Senin, 15 September 2008

Lailatul Qadar dan Nuzulul Qur'an

Lailatul Qadar adalah nama julukan untuk suatu malam di mana di malam itu Al-Quran diturunkan sepenuhnya dari Lauhil Mahfudz ke langit dunia, secara sekaligus bukan sedikit-sedikit.

Ini adalah masa penurunan (nuzul) Al-Quran fase pertama. Sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Qadar.

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ لَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada lailatul qadar.Dan tahukah kamu apakahlailatul qadaritu? Lailatul qadaritu lebih baik dari seribu bulan.Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS Al-Qadr: 1-5)

Adapun yang seringkali diperingati tiap tanggal 17 Ramadhan itu bukan lailatul qadar, sebab kalau kita kaitkan dengan sabda nabi tentang lailatul qadar, beliau memerintahkan kita untuk menghadangnya di 10 malam terakhir di bulan Ramadhan.

Lalu yang tanggal 17 Ramadhan itu malam apa?

Menurut para ahli sejarah, pada tanggal 17 Ramadhan itulah pertama kali turunnya Al-Quran dari langit dunia ke muka bumi. Jumlahnya hanya 5 ayat saja, yaitu ujung ayat surat Al-'Alaq. Jadi tepatnya malam 17 Ramadhan itu adalah malam awal mula turunnya 5 ayat Quran pertama ke muka bumi dari langit dunia. Tapi bukan lailatul qadar yang nilainya sma dengan seribu bulan.

Syekh Shafiyur Rahman Al-Mubarakfuriy (penulis Sirah Nabawiyah) menyatakan bahwa para ahli sejarah banyak berbeda pendapat tentang kapan waktu pertama kali diturunkannya Al-Qur’an, pada bulan apa dan tanggal berapa, paling tidak ada tiga pendapat :

Pertama: Pendapat yang mengatakan bahwa Nuzulul Qur’an itu ada pada bulan Rabiul Awwal,

Kedua: Pendapat yang mengatakan bahwa Nuzulul Qur’an itu pada bulan Rajab,

Ketiga: Pendapat yang mengatakan bahwa Nuzulul Qur’an itu pada bulan Ramadhan.

Yang berpendapat pada bulan Rabiul Awwal pecah menjadi tiga, ada yang mengatakan awal Rabiul Awwal, ada yang mengatakan tanggal 8 Rabiul Awwal dan ada pula yang mengatakan tanggal 18 Rabiul Awwal (yang terakhir ini diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiallaahu anhu).

Kemudian yang berpendapat pada bulan Rajab terpecah menjadi dua. Ada yang mengatakan tanggal 17 dan ada yang mengatakan tanggal 27 Rajab (hal ini diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallaahu anhu -lihat Mukhtashar Siratir Rasul, Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab An-Najdy, hal.75 -).

Al Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani di dalam Fathul Bari berkata bahwa: Imam Al-Baihaqi telah mengisahkan bahwa masa wahyu mimpi adalah 6(enam) bulan.

Maka berdasarkan kisah ini permulaan kenabian dimulai dengan mimpi shalihah (yang benar) yang terjadi pada bulan kelahirannya yaitu bulan Rabiul Awwal ketika usia beliau genap 40 tahun. Kemudian permulaan wahyu yaqzhah (dalam keadaan terjaga) dimulai pada bulan Ramadhan.

Sesungguhnya kita menguatkan pendapat yang mengatakan bahwa Nuzulul Qur’an ada pada bulan Ramadhan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, artinya,“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an” (Al-Baqarah:185 ). Dan Allah berfirman, artinya, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan” (Al-Qadr :1).

Seperti yang telah kita maklumi bahwa Lailatul Qadr itu ada pada bulan Ramadhan yaitu malam yang dimaksudkan dalam firman Allah yang artinya: “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan” (Ad-Dukhaan:3 ).

Dan karena menyepinya Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam di gua Hira’ adalah pada bulan Ramadhan, dan kejadian turunnya Jibril as adalah di dalam gua Hira’. Jadi Nuzulul Qur’an ada pada bulan Ramadhan, pada hari Senin, sebab semua ahli sejarah atau sebagian besar mereka sepakat bahwa diutusnya beliau menjadi Nabi adalah pada hari Senin. Hal ini sangat kuat karena Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam ketika ditanya tentang puasa Senin beliau menjawab: “Di dalamya aku dilahirkan dan di dalamnya diturunkan (wahyu) atasku” (HR. Muslim).

