Tampilkan postingan dengan label qalbu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label qalbu. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 September 2008

RINDU

Kematian hanyalah ketika jasad dan ruh berpisah. Ia pergi kepada yang dirinduinya atau yang ditakutinya sedangkan jasad tak bisa mengikutinya.

Tulisan dibawah oleh : Mochamad Bugi
Sumber : Dakwatuna


U
badah bin Shamid r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Allah berfirman: Apabila hamba-Ku senang untuk bertemu dengan-Ku, Aku juga senang untuk bertemu dengannya. Dan jika dia tidak suka untuk bertemu dengan-Ku, Aku juga tidak suka untuk bertemu dengannya.” (HR. Bukhari, hadits shahih)

Ubadah bin Shamid r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa senang untuk bertemu dengan Allah, maka Allah juga senang untuk bertemu dengannya. Dan barangsiapa tidak senang untuk bertemu dengan Allah, maka Allah juga tidak senang untuk bertemu dengannya.”

Aisyah –salah seorang istri Nabi saw.—bertanya, “Kita membenci kematian.” Nabi saw. bersabda, “Bukan itu yang aku maksud, melainkan orang mukmin ketika dijemput oleh kematian, ia mendapatkan kabar gembira bahwa ia memperoleh ridha dan karamah Allah, maka tidak ada sesuatu yang lebih ia sukai daripada apa yang ada di hadapannya sehingga ia amat senang untuk bertemu dengan Allah. Allah pun senang untuk bertemu dengannya. Adapun orang kafir ketika dijemput oleh kematian, maka ia mendapatkan kabar gembira bahwa ia akan mendapatkan azab dan siksa Allah, maka tidak sesuatu yang paling ia benci daripada apa yang ada di hadapannya sehingga ia tidak senang untuk bertemu dengan Allah. Allah pun tidak senang untuk bertemu dengannya.” (HR. Bukhari, hadits shahih)

Abu Musa al-Asy’ari r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa senang untuk bertemu dengan Allah, maka Allah juga senang untuk bertemu dengannya. Dan barangsiapa tidak senang untuk bertemu dengan Allah, maka Allah juga tidak senang untuk bertemu dengannya.” (HR. Bukhari, hadits shahih)

Aisyah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa senang untuk bertemu dengan Allah, niscaya Allah juga senang untuk bertemu dengannya. Dan barangsiapa tidak senang untuk bertemu dengan Allah, niscaya Allah juga tidak senang untuk bertemu dengannya. Kematian itu datang sebelum (seseorang) bertemu Allah.” (HR. Muslim, hadits shahih)

Aisyah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa senang untuk bertemu dengan Allah, maka Allah juga senang untuk bertemu dengannya. Dan barangsiapa benci untuk bertemu dengan Allah, maka Allah juga benci untuk bertemu dengannya.” Aku bertanya, “Wahai Nabi Allah, apakah –yang dimaksud dengan benci untuk bertemu dengan Allah adalah—membenci kematian? Setiap kita membenci kematian.”

Nabi menjawab, “Bukan seperti itu, melainkan orang mukmin ketika mendapatkan kabar gembira bahwa ia memperoleh rahmat, ridha, dan surga Allah, maka ia senang untuk bertemu dengan Allah. Alah pun senang untuk bertemu dengannya. Adapun orang kafir ketika mendapatkan kabar gembira bahwa ia akan mendapatkan azab dan murka Allah, maka ia benci untuk bertemu dengan Allah. Allah pun benci untuk bertemu dengannya.” (HR. Muslim, hadits shahih)

Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Allah swt. berfirman: Apabila hamba-Ku senang untuk bertemu dengan-Ku, Aku pun senang untuk bertemu dengannya. Dan jika dia tidak suka untuk bertemu dengan-Ku, Aku pun tidak suka untuk bertemu dengannya.” (HR. Imam Malik, hadits shahih)

Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Malaikat Maut diutus untuk mencabut nyawa Nabi Musa a.s. Ketika Malaikat Maut tiba di hadapan Nabi Musa, Nabi Musa langsung memukul mata Malaikat Maut. Kemudian Malaikat Maut kembali menghadap Tuhannya seraya berkata, ‘Engkau mengutusku kepada seorang hamba yang tidak mau mati.’ Allah berkata, ‘Kembalilah dan katakan kepadanya agar ia meletakkan tangannya pada bulu sapi jantan. Maka setiap helai bulu yang ditutupi oleh tangannya berarti satu tahun.’ Musa berkata, ‘Wahai Tuhan, setelah itu?’ Allah menjawab, ‘Kematian.’ Musa berkata, ‘Saat iniah waktu kematian itu.’ Kemudian Musa memohon kepada Allah agar ia dimakamkan di dekat Baitul Maqdis, sejauh lemparan batu.’” Abu Hurairah berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Seandainya aku berada di sana, aku pasti akan memperlihatkan kepada kalian kuburannya yang terletak di samping jalan di kaki bukit berpasir merah.’” (HR. Bukhari, hadits shahih)

Cinta

Allah Ghayatuna, Al-Qur'an Dusturuna.....
Seorang yang baik akan mencintai yang baik. Cinta yang terbaik adalah mencintai yang terbaik. Kelas seseorang terlihat dari pilihan cintanya.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Ketahuilah, sesungguhnya kecintaan yang paling
berguna secara mutlak, cinta yang paling wajib, cinta paling tinggi dan paling mulia
adalah mencintai sesuatu yang menjadikan hati tunduk mencintai-Nya; yaitu sesuatu
yang menciptakan seluruh makhluk demi beribadah kepada-Nya. Dengan dasar cinta
inilah langit dan bumi tegak. Di atas tujuan inilah seluruh makhluk diciptakan. Inilah
rahasia kalimat syahadat la ilaha illallah. Karena makna ilah adalah sesuatu yang menjadi
dipuja oleh hati dengan rasa cinta, pemuliaan, pengagungan, perendahan diri dan
ketundukan. Sedangkan ketundukan dan peribadatan tidak boleh ditujukan kecuali
kepada-Nya semata. Hakikat ibadah itu adalah kesempurnaan rasa cinta yang diiringi
dengan ketundukan serta perendahan diri yang sempurna. Kesyirikan dalam hal ibadah
jenis ini merupakan tindakan zalim yang paling zalim yang tidak akan diberikan ampun
oleh Allah. Allah ta’ala dicintai karena kemuliaan diri-Nya sendiri yang sempurna dari
seluruh sisi. Adapun selain Allah, maka ia dicintai apabila bersesuaian dengan
kecintaan kepada-Nya.”

Beliau melanjutkan, “Kewajiban untuk mencintai Allah Yang Maha Suci ditunjukkan oleh
seluruh kitab yang diturunkan, dibuktikan pula oleh dakwah semua Rasul-Nya dan juga
fitrah yang telah dikaruniakan Allah kepada diri hamba-hamba-Nya, selaras dengan
akal sehat yang diberikan kepada mereka, sesuai dengan hikmah penganugerahan
nikmat kepada mereka. Karena sesungguhnya hati-hati manusia tercipta dalam keadaan mencintai sosok yang telah menganugerahkan kenikmatan dan berbuat baik kepadanya. Lantas bagaimana lagi rasa cinta terhadap sosok yang menjadi sumber segala kebaikan yang ada ? Segala macam nikmat yang ada pada makhluk-Nya maka itu semua berasal dari Allah ta’ala yang tidak ada sekutu bagi-Nya, sebagaimana ditegaskan oleh Allah ta’ala dalam firman-Nya,

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ

“Dan nikmat apapun yang ada pada kalian maka semuanya berasal dari Allah. Kemudian apabila kalian tertimpa musibah maka kepada-Nya lah kalian memulangkan urusan.” (QS. An-Nahl: 53)

Nama-nama yang paling indah dan sifat-sifat maha tinggi yang diperkenalkan kepada hamba-hamba-Nya untuk menyingkap jati diri-Nya serta pengaruh-pengaruh yang timbul dari berbagai ciptaan-Nya maka itu semua merupakan bagian dari kesempurnaan, puncak kemuliaan dan keagungan-Nya.” (Ad-Daa’ wad Dawaa’, hal. 256)

