Uns menerima taqdir Allah, melepas kepergian belahan jiwanya. Tidak ada keluh kesah, yang ada adalah pasrah Kepada Allah.Uns bak mutiara kilauannya semakin bersinar dari hari ke hari. Uns juga mempunyai sifat dermawan. Dia selalu menyisihkan uangnya untuk membantu orang-orang yang membutuhkan dan para manula yang miskin.Kebesamaan yang indah dengan suaminya bukan tiada akhir. Setelah lima puluh empat tahun mereka berbahagia bersama. Saling membantu, memahami, memaafkan dan berbagi. Pada bulan jumadil awal tahun 852 H Ibnu Hajar mendapat musibah sakit. Sakit itu berkelanjutan sampai tujuh bulan lamanya. Dengan penuh pengabdian yang tulus dan kesabaran yang luar biasa, Uns merawat suaminya. Hingga pada malam Sabtu tanggal 28 Dzul Hijjah tahun 852 H Uns harus melepaskan orang yang paling dicintainya dalam hidupnya. Harus melepas kenangan indah bersama suaminya. Untuk dilanjutkan kelak di akhirat sana.Uns adalah tipe wanita yang sangat setia. Tidak terpikir olehnya untuk menikah lagi. Padahal Uns masih hidup 15 tahun lagi setelah ditinggal suaminya. Dalam rentang 15 tahun itu Uns menghabiskannya untuk iimu, ibadah dan pengabdian ke masyarakat. Allah berkenan memberinya usia panjang. Pada usianya yang ke-87 tepatnya bulan Robiul Awal tahun 867 H, Uns harus menghadap Penciptanya menyusul suami tercintanya. Semoga Allah merahmati Uns binti Abdul Karim.

Kamis, 28 Agustus 2008

Selamat datang bayi Akh Mukhidin

Anak.
Ketika anak terlahir, sejuta kegembiraan, sejuta harapan terpancar dan terarah ke jabang bayi pengunjung baru dunia yang tak mengerti dan tak tahu mau di apakan dan mau dikemanakan dia. Di Yahudikan, dinasrhonikan atau di majusikan terserah kedua orang tuanya, demikian konteks sabda Nabi SAW terkait bayi yang baru terlahir.
Lalu orangtua menaruh harapan sebesar-besarnya terhadap anak-anak mereka. Sampai melampaui batas dengan membebani mereka tugas-tugas untuk meraih prestasi yang meningkatkan gengsi orangtuanya.
Anak adalah fitroh bersih manusia yang mulia dan sempurna proses penciptaannya sebagaimana Allah abadikan dalam surat At-Tiin ayat 4. Alangkah baiknya apabila mereka diarahkan untuk mencontoh kita yang terus memompa diri melakukan kebaikan bukannya mendorong mereka kepada satu titik kebaikan yang kita sendiri enggan melakukannya.
Rasulullah SAW mengajari kita dalam tahmid pembukaan khutbahnya,.."Dan aku berlindung kepada Allah dari keburukan yang muncul dari dalam diri, dan dari buruknya perbuatan kita sendiri. Fitrah kita itu cenderung untuk melakukan kebaikan, tapi syetan yang mengalir di sekujur pembuluh darah kita mengotorinya dan menjadikan kita mengingini segala bentuk keburukan. Dan pada umumnya manusia tahu, keburukan yang begitu diingini itu apabila dilakukan kesudahannya adalah penyesalan.
Adalah sifat manusia cenderung rakus dan bakhil. Karena manusia itu egois dia mengharapkan banyak dari yang lain dan enggan memberikan manfaat kepada yang lain. Termasuk kepada anaknya sendiri . Ia mengharapkan punya anak yang baik tapi enggan anaknya memiliki orangtua yang baik.( kisah kakek tua penanam pohon buah 1001 malam)
Adalah sifat manusia cenderung instan. Anak harus cepat pintar, cepat melewati prosedur perkembangan ataupun pendidikan kalau bisa tidak perlu prosedur agar bisa lewat secepat-cepatnya sehingga training-training , pelatihan2 dan kursus-kursus serba kilat menjadi proyek yang sangat laris. Padahal kayu yang kuat berasal dari pohon yang tumbuh lambat.
Adalah sifat manusia tidak suka berkorban.