Dalam sebuah lafadz dikatakan “Itu adalah hari dimana aku dilahirkan dan hari dimana aku diutus atau diturunkan (wahyu) atasku”(HR. Muslim, Ahmad, Baihaqi dan Al-Hakim).

Akan tetapi pendapat ketiga inipun pecah menjadi lima, ada yang mengatakan tanggal 7 (hari Senin), ada yang mengatakan tanggal 14 (hari Senin), ada yang mengatakan tanggal 17 (hari Kamis), ada yang mengatakan tanggal 21 (hari Senin) dan ada yang mengatakan tanggal24 (hari Kamis).

Pendapat ” 17Ramadhan” diriwayatkan dari sahabat Al-Bara’ bin Azib dan dipilih oleh Ibnu Ishaq, kemudian oleh Ustadz Muhammad Huzhari Bik.

Pendapat ” 21Ramadhan” dipilih oleh Syekh Al-Mubarakfuriy, karena Lailatul Qadr ada pada malam ganjil, sedangkan hari Senin pada tahun itu adalah tanggal7 ,14 , 21 dan28 .

Sedangkan pendapat ” 24Ramadhan” diriwayatkan dari Aisyah, Jabir dan Watsilah bin Asqo’ , dan dipilih oleh Ibnu Hajar Al-Haitamiy, ia mengatakan: “Ini sangat kuat dari segi riwayat”.


Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,


Minggu, 14 September 2008

Kapan Al-Quran menjadi Dustur

Sudahkah para lelaki siap berlaku sebagai lelaki sebagaimana para sahabat menantang maut tatkala memperlakukan al-Qur'an sebagai dustur dalam kehidupannya. Sudahkan para ibu merelakan keluarganya, suaminya, anaknya dan kehidupannya bergerak sebagaimana sahabiyah bergerak mengikuti alur al-Qur'an. Sudahkah setiap pribadi bertekad untuk mengaplikasikan al-Qur'an sebagai sesuatu yang realita dalam hidupnya. Bukan sekedar tulisan, naskah kuno atau artikel yang diperbincangkan dibalik meja atau di depan layar televisi untuk sekedar komoditi otak dan kefasihan bicara para tukang debat. Para lelaki masih ketakutan sekedar lecet jari kaki atau merah kulit terbakar sinar hangat matahari untuk melangkah melalui perjalanan dakwah. Para ibu masih lebih khawatir suami kehilangan penghasilannya daripada kehilangan semangat dakwahnya. Lalu kita? Mengkhawatirkan kehilangan segala sesuatu kecuali dakwah. Dakwah yang merupakan sikap nyata mendusturkan al-Qur'an, menjadi begitu murah nilainya. Maka tak heran kitapun menjadi murahan. Tak bernilai dan dilecehkan orang. Relakah kita terus seperti itu,

جهاد فلسطين آمال عظيمة رغم الآلام الجسيمة Jihad of Palestine despite the great hopes of serious pain 2

حصار متواصل(pengepungan yang berkelanjutan) يُشارك فيه القاصي والداني، وتآمر جديد يتحالف فيه القريب مع البعيد، وأعداء جُدد في الداخل لا يقلون شراسة عن أعداء الخارج، وأعباء حياتية إلى جانب التحديات السياسية والأمنية والاقتصادية، وتلاعب ومكر ونفاق على أعلى مستوياته الرسمية، وابتزاز وانتهازية من الفرق البدعية.. قتل وأسر، هرج ومرج، ونار وتضييق ودمار، دون قدرة على نصرة من قريب أو بعيد! ولم يعد هناك مخرج إلا الهروب.. نعم.. الهروب إلى الله، بل الفرار إليه، فهذا هو المخرج أيها المجاهدون والمرابطون: {فَفِرُّوا إلَى اللَّهِ} [الذاريات: 50]ان تواصل

Jihad of Palestine despite the great hopes of serious pain جهاد فلسطين آمال عظيمة رغم الآلام الجسيمة