Syaikhul Islam berkata, “…sesungguhnya apabila hati seseorang telah bisa merasakan manisnya penghambaan diri kepada Allah dan lezatnya mencintai-Nya maka tidak akan ada sesuatu yang lebih disukainya daripada hal itu sampai-sampai dia pun lebih mengedepankan cintanya kepada Allah di atas apa saja. Dengan sebab itulah orang-orang yang benar-benar ikhlas beramal karena Allah bisa terbebas dari perbuatan jelek dan keji, sebagaimana difirmankan Allah ta’ala,

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ

“Demikianlah, Kami palingkan darinya (Nabi Yusuf) perbuatan yang jelek dan keji. Sesungguhnya dia adalah termasuk hamba Kami yang terpilih (ikhlas).” (QS. Yusuf: 24)

Kemudian beliau melanjutkan, “Karena sesungguhnya orang yang mukhlis lillaah bisa merasakan manisnya penghambaan dirinya kepada Allah sehingga bisa membentengi dirinya dari penghambaan kepada selain Allah. Demikian pula, dia telah merasakan manisnya cinta kepada Allah sehingga mampu membentenginya dari kecintaan kepada selain-Nya. Hal itu dikarenakan hati yang sehat dan selamat tidak akan bisa merasakan sesuatu yang lebih lezat, lebih menyenangkan, lebih menggembirakan dan lebih nikmat daripada manisnya iman yang menyimpan sikap penghambaan diri, kecintaan dan ketaatan menjalankan agama hanya kepada Allah. Dan itu semua menuntut ketertarikan hati yang begitu dalam kepada Allah. Sehingga hatinya akan menjadi senantiasa kembali taat dan mengingat Allah, merasa takut hukuman-Nya, berharap dan cemas karena-Nya. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah ta’ala dalam firman-Nya,

مَنْ خَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُنِيبٍ

“Yaitu barang siapa yang merasa takut kepada Ar-Rahman dalam keadaan dia tidak melihat-Nya dan menghadap Allah dengan hati yang kembali taat.” (QS. Qaaf: 33)

Karena seorang pencinta tentu akan merasa khawatir apa yang dicarinya menjadi sirna atau apa yang ditakutkannya benar-benar terjadi. Oleh sebab itu tidaklah seseorang menjadi hamba Allah yang sejati kecuali dirinya berada dalam keadaan takut serta berharap-harap. Hal itu sebagaimana yang difirmankan Allah ta’ala,

أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا

“Sesembahan-sesembahan yang diseru selain Allah itu adalah justru beramal demi mencari kedekatan diri kepada Allah siapakah diantara mereka yang bisa menjadi paling dekat kepada-Nya, mereka mengharap rahmat-Nya dan khawatir tertimpa azab-Nya. Sesungguhnya azab Rabbmu harus ditakuti dan diwaspadai.” (QS. Al-Israa’: 57) …” (Al-’Ubudiyah, hal. 108).


Raih cintaNya, kenali keinginanNya. Al-Qur'an sebagian rahasiaNya yang terbuka untuk merebut perhatianNya. Serukan " Al-qur'an Dusturuna". Selamat menikmati indahnya cinta.

Rabu, 10 September 2008

Fitnah Qubur Menurut Al-Qur’an, As-Sunnah, dan Mawqif Para Ulama As-Salafus-Shalih

Abi AbduLLAAH

Prolog

Beberapa waktu yang lalu saya diundang oleh para ikhwah wa akhwat ke Sulawesi Selatan untuk mengisi ceramah berkaitan dengan Azab Qubur, dalam salah satu kesempatan tanya-jawab, ada sesorang ikhwah yang bertanya demikian: “Ustadz, bukankah azab kubur tersebut tidak diindikasikan dalam KitabuLLAAH, ia disebutkan dalam hadits, tapi haditsnya pun ahad, sehingga kedudukan hukumnya dha’if dan tidak dapat dijadikan hujjah?”

Saya terdiam sesaat mendengar pertanyaan tersebut, berpendapat bahwa azab kubur tidak diindikasikan dalam al-Qur’an adalah sebuah masalah, lalu berpendapat hadits ahad tidak dapat dijadikan hujjah adalah masalah yang lebih besar, kemudian berpendapat bahwa hadits ahad adalah dha’if adalah masalah yang jauh lebih besar lagi.