Masjid Raya Al-Iftitah Komplek Pondok Benda Indah -Pamulang

Seorang lagi huffadz bergabung di Mesjid kami , dari Jombang ke Pamulang. Semoga menambah kokoh nuansa al-Qur'an di lingkungan kami. Mari meriahkan Ramadhan dengan al-Qur'an, 10 hari terakhir ramadhan i'tiqaf dan qiyamulail 30 Juz. per hari insyaAllah 3 juz. Bergabung nanti ya,.. Insya Allah akan ada grup tahsin dan tahfiz bagi yang berminat boleh menghubungi 085697208014.

Rabu, 27 Agustus 2008

Malam Kamis 2 Dimana Kita dalam Dakwah Ini??

Malam ini Rabu 27 Agustus, ustadz mengingatkan perang-perang yang dihadapi Rasulullah,
Lalu merefleksi sikap kita yang hoby mendramatisir masalah ringan yang kadang bukan masalah menjadi udzur yang sangat masuk akal dan mewajarkan kita meninggalkan tugas-tugas dakwah. Dengan alasan mencegah madharat yang lebih besar kita libur di medan amal menghidar bahaya yang terlalu dikhayalkan sehingga seolah-olah bakal terjadi didepan mata.
Sebuah do'a harian yang sering diucapkan Nabi SAW, "Allahuma antasalam wa minka ssalam, wailaika yaa uduhussalam dst" menggambarkan betapa hidup rasulullah SAW senantiasa berada dalam kondisi penuh bahaya. Meminta keselamatan dari Allah semata. Bersuyukur setiap hari atas keselamatan karena memang betul-betul ancaman nyawa atas Rasul dan para sahabat setiap detik mengintai. Sebagaimana saat Rasulullah ditimpa batu penggilingan gandum dari loteng pemukiman yahudi yang mengorbankan seorang sahabat yang mendampingi Beliau dengan kepala pecah. Lalu kita? membaca doa ini, setiap hari mengalir dari lisan kita tanpa makna dan ruh tak ubahnya dukun yang mengucapkan mantra-mantra yang tidak dipahaminya.
Lalu kita sering menyebut-nyebut yang kita anggap 'kontribusi' untuk jama'ah dakwah, sebagai sebuah perjuangan heroik padahal kalau direnungi lagi sangat memalukan untuk sekedar menyebutkannya.
Ustadz mengangkat hadits dalam sahihain dari Abu Musa al-Asy'ari, ia berkata: kami keluar bersama Rasulullah SAW dalam satu peperangan. Waktu itu kami berenam bergantian mengendarai seekor unta, kemudian telapak kaki kami pecah-pecah, telapak kaki saya sendiri pecah dan kuku-kukunya pun copot. Waktu itu kami membalut kaki-kaki kami dengan sobekan kain. sehingga aku menyebut peperangan itu dengan perang Dzzaturriqo (sobekan kain)." Abu Musa alAsyari yang menyebutkan hadits ini, tetapi kemudian ia tidak menyukainya, Ia berkata seolah-olah tidak suka menceritakan perjuangan tersebut.
Ada kemalasan, ada kesombongan dalam jiwa kita saat menempuh jalan dakwah ini. Penyakit berbahaya yang lebih kronis dari penyakit medic mematikan apapun yang ada di kolong langit ini. Jazakallah Ustadz wa antum akhuna fillah yang sabar menemani kemalasan dan kesombongan ana disetiap malam kamis.