مقدمة
عد أربعين عاماً على ضياع القدس وأسر الأقصى، وما يقرب من ستين عاماً على اغتصاب اليهود لفلسطين، ونحو تسعين عاماً من احتلال الإنجليز لها، وما يزيد عن قرنٍ ونصف من بداية التآمر عليها، بالتخطيط لما صار يسمى بـ (أزمة الشرق الأوسط)[1]، وبعد تضحيات ضخمة في حروب كبرى فاشلة، وتنازلات فادحة في عمليات (سلام) خاسرة..، بعد كل ذلك؛ هانحن نرى تلك الأزمة تقـف بأطـرافها عنـد طـريـق مغلق وأفـق مسدود، وأمـل لا رجاء به إلا في رحمة الله اللطيف بعباده


[1] Krisis Timur Tengah

Sabtu, 13 September 2008

Al-Qur'an Dusturuna 2

Atap yang Terpelihara



Gambar ini memperlihatkan sejumlah meteor yang hendak menumbuk bumi. Benda-benda langit yang berlalu lalang di ruang angkasa dapat menjadi ancaman serius bagi Bumi. Tapi Allah, Pencipta Maha Sempurna, telah menjadikan atmosfir sebagai atap yang melindungi bumi. Berkat pelindung istimewa ini, kebanyakan meteorid tidak mampu menghantam bumi karena terlanjur hancur berkeping-keping ketika masih berada di atmosfir.

Dalam Al Qur’an, Allah mengarahkan perhatian kita kepada sifat yang sangat menarik tentang langit:

“Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang ada padanya.” (Al Qur’an, 21:32)

Sifat langit ini telah dibuktikan oleh penelitian ilmiah abad ke-20.

Atmosfir yang melingkupi bumi berperan sangat penting bagi berlangsungnya kehidupan. Dengan menghancurkan sejumlah meteor, besar ataupun kecil ketika mereka mendekati bumi, atmosfir mencegah mereka jatuh ke bumi dan membahayakan makhluk hidup.

Atmosfir juga menyaring sinar-sinar dari ruang angkasa yang membahayakan kehidupan. Menariknya, atmosfir hanya membiarkan agar ditembus oleh sinar-sinar tak berbahaya dan berguna, - seperti cahaya tampak, sinar ultraviolet tepi, dan gelombang radio. Semua radiasi ini sangat diperlukan bagi kehidupan. Sinar ultraviolet tepi, yang hanya sebagiannya menembus atmosfir, sangat penting bagi fotosintesis tanaman dan bagi kelangsungan seluruh makhluk hidup. Sebagian besar sinar ultraviolet kuat yang dipancarkan matahari ditahan oleh lapisan ozon atmosfir dan hanya sebagian kecil dan penting saja dari spektrum ultraviolet yang mencapai bumi.


Kebanyakan manusia yang memandang ke arah langit tidak pernah berpikir tentang fungsi atmosfir sebagai pelindung. Hampir tak pernah terlintas dalam benak mereka tentang apa jadinya bumi ini jika atmosfir tidak ada. Foto di atas adalah kawah raksasa yang terbentuk akibat hantaman sebuah meteor yang jatuh di Arizona, Amerika Serikat. Jika atmosfir tidak ada, jutaan meteorid akan jatuh ke Bumi, sehingga menjadikannya tempat yang tak dapat dihuni. Namun, fungsi pelindung dari atmosfir memungkinkan makhluk hidup untuk melangsungkan kehidupannya dengan aman. Ini sudah pasti perlindungan yang Allah berikan bagi manusia, dan sebuah keajaiban yang dinyatakan dalam Al Qur’an.

Fungsi pelindung dari atmosfir tidak berhenti sampai di sini. Atmosfir juga melindungi bumi dari suhu dingin membeku ruang angkasa, yang mencapai sekitar 270 derajat celcius di bawah nol.

Tidak hanya atmosfir yang melindungi bumi dari pengaruh berbahaya. Selain atmosfir, Sabuk Van Allen, suatu lapisan yang tercipta akibat keberadaan medan magnet bumi, juga berperan sebagai perisai melawan radiasi berbahaya yang mengancam planet kita. Radiasi ini, yang terus- menerus dipancarkan oleh matahari dan bintang-bintang lainnya, sangat mematikan bagi makhuk hidup. Jika saja sabuk Van Allen tidak ada, semburan energi raksasa yang disebut jilatan api matahari yang terjadi berkali-berkali pada matahari akan menghancurkan seluruh kehidupan di muka bumi.