Hal yang sama terjadi lagi saat saya mengisi di Bandung, maka kedua hal ini membuat saya mencoba meneliti berbagai sumber kitab-kitab tafsir yang mu’tabar, kitab-kitab hadits yang shahih dan hasan saja sehingga dapat dijadikan hujjah, serta pendapat para ulama salafus-shalih berkaitan dengan masalah ini, semoga bermanfaat bagi diri ana sendiri dan bagi ikhwah wa akhwat fiLLAAH anggota millist AL-IKHWAN..

Salaam,
Abi AbduLLAAH

Ayat-Ayat Al-Qur’an Yang Berkaitan dengan Adzab Qubur

1. Tafsir QS Ibrahim, XIV/27:

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآَخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُعن البراء بن عازب أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ” المسلم إذا سئل في القبر يشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله فذلك قوله ( يثبت الله الذين آمنوا بالقول الثابت في الحياة الدنيا وفي الآخرة ) وفي رواية عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ( يثبت الله الذين آمنوا بالقول الثابت ) نزلت في عذاب القبر يقال له : من ربك ؟ فيقول : ربي الله ونبيي محمد

Berkaitan dengan ayat: “Sesungguhnya ALLAH meneguhkan bagi orang-orang yang beriman kata-kata yang teguh di kehidupan dunia maupun di akhirat, dan menyesatkan orang yang zhalim, sesungguhnya ALLAH melakukan apa yang dikehendaki-NYA.” (QS Ibrahim, 14/27) [1]. Nabi SAW bersabda: Ketika ditanya di dalam kubur, maka mereka menjawab dengan mengucap syahadah, itulah makna ayat ini. Dalam matan hadits yang lain, Nabi SAW bersabda tentang ayat ini bahwa ia diturunkan tentang azab kubur, ditanya pada seseorang: Siapa RABB-mu? Maka ia menjawab: RABB-ku adalah ALLAH.

2. Tafsir QS At-Taubah, 9/101:

وَمِمَّنْ حَوْلَكُمْ مِنَ الْأَعْرَابِ مُنَافِقُونَ وَمِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ مَرَدُوا عَلَى النِّفَاقِ لَا تَعْلَمُهُمْ نَحْنُ نَعْلَمُهُمْ سَنُعَذِّبُهُمْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ يُرَدُّونَ إِلَى عَذَابٍ عَظِيمٍ

Dalam hadits shahih dikatakan bahwa makna “mereka diazab 2 kali” dalam ayat tersebut salah satunya adalah azab di kubur[2].

3. Tafsir QS Ghafir, 40/46:

النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آَلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ

Dalam hadits shahih dinyatakan bahwa makna api yang didekatkan kepada Fir’aun setiap pagi & sore hari sebelum datangnya Hari Kiamat adalah azab kubur[3].

Hadits-Hadits Shahih Tentang Fitnah Qubur

Hadits-hadits shahih dalam masalah ini amat sangat banyak, diantaranya seperti saat berceramah beliau SAW pernah menceritakan tentang azab kubur, sehingga gaduhlah mereka yang mendengarnya[4].

Demikian pula dari Aisyah ra berkata: “Tidak pernah kulihat Nabi SAW setelah selesai shalat melainkan meminta perlindungan dari azab kubur.[5]” Juga pada saat shalat Kusuf, beliau SAW memerintahkan untuk berlindung dari azab kubur[6]. Dan menurut Imam Nawawi - dalam syarah-nya atas Muslim - ada lebih dari 60 hadits shahih yang marfu’ berkaitan dengan masalah ini.

Hadits-hadits shahih & hasan tentang adzab qubur amatlah banyak, bahkan sebagian ulama muhadditsin menyatakan bahwa hadits-hadits tentang adzab qubur mencapai derajat Mutawattir Ma’nawi.[7] Dengan demikian terbantahlah orang yang mengatakan bahwa azab qubur tidak bisa diterima karena haditsnya adalah hadits ahad[8].