Rabu, 20 Agustus 2008

Malam Kamis 20-8-08

Janji ArRahman...
akan mulia yang memuliakan alQur’an
akan hina yang menghinakan alQur’an
akan bahagia yang menjalankan alQur’an

alQuran adalah akhlak Sang Kekasih.
Jalan lurus aqidah yang bersih jernih
Yang menyelisihinya akan tersisih
Terbelit kehidupan laknat yang pedih

alQuran terlalu indah untuk dilupakan
karena memang takan bisa dilupakan...
kemalasan dan kemaksiatan
membuat alQuran melupakan
para qari yang mencampurkan dosa dan hafalan.

Rabu, 13 Agustus 2008

Lebih dekat dengan al-Qur'an saat I'tiqaf

Pengertian I'tiqaf:

Kata i'tikaf berasal dari 'akafa alaihi', artinya senantiasa atau berkemauan kuat untuk menetapi sesuatu atau setia kepada sesuatu. Secara harfiah kata i'tikaf berarti tinggal di suatu tempat, sedangkan syar'iyah kata i'tikaf berarti tinggal di masjid untuk beberapa hari, teristimewa sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

Selama hari-hari itu, seorang yang melakukan i'tikaf (mu'takif) mengasingkan diri dari segala urusan duniawi dan menggantinya dengan kesibukan ibadat dan zikir kepada Allah dengan sepenuh hati. Dengan i'tikaf seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW, kita berserah diri kepada Allah dengan menyerahkan segala urusannya kepada-Nya, dan bersimpuh di hadapan pintu anugerah dan rahmat-Nya.

Hal yang dilakukan saat I'tiqaf:

Yang dilakukan pada saat i'tikaf pada hakikatnya adalah taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah. Makna taqrrub adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan beragam rangkaian ibadah. Di antaranya:

A. Shalat

Baik shalat wajib secara berjamaah atau punshalat sunnah, baik yang dilakukan secara berjamaah maupun sendirian. Misalnya shalat tarawih, shalat malam (qiyamullail), shalat witir, shalat sunnah sebelum shalat shubuh, shalat Dhuha', shalat sunnah rawatib (qabliyah dan ba'diyah) dan lainnya.

B. Zikir

Semua bentuk zikir sangat dianjurkan untuk dibaca pada saat i'tikaf. Namun lebih diutamakan zikir yang lafaznya dari Al-Quran atau diriwayatkan dari sunnah Rasulullah SAW secara shahih. Jenis lafadznya sangat banyak dan beragam, tetapi tidak ada ketentuan harus disusun secara baku dan seragam. Juga tidak harus dibatasi jumlah hitungannya.

C. Membaca ayat Al-Quran

Membaca Al-Quran (tilawah) sangat dianjurkan saat sedang beri'tikaf. Terutama bila dibaca dengan tajwid yang benar serta dengan tartil.

D. Belajar Al-Quran

Bila seseorang belum terlalu pandai membaca Al-Quran, maka akan lebih utama bila kesempatan beri'tikaf itu juga digunakan untuk belajar membaca Al-Quran, memperbaiki kualitas bacaan dengan sebaik-baiknya. Agar ketika membaca Al-Quran nanti, ada peningkatan.

E. Belajar Memahami Isi Al-Quran

Selain pentingnya membaca Al-Quran dengan berkualitas, maka meningkatkan pemahaman atas setiap ayat yang dibaca juga tidak kalah pentingnya. Sebab Al-Quran adalah pedoman hidup kita yang secara khusus diturunkan dari langit. Tidak lain tujuannya agar mengarahkan kita ke jalan yang benar. Apalah artinya kita membaca Al-Quran, kalau kita justru tidak paham makna ayat yang kita baca.

Tentunya belajar baca dan memahami ayat Al-Quran membutuhkan guru yang ahli di bidangnya. Tanpa guru, sulit bisa dicapai tujuan itu.