Dr. Hugh Ross berkata tentang perang penting Sabuk Van Allen bagi kehidupan kita:

Bumi ternyata memiliki kerapatan terbesar di antara planet-planet lain di tata surya kita. Inti bumi yang terdiri atas unsur nikel dan besi inilah yang menyebabkan keberadaan medan magnetnya yang besar. Medan magnet ini membentuk lapisan pelindung berupa radiasi Van-Allen, yang melindungi Bumi dari pancaran radiasi dari luar angkasa. Jika lapisan pelindung ini tidak ada, maka kehidupan takkan mungkin dapat berlangsung di Bumi. Satu-satunya planet berbatu lain yang berkemungkinan memiliki medan magnet adalah Merkurius - tapi kekuatan medan magnet planet ini 100 kali lebih kecil dari Bumi. Bahkan Venus, planet kembar kita, tidak memiliki medan magnet. Lapisan pelindung Van-Allen ini merupakan sebuah rancangan istimewa yang hanya ada pada Bumi. (http://www.jps.net/bygrace/index. html Taken from Big Bang Refined by Fire by Dr. Hugh Ross, 1998. Reasons To Believe, Pasadena, CA.)

Tafrith dan ,Ifrath

Kesesatan selain penyembahan kepada selain Allah yang akhirnya menjadi melakukan penyembahan kepada selain Allah adalah karena perbuatan Tafrith dan Ifrath.

Kita simak sejarah,

عَنْ عَدِيّ بْن حَاتِم قَالَ : قَالَ لِي رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” إِنَّ الْمَغْضُوب عَلَيْهِمْ :” الْيَهُود”

Dari Ady bin Hatim r.a. berkata : Nabi shalallahu’alaihi wasallam membaca Sesungguhnya Orang-orang yang dimurkai adalah ., “Alyahud (Yahudi)”. [1]

عَنْ عَدِيّ بْن أَبِي حَاتِم , قَالَ : قَالَ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : { وَلَا الضَّالِّينَ } قَالَ : ” النَّصَارَى “

Dari Ady bin Hatim r.a. berkata : Nabi shalallahu’alaihi wasallam membaca ” Dan bukan jalann orang-orang yang sesat”, ia bersabda Nashrani [2]

Kekafiran Yahudi adalah karena mereka mengetahui kebenaran tapi tidak mengamalkannya, baik dengan ucapan maupun perbuatan. Sedangkan kekafiran Nashrani adalah dari sisi amal mereka tanpa ilmu. Mereka berusaha mengamalkan berbagai macam ibadah tanpa syari’at dari Allah. Dan mereka berbicara tentang Allah apa-apa yang tidak mereka ketahui.” [3]

Mereka di sebut pelaku Ifrath dan Tafrith, yakni Ifrath adalah melampaui batas dalam beribadah dan beramal tanpa ilmu. Sedangkan tafrith adalah kebalikannya, yaitu melalaikan dan meremehkan ibadah bahkan menentang Kebenaran yang telah diketahui.

Godaan syaithan melalu dua jalur ini. Pertama, dia mengajak manusia kepada kekufuran dan pengingkaran terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui ilmu dan keilmiahannya, (tafrith). Kemudian jika tidak berhasil maka dia menjerumuskan mereka untuk beramal dan beribadah dengan melampaui batas (ifrath) tanpa ilmu yang menyeretnya kepada perbuatan bid’ah sehingga menyimpang dari jalan yang lurus dan akhirnya membawa mereka kepada kesesatan dan kekufuran. (Lihat Makaidus Syaithan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah)

Gambaran mereka yang tersesat dalam sikap tafrith adalah seperti Yahudi, sedangkan yang tersesat dalam sikap ifrath adalah seperti Nashara.

Yahudi terjerumus dalam sikap tafrith sampai membunuh para Nabi dan mencela Isa bin Maryam ‘alaihis salam hanya karena nafsu dan kedengkian mereka. Sejarah menyebutkan mereka tahu dan sangat mengenal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti mengenal anak mereka sendiri. Mereka mengenal namanya, sifat-sifatnya, dan lain-lain tentangnya, tapi mereka mengingkari dan menentang beliau. Dan bercokolnya mereka di Madinah karena menunggu nubuwah akan kedatangan seorang Rasul di negeri itu.