1. Menceritakan/berkhutbah tentang Fitnah Qubur[9]:

قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطِيبًا فَذَكَرَ فِتْنَةَ الْقَبْرِ الَّتِي يَفْتَتِنُ فِيهَا الْمَرْءُ فَلَمَّا ذَكَرَ ذَلِكَ ضَجَّ الْمُسْلِمُونَ ضَجَّةً

2. Berlindung dari Fitnah & Adzab Qubur[10]:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَعَوَّذُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ النَّارِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْقَبْرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْغِنَى وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْفَقْرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

3. Mendoakan orang lain agar selamat dari Adzab Qubur[11]:

سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصَلَّى عَلَى جَنَازَةٍ يَقُولُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَاعْفُ عَنْهُ وَعَافِهِ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِمَاءٍ وَثَلْجٍ وَبَرَدٍ وَنَقِّهِ مِنْ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَقِهِ فِتْنَةَ الْقَبْرِ وَعَذَابَ النَّارِقَالَ عَوْفٌ فَتَمَنَّيْتُ أَنْ لَوْ كُنْتُ أَنَا الْمَيِّتَ لِدُعَاءِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى ذَلِكَ الْمَيِّتِ

4. Memerintahkan Agar Saat Tasyahud Akhir Kita Berlindung dari Adzab Qubur[12]:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” إذا فرغ أحدكم من التشهد الآخر فليتعوذ بالله من أربع من عذاب جهنم ومن عذاب القبر ومن فتنة المحيا والممات ومن شر المسيح الدجال ” . رواه مسلم

5. Termasuk Anak Kecil yang Meninggal Boleh Didoakan Agar Selamat dari Azab Qubur[13]:

وعن سعيد بن المسيب قال : صليت وراء أبي هريرة على صبي لم يعمل خطيئة قط فسمعته يقول : اللهم أعذه من عذاب القبر . رواه مالك

4. Saat Shalat Kusuf Nabi SAW juga Berlindung dari Azab Qubur[14]

Beberapa Masalah Berkaitan dengan Adzab Qubur

1. Mungkinkah orang Mendengar Orang yang Diazab Dikuburnya?

a. Secara Zhahir-nya Semua manusia & Jin Tidak Bisa Mendengarnya, berdasarkan hadits:

إِنَّهُمْ يُعَذَّبُونَ عَذَابًا تَسْمَعُهُ الْبَهَائِمُ …

“Sesungguhnya mereka diazab dengan siksa yang hanya dapat didengar oleh seluruh binatang-binatang…”[15]

b. Tetapi Nabi SAW ternyata dalam beberapa kesempatan bisa mendengarnya dengan izin ALLAH SWT:

لولا أن لا تدافنوا لدعوت الله عز و جل أن يسمعكم ( من ) عذاب القبر

“Jika seandainya aku tidak khawatir kalian meninggal/hilang pendengaran kalian aku akan berdoa agar ALLAH ‘Azza wa Jalla membuat kalian bisa mendengar azab qubur.”[16]

c. Maka jika ALLAH SWT menghendaki maka orang lainpun bisa saja mendengarnya, berdasarkan hadits berikut:

دخل علي رسول الله صلى الله عليه وسلم و أنا في حائط من حوائط بني النجار فيه قبور منهم قد ماتوا في الجاهلية ، فسمعهم و هو يعذبون…

“Masuk kekamarku Nabi SAW dan aku sedang kampung Bani Najjar, disana ada kuburan mereka yang sudah meninggal dimasa jahiliyyah, lalu mereka mendengar suara orang-orang tersebut diazab di dalam kuburnya…”[17]

2. Surat Al-Mulk Bisa Menghindarkan Dari Azab Qubur[18]:

سورة تبارك هي المانعة من عذاب القبر

3. Pembacaan Surat Al-Mulk tersebut Afdhal Dilakukan Tiap Malam[19]:

من قرأ تبارك الذي بيده الملك كل ليلة منعه الله عز وجل بها من عذاب القبر وكنا في عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم نسميها المانعة وإنها في كتاب الله عز وجل سورة من قرأ بها في كل ليلة فقد أكثر وأطاب

4. Orang yang Mati Di Hari Jumat atau di Malam Jumat Diselamatkan dari Adzab Qubur[20]:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” ما من مسلم يموت يوم الجمعة أو ليلة الجمعة إلا وقاه الله فتنة القبر “

5. Orang yang Mati Syahid Diselamatkan dari Azab Qubur[21]:

عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ” كل ميت يختم على عمله إلا الذي مات مرابطا في سبيل الله فإنه ينمى له عمله إلى يوم القيامة ويأمن فتنة القبر “