F. Berdoa

Berdoa adalah meminta kepada Allah atas apa yang kita inginkan, baik yang terkait dengan kebaikan dunia maupun kebaikan akhirat. Dan aktifitas meminta kepada Allah bukanlah kesalahan, bahkan bagian dari pendekatan kita kepada Allah. Allah SWT senang dengan hamba-Nya yang meminta kepada-Nya. Meski tidak langsung dikabulkan, tetapi karena meminta itu adalah ibadah, maka tetaplah meminta.

Semakin banyak kita meminta, maka semakin banyak pula pahala yang Allah berikan. Dan bila dikabulkan, tentu saja menjadi kebahagiaan tersendiri.

Dan meminta kepada Allah (berdoa) sangat dianjurkan untuk dilakukan di dalam berik'tikaf.

Namun dari semua kegiatan di atas, bukan berarti seorang yang beri'tikaf tidak boleh melakukan apapun kecuali itu. Dia boleh makan di malam hari, dia juga boleh isterirahat, tidur, berbicara, mandi, buang air, bahkan boleh hanya diam saja. Sebab makna i'tikaf memang diam. Tetapi bukan berarti diam saja sepanjang waktu i'tikaf.

Adapun yang terlarang dilakukan saat i'tikaf adalah bercumbu dengan isteri hingga sampai jima'. Sedangkan yang dimakruhkan adalah berbicara yang semata-mata hanya masalah kemegahan dan kesibukan keduniaan saja, yang tidak membawa manfaat secara ukhrawi.

Bicara masalah dagang, tentu boleh bila terkait dengan bagaimana dagang yang sesuai syariat. Sebab syariat itu tentu bukan hanya bicara hal-hal di akhirat saja, tetapi tercakup luas semua masalah keduniaan.

Sunnat bagi orang yang sedang i'tikaf tidak boleh menengok yang sakit, jangan menyaksikan jenazah, tidak boleh menyentuh perempuan dan jangan bercumbu, dan jangan keluar (dari masjid) untuk satu keperluan kecuali dalam perkara yang tidak boleh tidak, dan tidak ada i'tikaf melainkan di masjid kami." (HR Abu Dawud).

2. I'tikaf tidak sah dilakukan kecuali di masjid. Ini adalah hal yang kebenarannya telah menjadi kesepakatan semua ulama. Sesuai dengan firman Allah SWT:

Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam, janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa. (QS Al-Baqarah: 187)

Sedangkan masalah wudhu, bukan merupakan syarat. Namun sebagian ulama mewajibkan seseorang berwudhu' bila masuk masjid. Sebagian lain tidak mewajibkan tapi hanya menyunnahkan.

3. Niat adalah syarat sah semua ibadah. Tanpa niat, semua ibadah tidak sah.

Tetapi niat itu bukan lafadz yang diucapkan, melainkan sesuatu yang ditetapkan di dalam hati. Lafadz niat hanya sekedar menguatkan, bahkan hukumnya diperdebatkan para ulama. Sebagian menganjurkannya, tetapi sebagian lain malah melarangnya.

Jadi niatkan saja di dalam hati bahwa anda akan melakukan i'tikaf, maka sah sudah niat anda.

4. Benar, 'itikaf itu hukumnya sunnah untuk dilakukan di 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Dalilnya adalah perbuatan nabi SAW yang telah melakukannya, bahkan tiap tahun tanpa meninggalkannya sekalipun. Sehingga ada sebagian ulama yang nyaris hampir mewajibkannya. Namun hukumnya tidak wajib, tetapi sunnah yang sangat dianjurkan.

Adapun dalilnya adalah:

Dari Aisyah Ra. ia berkata, "Rasulullah SAW melakukan i'tikaf pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan, sampai saat ia dipanggil Allah Azza wa Jalla." (HR Bukhari dan Muslim).

Dan dari Ibnu Umar r.a. ia berkata, "Rasulullah SAW melakukan i'tikaf pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan." (HR Bukhari dan Muslim).

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabaraktuh,

Ahmad Sarwat, Lc.