Allah berfirman : “Padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapatkan kemenangan atas orang-orang kafir. Maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah atas orang-orang yang ingkar.” (QS. Al Baqarah : 89 )

Allah murka dan melaknat Yahudi karena sikap tafrith, mengetahui Al Haq tapi mengingkarinya. Maka Allah mengatakan tentang mereka : Katakanlah : “Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasiq) itu di sisi Allah? Yaitu orang-orang yang dilaknat dan dimurkai oleh Allah dan di antara mereka ada yang dijadikan kera-kera dan babi-babi dan penyembah thaghut.” (QS. Al Maidah : 60 )

Sedangkan Nashrani tersesat dalam sikap ifrath dengan menuhankan Isa dan menyembah pendeta-pendeta. Allah berfirman tentang mereka : “Wahai Ahli Kitab, janganlah kalian melampaui batas (ghuluw) dalam agamamu dan janganlah kalian mengatakan atas (nama) Allah kecuali yang haq. Sesungguhnya Al Masih Isa putra Maryam adalah Rasulullah … .” (QS. An Nisa’ : 171 )

Itulah sikap ifrath (berlebih-lebihan dalam agama) mereka, berbicara tentang Allah dan atas nama Allah tanpa ilmu. Sehingga terucap dari mereka kalimat kufur yang sangat besar yaitu mengatakan bahwa Isa adalah jelmaan Allah atau Isa adalah anak Allah atau Isa, Maryam, dan Allah adalah satu yang tiga, tiga yang satu. Subhanallah, Maha Suci Allah dari apa yang mereka ucapkan!! Allah adalah satu, tidak beranak dan tidak diperanakkan! Maka kafirlah mereka dengan ucapan itu dan gugurlah amalan mereka dan ibadah mereka. Walaupun mereka beribadah kepada Allah dengan khusyu’ dan menangis, berdzikir menyebut nama Allah, dan memujinya dengan ikhlas. Demikianlah orang-orang yang berusaha untuk beribadah kepada Allah tetapi tanpa ilmu akhirnya mereka tersesat dan amalannya sia-sia.

Allah berfirman setelah mengatakan kekafiran orang-orang yang mengatakan bahwa Allah adalah satu dari yang tiga : “Wahai ahli kitab, janganlah kalian berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara yang tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat terdahulu (sebelum kedatangan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam). Mereka menyesatkan kebanyakan (manusia) dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” (QS. Al Maidah : 77 )

Dari beberapa uraian tersebut diatas jelaslah mengapa mereka dimurkai dan dinyatakan sesat. Kenapa juga kita sebagai orang mu’min selalu berdo’a dalam shalatnya “Ihdinash shiraatal Mustaqiim, Shirathal ladzina an’amta ‘alaihiim”, yakni tiada lain untuk terhindar dari dua kelompok yang dmurkai dan yang sesat.


Ibnu Katsir berkata tentang ayat ini : “Al Maghdhub Alaihim adalah orang-orang yang rusak niatnya. Mereka mengetahui Al Haq tapi menyeleweng darinya. Sedang Adh Dhaallin adalah orang-orang yang tidak memiliki ilmu sehingga mereka bingung dalam kesesatan, tidak mendapatkan petunjuk kepada Al Haq, … dan seterusnya.” (Tafsir Ibnu Katsir 1/31-32 )

Tafrih dan ifrath di kalangan kaum muslimin.

Rasulullah mensinyalir kondisi ini dalam suatu hadits dari Ibnu Mas’ud ra, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggaris satu garis dengan tangannya kemudian berkata : “Ini adalah jalan yang lurus.” Kemudian menggaris beberapa garis di kanan dan kirinya, kemudian berkata : “Ini jalan-jalan, tidak ada satu jalan pun daripadanya kecuali ada syaithan yang mengajak kepadanya.” Kemudian membacakan ayat : “Ini jalanku yang lurus maka ikutilah dia dan janganlah mengikuti jalan-jalan (lain) … .” (QS. Al An’am : 153 ) [HR. Ahmad, Ad Darimi, Al Hakim]

Riwayat-riwayat di atas menunjukkan bahwa umat beliau akan berpecah dalam berbagai macam jalan dan yang selamat hanya satu kelompok, tentu saja bukan satu organisasi. Hadits di atas juga menunjukkan bahwa yang selamat adalah mereka yang tetap berada dalam shirathal mustaqim (jalan yang lurus) sedangkan jalan-jalan yang lain adalah jalan-jalan syaithan. Dengan demikian hanya ada dua kemungkinan yaitu mengikuti jalan keselamatan atau jalan kesesatan, mengikuti jalan Allah atau jalan syaithan.