6. Orang yang Shalih, Dikuburnya Tidak Merasa Takut Terhadap Fitnah Qubur[22]:

أما فتنة الدجال فإنه لم يكن نبي إلا قد حذر أمته و سأحذركموه بحديث لم يحذره نبي أمته إنه أعور و إن الله ليس بأعور مكتوب بين عينيه كافر يقرأه كل مؤمن ; و أما فتنة القبر فبي تفتنون و عني تسألون فإذا كان الرجل الصالح أجلس في قبره غير فزع ثم يقال له : ما هذا الرجل الذي كان فيكم ؟ فيقول : محمد رسول الله جاءنا بالبينات من عند الله فصدقناه فيفرج له فرجة قبل النار فينظر إليها يحطم بعضها بعضا فيقال له : انظر إلى ما وقاك الله ثم يفرج له فرجة إلى الجنة فينظر إلى زهرتها و ما فيها فيقال له : هذا مقعدك منها و يقال له : على اليقين كنت و عليه مت و عليه تبعث إن شاء الله و إذا كان الرجل السوء أجلس في قبره فزعا فيقال له : ما كنت تقول ؟ فيقول : لا أدري فيقال : ما هذا الرجل الذي كان فيكم ؟ فيقول : سمعت الناس يقولون قولا فقلت كما قالوا فيفرج له فرجة من قبل الجنة فينظر إلى زهرتها و ما فيها فيقال له : انظر إلى ما صرف الله عنك ثم يفرج له فرجة قبل النار فينظر إليها يحطم بعضها بعضا و يقال : هذا مقعدك منها على الشك كنت و عليه مت و عليه تبعث إن شاء الله ثم يعذب .

7. Azab Qubur Sebagian Besar Disebabkan Najis yang Tidak Bersih Saat Buang Air Kecil & Ghibah[23]:

أكثر عذاب القبر من البول

Pendapat Para Ulama Salafuna Ash-Shalih Tentang Azab Qubur
1. Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali berkata[24]: “Yang dinamakan fitnah kematian adalah termasuk di dalamnya su’ul-khatimah & fitnah kedua Malaikat saat di dalam kubur, bahwa sesungguhnya manusia diberi cobaan di dalam kuburnya.”

2. Imam As-Suyuthi berkata[25]: “Telah ditakhrij oleh Tirmidzi & di-hasan-kannya, juga oleh Ibnu Abid Dunya, Al-Ajuri dalam Asy-Syari’ah & Al-Baihaqi dalam kitab Azab Al-Qabri dari Abu Hurairah berkata bersabda Nabi SAW : Jika mayit telah dikubur maka datang 2 orang malaikat yang hitam legam, yang satu bernama Munkar & yang satu lagi dinamai Nakir.”

3. Imam Al-Ghazali berkata[26]: “Adapun mengenai azab qubur, maka telah ditunjukkan oleh dalil syariatyang sebagiannya mencapai mutawatir dari Nabi SAW & para sahabat, bahwa mereka berdoa berlindung darinya dan telah masyhur hadits Nabi SAW melewati 2 kuburan yang sedang diazab dan juga telah ditunjukkan oleh dalil Al-Qur’an : Dan telah tetap bagi keluarga Fir’aun azab yang seburuk-buruknya, yaitu api yang dihadapkan padanya tiap pagi & petang hari.”

4. Imam Ibnul Qayyim berkata[27]: “Dan adapun azab kubur adalah benar dan orang-orang yang beriman diberikan cobaan di kubur mereka dan mereka ditanyai (oleh malaikat), tetapi ALLAH SWT meneguhkan lisan siapa yang dikehendaki-NYA mereka untuk bisa menjawab.”

5. Imam Al-Baqilani berkata[28]: “Dalil akan pastinya azab kubur adalah firman ALLAH SWT: Dan barangsiapa yang berpaling dari Al-Qur’an ini maka baginya kehidupan yang sempit. Berkata Abu Hurairah bahwa maksudnya azab kubur, demikian pula sabda Nabi SAW : Kubur itu adalah satu taman dari taman-taman surga atau satu lubang dari lubang-lubang neraka. Demikian pula ayat tentang siksaan bagi Fir’aun, serta hadits doa Nabi SAW untuk dilindungi dari azab kubur.”