Dalam riwayat dari Abi Said Al Khudri, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa sebagian umat ini akan mengikuti model yahudi dan nashrani. “Pasti kalian akan mengikuti sunnah-sunnah (jalan/kebiasaan) orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal sehasta demi sehasta.” (Muttafaqun Alaihi)

Kita lihat bahwa perpecahan umat ini kita pahami bahwa dalam umat ini pun terdapat dua kesesatan model yahudi dan nashrani sebagai kaum yang dilaknat dan kaum yang sesat. Sufyan bin Uyainah dan para ulama Terdahulu yang Sholeh berkata : “Sesungguhnya orang yang rusak dari ulama kita, maka padanya ada penyerupaan terhadap yahudi. Dan orang yang rusak dari kalangan ahli ibadah kita maka padanya ada penyerupaan dengan nashrani.” [4]

Hadanallahu wa iyyakum ajma’in, wallahu a’lam bishowab

Footnote


[1] lihat : Jami’ul Bayan Imam Ath Thabary Hadist 163

[2] lihat : Jami’ul Bayan Imam Ath Thabary Hadist 173

[3] Iqtidha Shiratil Mustaqim oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah 1/67

[4] Kitab Iqtidha Shirathil Mustaqim oleh Syaikh Islam 1/68

Da'i adalah pekerjaan setiap kita


Dakwah adalah serangkaian aktivitas metodologis (manhaji) untuk mengubah dari satu tahapan kondisi ke tahapan kondisi berikutnya. Dengan demikian, aktivitas dakwah Islamiyah adalah :
  • Merubah kondisi kebodohan maknawi kepada pengertian yang jelas dan terang tentang Islam
  • Merubah pengertian kepada pola pikir (fikrah)
  • Merubah pola pikir menjadi aktivitas (harakah)
  • Merubah aktivitas menjadi keberhasilan (natîjah)
  • Merubah keberhasilan menjadi tujuan (ghâyah)
  • Merubah tujuan menjadi ridha Allah (mardhâtillâh)
Betul, pekerjaan dakwah bukan melulu khutbah dan tabligh, tapi ia menjadi bagian yang terpenting dari perjalanan dakwah ini.
Seorang khatib, atau muballigh harus mampu menampilkan ajaran Islam dengan cara yang mengesankan. Bukankah telah dipahami bersama bahwa kita harus berbicara (berkhutbah) kepada orang sesuai dengan keadaan orang itu, baik situasi, kondisi, pendidikan, latar belakang dan pola pikirnya?

خَاطِبُ النَّاسَ عَلَى قَدْرِ عُقُوْلِهِمْ

Serulah (bicaralah kepada) manusia sesuai dengan akal (kapasitas atau kemampuan) mereka.


Oleh karena itu khatib harus mengetahui dan menguasai aneka gaya dan langgam pidato. Berikut ini macam-macam langgam pidato yang banyak dipelajari dan dipraktekkan oleh para orator :

  • Langgam Agama
    Suara kadang menaik, kemudian menurun dengan ucapan lambat. Nada naik untuk penekanan sebuah materi, sedangkan nada turun dengan tempo agak lambat bertujuan supaya pendengar merenungkan apa yang sedang disampaikan.
  • Langgam Agitasi
    Materi disampaikan secara agresif dan eksplosif. Nada yang digunakan adalah nada-nada tinggi. Jiwa massa dikuasai dan digiring ke arah tujuan tertentu. Biasanya untuk membangkitkan semangat dan mengobarkan nasionalisme atau keagamaan.
  • Langgam Konservatif
    Langgam ini paling tenang dan bebas, seperti orang bicara. Biasanya digunakan ketika menceritakan sebuah peristiwa dan terjadi dialog antar pelaku di dalam cerita.
  • Langgam Didaktik
    Langgam ini bersifat mendidik pendengar, seperti orang tua menasihati anak, guru mengajar murid atau dosen membimbing mahasiswa. Penggunaan langgam ini mensyaratkan khatib lebih tua dari pendengar atau lebih berpengalaman sehingga benar-benar dihormati dan didengar nasihatnya. Nada bicara tenang (cool, calm dan confident). Bila orator kurang disegani, penggunaan langgam ini akan membosankan.
  • Langgam Sentimentil
    Mengemukakan persolan dengan memakai bahan-bahan yang dapat mencetuskan sentimen (membakar hati setiap pendengarnya). Digunakan untuk sebuah sindiran keras, bila sindiran halus ternyata tidak berhasil. Sindiran bisa menggunakan sebuah tokoh dari kisah yang pernah terjadi atau penokohan sebuah watak/karakter.
  • Langgam Teater
    Langgam berpidato yang penuh dengan gaya dan mimik. Intonasi, tempo dan nada bicara seperti pemain teater. Biasanya digunakan untuk menggambarkan sesuatu secara hiperbolik.
  • Langgam Statistik
    Digunakan bila mengemukakan sesuatu yang mengandung angka-angka atau statistik hasil penelitian. Langgam ini sangat cocok bila para pendengar adalah cerdik cendekia, yang lebih mengutamakan isi daripada bungkus. Biasanya para pendengar berusia agak lanjut.

Langgam-langgam di atas umumnya digunakan secara berkelompok (gabungan), tergantung situasi dan kondisi. Khatib harus meramu dan memasak dengan baik, sehingga ciri khas ditemukan dan pidato menjadi menarik, tidak membosankan. Dengan demikian, tujuan dakwah bisa dicapai lebih cepat dan lebih baik. Bahkan diharapkan tercipta langgam-langgam baru hasil kreatifitas para khatib atau da'i.

Ketika penulis mengikuti Training Khuthaba' yang diselenggarakan oleh Yayasan Koordinasi Masjid Surabaya pada tanggal 15 Juni 2008, salah seorang nara sumber, Prof. H. Moh. Ali Aziz—Guru Besar Ilmu Dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya; beliau juga salah seorang ustadz yang mengasuh penulis ketika mengaji di pesantren—memberikan tips-tips praktis dalam berkhutbah, yaitu :

  • Tetapkan waktu khutbah dan tepati, misalnya 15-20 menit.
  • Pada saat khutbah I, setelah pembukaan dengan bahasa Arab selesai, tidak perlu lagi mengulang puji syukur ke hadirat Allah SWT serta shalawat kepada Nabi saw. dalam bahasa Indonesia. Ketika memulai penyampaian dalam bahasa Indonesia, langsung saja membahas materi khutbah.
  • Jangan mengulang-ulang materi khutbah yang sedang trend. Misal sedang saatnya penerimaan siswa/mahasiswa baru. Jangan sampai semua khatib membahas tentang bagaimana memilih sekolah yang baik untuk anak. Hal ini membuat jamaah jenuh karena dalam beberapa Jum'at, setiap khatib mengulas hal yang sama.
  • Pada khutbah II tidak perlu membahas apa pun termasuk menyimpulkan isi khutbah I karena jamaah sudah bisa menyimpulkan sendiri materi khutbah yang telah disampaikan. Selain itu, juga agar waktu khutbah tidak terlalu lama mengingat bervariasinya pekerjaan atau kesibukan jamaah. Khutbah II cukup dalam bahasa Arab sampai dengan doa.

Selain mengetahui teknik berpidato yang baik, kaidah dakwah juga harus dimengerti, yaitu :

  • Al-Qudwah qabla da'wah (memberikan teladan yang baik sebelum berdakwah)
  • Ta'lîf qabla ta'rîf (memikat hati dan menumbuhkan rasa simpati sebelum mengenalkan misi)
  • Ta'rîf qabla taklîf (memberikan pengertian sebelum memberi beban)
  • Tadarruj fî taklîf (bertahap dalam memberikan beban atau amal)
  • Al-ushûl qabla furû' (mendahulukan yang pokok/prinsip, baru kemudian disampaikan cabang atau perbedaan-perbedaan)
  • At-targhîb qabla tarhîb (memberi kabar gembira sebelum ancaman)
  • At-taysir lâ ta'sîr (mempermudah, tidak mempersulit)
  • Al-awwaliyyât (ada skala prioritas)