6. Imam Al-Baihaqi bahkan menulis satu kitab tersendiri berjudul “Itsbat ‘Azabil Qabr” (Pastinya Azab Kubur).

7. Imam Al-Bukhari-pun menulis dalam kitabnya bab khusus[29] menjelaskan tentang azab kubur, demikian pula Imam Muslim[30], demikian para Imam Ash-habus Sunan sebagaimana dapat dilihat dalam seluruh kitab-kitab hadits mereka.


Catatan Kaki:

[1] HR Bukhari, V/160 & Muslim, XIV/33-34

[2] HR Bukhari, V/159, Bab Ma Ja’a Fi ‘Adzabil Qabri

[3] HR Bukhari, V/159, Bab Ma Ja’a Fi ‘Adzabil Qabri

[4] HR Bukhari, no. 1373

[5] HR Bukhari, no. 1372 dan Muslim, Kitabul Masajid, no. 125-126

[6] HR Bukhari no. 1050 dan Muslim, Kitabul Kusuf, no. 8

[7] Lih. Al-Ayat Al-Bayyinat Fi ‘Adami Sima’il Amwat ‘ala Madzhabil Hanafiyyatis Sadat, I/81, Imam Al-Alusi

[8] Faham seperti ini adalah mazhab Mu’tazilah & telah dibantah oleh Jumhur Ulama, diantaranya dalam tulisan Imam Ibnu Rajab, 1/81 & Ibnul Qayyim, hal. 50

[9] HR Bukhari, V/164, bab Maa Ja’a fi Adzabil Qabri

[10] HR Bukhari, IV/200-202; Muslim, VIII/75; Ibnu Majah, no. 3838; Ahmad, VI/57; Nasa’i, II/315; Tirmidzi, II/263

[11] HR Muslim; III/59; Nasa’I, I/21; Ibnu Majah, no. 1200; Ahmad, VI/23

[12] HR Muslim, III/248

[13] HR Malik, II/192; di-shahih-kan Albani dalam Al-Misykah, I/380

[14] HR Bukhari, IV/168; Muslim, IV/449

[15] HR Bukhari, XIX/455; Muslim, III/243

[16] HR Muslim, VIII/161; Ahmad, III/201; Ibnu Hibban, no. 786; Nasa’i, I/201

[17] HR Ahmad, VI/362; berkata Albani : Shahih berdasarkan syarat Muslim, lih. Ash-Shahihah, III/429

[18] HR Hakim, III/214; Tirmidzi, II/146; Abu Na’im, III/81; Di-shahih-kan oleh Albani, dalam Ash-Shahihah, III/131

[19] HR Nasa’i & Hakim, Di-hasan-kan oleh Albani dalam At-Targhib, II/91

[20] HR Ahmad, no. 6582 & Tirmidzi, dan di-hasan-kan oleh Albani dalam Misykah Al-Mashabih, I/305

[21] HR Tirmidzi, II/3; Abu Daud, I/391; Al-Hakim, II/144 dan Ahmad, VI/20; dan di-shahih-kan oleh Albani dalam Shahih At-Targhib wa Tarhib, II/31

[22] HR As-Suyuthi, no. 2241 & Di-hasan-kan oleh Albani dalam Shahih wa Dha’if Al-Jami’, VI/188

[23] HR Bukhari, V/170, bab Adzabil Qabri minal Ghibati wal Bauli; Ibnu Abi Syaibah, I/24; Ibnu Majah, no. 348; Hakim, I/183; Ahmad, II/326

[24] Ikhtiyar Al-Awla fi Syarhil Haditsi Ikhtisham Al-Mala’il A’la, I/21

[25] Al-Haba’ik fi Akhbaril Mala’ik, I/26

[26] Al-Iqtishad fil I’tiqad, I/68

[27] Ijtima’ al-Juyusy Al-Islamiyyah ‘ala Ghazwil Mu’athilah wal Jahmiyyah, I/27

[28] Al-Inshaf, I/15

[29] Al-Jami’us Shahih, Kitab Al-Jana’iz, Bab Ma Ja’a fi Azab Al-Qabri; lih. Juga syarah-nya dalam Al-Fath, III/232

[30] Shahih Muslim, Bab Istihbab At-Ta’awwudz min ‘Adzabil Qabri, juz III/240