Dengan semakin majunya pendidikan masyarakat, maka proses dakwah tidak sekadar menawarkan suatu metode klasik melalui pahala dan ancaman atau surga dan neraka; tetapi lebih dari itu, membutuhkan metodologi perencanaan komunikasi dan jaringan misi dakwah, dengan melihat atau menimbang semua indikator sosiokultural sasaran dakwah. Pesan-pesan dakwah tidak hanya ditujukan agar dapat disampaikan dan diterima oleh khalayak, tetapi hendaknya pesan tersebut mampu dimengerti, dihayati dan diamalkan. Bukankah ilmu yang tidak diamalkan ibarat pohon yang tidak berbuah?

Timbul sebuah pertanyaan, "Apakah sudah cukup bila sebagai khatib, kita menguasai teknik retorika dan dakwah? Bagaimana supaya pesan/nasihat agama yang kita sampaikan tidak hanya menjadi ilmu bagi para jamaah? Bagaimana caranya agar nasihat tersebut tidak sekadar masuk telinga yang satu dan keluar dari telinga pasangannya?"

Syaikh Ibnu Athaillah mengingatkan, "Setiap kalimat yang keluar dari lisan menunjukkan isi hati orang yang menuturkannya." Pesan yang keluar dari bibir seorang khatib harus bersumber dari lubuk hati.

Lisan adalah penerjemah kata hati. Setiap kalimat yang diucapkan oleh seorang khatib atau da'i harus keluar dari hatinya sendiri dengan hidayah Allah. Dengannya, maka yang mendengar akan menerima dengan hati nuraninya. Manusia ketika mendengar nasihat dan tutur kata seseorang, tidak semata-mata menginginkan ilmu yang akan disampaikan, akan tetapi lebih dari sekadar ilmu, yaitu sentuhan dan getaran ruhani yang mampu menggerakkan dan menyadarkan jiwa, perilaku dan pikiran.

Tutur kata yang dikeluarkan oleh hati akan masuk dan diterima oleh hati pula. Sebaliknya, ucapan yang disampaikan bukan dari cahaya hati, maka ucapan seperti itu akan sampai di telinga belaka, tidak mengendap masuk ke dalam hati.

Seseorang bertanya kepada Muhammad bin Wasi', "Mengapa ucapan muballigh, banyak yang tidak dirasakan oleh kalbu umat?" Ia menjawab, "Mungkin ucapan yang keluar hanya dari kerongkongan dan mulut, tidak keluar dari nurani serta tidak tulus."

Jika tutur kata hanya sekadar daya pikir dan imajinasi belaka, maka itu tetap menjadi susunan kata, tidak memberi makna bagi jiwa dan tidak menyentuh hati. Kalimat yang keluar adalah kalimat gersang.

"Tutur kata itu ibarat hidangan bagi pendengar. Kalian tidak mendapatkan sesuatu pun kecuali apa yang kalian makan," nasihat Ibnu Athaillah lebih lanjut.

Berkenaan dengan upaya menjadi khatib yang baik, bagaimana Rasulullah mencontohkan cara berkhutbah? Dalam kitab "Bulûghul Marâm – Min Adillatil Ahkâm" terdapat sebuah hadits ke-475 yang diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir bin Abdulllah. Jabir berkata, "Adalah Rasulullah saw. apabila berkhutbah, merah kedua matanya dan tinggi suaranya dan sangat marahnya, hingga seolah-olah ia sebagai pengancam tentara yang berseru, '(Musuh) akan mendatangi kamu pagi-pagi dan petang-petang'."

Daftar Pustaka :

  • Djamal'uddin Ahmad Al Buny, "Mutu Manikam dari Kitab Al-Hikam (karya Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim Ibnu Athaillah)", Mutiara Ilmu Surabaya, Cetakan ketiga : 2000
  • Ibnu Hajar al-'Asqalani, al-Hâfizh, "Bulûghul Marâm – Min Adillatil Ahkâm"
  • Muhammad bin Ibrahim Ibnu 'Ibad, asy-Syaikh, "Syarah al-Hikam"
  • Syaiful Ulum Nawawi, "Retorika", Makalah, 1990
  • Syaiful Ulum Nawawi, "Retorika dan Pengembangan Dakwah Islam", Makalah, September 1997